BBM NAIK LAGI??? MASALAH…BUKAN MASA DONG!
“Miss, BLT apaan sih?”, waduh, kurang piknik nih…enggak gaul sama penyiar Liputan 6, Seputar Indonesia, kebanyakan nongkrongin Super Seleb Show yang sama sekali enggak karuan itu ya?
Begini nak, BLT itu singkatan dari Bantuan Langsung Tunai, apaan tuh? Program yang diberikan oleh pemerintah untuk membantu masyarakat dalam hal ini mereka yang dikategorikan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) termasuk ke dalam keluarga miskin. Keluarga yang berpenghasilan di bawah lima ribu lima ratus rupiah setiap harinya. BLT diberlakukan sebagai bentuk subsidi lain yang dialihkan oleh pemerintah. Semacam kompensasi, apa ya bahasa gampangnya, pengganti.
Pemerintah katanya terpaksa menaikkan harga BBM karena anggaran dana APBN yang terus mengalami kenaikan karena beban subsidi BBM yang ditanggung oleh pemerintah untuk rakyat miskin. Kok rakyat yang disalahkan, ya? Jadi pada saat BBM dinaikkan, pemerintah memberikan BLT sebagai bentuk tanggung jawab terhadap mereka. Intinya sih, karena semuanya bakal naik dan mahal nih, pemerintah memberikan bantuan deh.
“Dikasih duit gitu miss?”, enggak cuma duit neng!
Pemerintah memberikan BLT dalam bentuk uang yang bisa diambil di kantor pos. Tidak boleh diwakilkan oleh siapa pun dalam pengambilannya harus orang yang bersangkutan. Ya…kalau orangnya enggak bisa jalan digendong. Dulu sih, mereka diberikan uang sebesar seratus ribu setiap bulannya, untuk jangka waktu tiga bulan. Kalau sekarang kurang tahu jumlah pastinya.
Selain uang pemerintah memberikan beras namanya raskin, singkatan dari beras miskin. Ternyata enggak cuma di dunia manusia aja yang mengenal kasta tetapi di dunia beras juga mengenal kasta. Menurut miss sih, berasnya enggak layak makan deh, warnanya kuning, baunya apek, plus suka ada kutu di dalam berasnya. Berasnya enggak dijual gratis, pemerintah memberikan harga seribu setiap kilonya, jatah setiap warga sebanyak dua puluh lima kilo, satu karung kecil. Itu pun sering ditarik pungutan.
“Miss, kalau keluarganya boros kan percuma!”.
Anakku yang imut-imut dan amit-amit. They are so wonderful. Program BLT memang sudah dikritisi, diprotes, oleh berbagai pihak karena dinilai tidak tepat guna. Selain itu para penerima BLT umumnya tidak sesuai dengan data yang dikategorikan oleh BPS, lemahnya lagi BLT hanya diperuntukkan bagi warga yang memiliki KTP daerah setempat dimana data BLT diambil.
“Maksudnya???”. Puih…
Misalkan ada keluarga yang masuk kategori miskin menurut BPS dari Tegal dia tinggal di Jakarta, dipinggiran kali Ciliwung tetapi pada saat pendataan BLT di wilayah tersebut kepala keluarganya tidak memiliki KTP daerah Ciliwung atau DKI Jakarta, berarti orang itu tidak bisa dimasukkan ke dalam keluarga penerima BLT.
“Kasihan banget dong miss!”.
Ya begitulah kenyataan yang terjadi saat ini nak di luar sana. Banyak ketidakadilan untuk mereka yang membutuhkan. Banyak kesulitan untuk mereka yang harusnya dimudahkan. Banyak pengorbanan untuk mereka yang harus diperjuangkan.
“Kok miss bisa tau?”, hehehe.
Sebagai mantan penerima BLT, eh salah, waktu masih jadi mahasiswa miss ikut di dalam penelitian tentang ini. Mendapat tugas mendata berbagai warga miskin yang tersebar di kelurahan-kelurahan seluruh wilayah Jakarta atas permintaan pemerintah provinsi DKI Jakarta. Begono. Seru deh, kepanasan keliling kampung mencari rumah warga yang sesuai dengan data dari BPS. Ooh…
Setelah itu, berbagai pendapat pun muncul. Mulai dari kenapa pemerintah tetap menaikkan harga BBM di tengah harga-harga justru sudah mencekik jauh sebelum BBM dinaikkan. Reaksi yang menyalahkan pemerintah karena memberikan izin kepada pihak swasta asing untuk ikut mengelola usaha pertambangan, terutama di sektor minyak. Mengapa pemerintah tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya saja untuk membayar berbagai hutang luar negeri. Jawabannya tidak semudah itu nak, aka nada dampak dari segala kebijakan yang telah diputuskan. Nanti kalian akan belajar tentang itu, di kelas yang lebih tinggi. Lucunya, ada juga yang hanya diam melongo dan biasanya akan kebagian pertanyaan di akhirnya. Sekedar bertanya iseng, berapa harga bensin sekarang? Enam ribu miss! Solar? Enggak tahu. Saya enggak kerja di SPBU. Hehehe…Pintar juga.
Sekilas, begitulah perbincangan kami di kelas. Saat class time, waktu yang bisa dimanfaatkan oleh guru untuk mendekatkan diri kepada anak-anak berbagi cerita apa saja di pagi hari sebelum memulai pelajaran. Hanya itu nak yang dapat aku berikan pada kalian. Generasi yang akan mewariskan hutang negara yang menumpuk dalam bentuk pinjaman lunak. Mungkin untuk membayarnya kita harus merelakan beberapa pulau dari NKRI terlepas satu demi satu. Mengancam eksistensi Indonesia sebagai bangsa. Tidak ada bedanya dengan kekayaan alam kita yang terus dijarah. Kami berharap banyak pada kalian.
Pemerintah tidak memberikan opsi apa-apa pada rakyat, bahkan mengacuhkan saran dari DPR dan MPR dalam mengambil keputusan kali ini. Harga minyak mentah dunia yang terus melambung ditambah beban subsidi dan tidak sebanding dengan APBN yang mengalami defisit menyeret rakyat ke dalam jurang kemiskinan yang semakin dalam. Menutup rapat telinga, hingga suara-suara dari luar istana pun tidak terdengar.
Jika sudah begini, lebih baik di rumah saja, daripada berkelana jika tidak terlalu penting. Pasca kenaikan BBM, angkot mogok, enggak bisa pulang, enggak ada hujan, enggak becek pula, dan harus naik ojek sampai rumah. Satu kata saja, mahal.
Rakyat dituntut lebih pintar dalam menyikapi problema hidup yang semakin menghimpit. Mungkin filosofis, hidup ini keras bagi kebanyakan rakyat Indonesia merupakan makanan sehari-hari. Biasa saja…Rakyat menjadi lebih cerdas dan kreatif mencari jalan keluar untuk menyiasati hidup, sementara pemerintah semakin terlihat sebagai pecundang yang selalu lari dari masalah.
Mungkin para pelopor kebangkitan nasional akan meratapi ini di alam lain. Mengerutkan keningnya atas segala sesuatu yang terjadi. Rona muka mereka diliputi kedukaan yang mendalam. Itu hanya pikiran gila setiap malam sebelum tidur.
Pesanku padamu nak, di akhir class time, pergilah menuntut ilmu yang tinggi di belahan dunia lain dengan semangat untuk memperbaiki keadaan ini. Kemudian kembali dengan membawa semangat perubahan sebagai pemimpin yang berjiwa muda tetapi terencana juga bijaksana. Temui aku di lain waktu di tempat yang berbeda.
Senin, 2008 Mei 26
HIDUP GURU!
MENJADI GURU YANG MERDEKA
Idealnya, guru adalah profesi yang sederajat dengan dokter maupun pengacara. Bersertifikasi, tidak dilakukan oleh sembarang orang dan mengantongi berbagai kualifikasi untuk menjadi guru dari berbagai aspek seperti pedagogik, akademik, profesional, dan kesejahteraan, yang tidak kalah penting adalah kode etik serta sikap moral yang dimiliki.
Tentunya semua dicapai bukan dengan cara yang mudah. Begitulah kesan yang saya dapat belakangan ini, bahwa menjadi guru itu mudah. Bahkan lintas jurusan itu biasa, mahasiswa dari fakultas komunikasi menjadi guru dan mahasiswa dari fakultas kejuruan bahasa menjadi wartawan. Bukan suatu kesalahan absolut. Melihat tingginya tingkat permintaan tenaga kerja yang tinggi di sektor pendidikan, lebih tepatnya di wilayah perkotaan pada sekolah-sekolah swasta bertaraf internasional.
Sayangnya, sulit sekali membawa figur guru memiliki kedudukan yang setara dengan dokter maupun pengacara. Banyak hal yang belum membantu merepresentasikan citra guru dalam tingkat seprofesional dokter dan pengacara.
Hal yang harus dibangun dari dalam secara bersama oleh para guru adalah kesadaran kolektif yang kuat. Hampir setiap guru di Indonesia mempunyai problem yang sama. Untuk itu kita harus bekerja sama. Menumbuhkan perasaan kebersamaan tersebut dalam suatu wadah organisasi yang dilakukan secara massif, sehingga memiliki kontribusi baik ke dalam maupun keluar. Dapat membela kepentingan orang banyak. Sehingga hal-hal yang berkenaan dengan profesi keguruan cukup diselesaikan ditingkat organisasi tersebut. Selain itu, organisasi ini merupakan jalur aspirasi resmi yang diakui oleh para birokrat pendidikan karena dianggap cukup mewakili. Apakah PGRI jawabannya?
Dulu, memang begitu. Sekarang, PGRI seperti mandul, sekedar mengusung sikap positif terhadap kebijakan yang ditawarkan oleh pemerintah. Manut saja. Dikelola oleh mereka yang bukan guru, para pejabat pendidikan yang kurang mumpuni ke bawah. Terkesan kurang greget dalam menghadapi berbagai persoalan yang menyangkut pendidikan terutama nasib guru. Bahkan dalam pandangan saya, itu hanya wadah bagi guru dari sekolah negeri yang berstatus PNS. Sementara guru yang berasal dari sekolah swasta tidak tersentuh, nomor dua. Nyaris dianggap sama tidak pentingnya dengan para guru honorer dan guru kontrak yang nasibnya terkatung-katung penuh perjuangan dan ketidakpastian.
Lewat FGII (Federasi Guru Independen Indonesia), ada suntikan baru. Geliat yang selama ini hilang berhasil dibangungkan kembali. Para guru mulai berserikat dengan bebas. Mampu melihat ada potensi gerakan sosial yang bisa dilakukan dengan gaya elegan dalam menyuarakan tanpa harus turun ke jalan. Membuang jauh-jauh segala rupa model pembodohan dalam diri guru, mencerahkan. Membangun jaringan-jaringan informasi dari pusat hingga di berbagai belahan daerah. Membawa iklim kejujuran dan kebersihan secara individu maupun organisasi. Menandai perubahan yang hendak dicapai. Semoga independensi ini tidak membuat organisasi ini ekslusif, anti terhadap birokrasi. Tidak menutup mata terhadap kedekatannya dengan pemerintah sebagai pemegang kunci atas berbagai kebijakan di negeri ini. Menjadi jembatan bagi kedua belah pihak secara berimbang.
Membuka jalan bagi guru untuk diikutsertakan dalam pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh para birokrat pendidikan. Seringkali pada kenyataannya mereka membuat beragam kebijakan tanpa melihat atau mendengar permasalahan yang seharusnya dapat diatasi, bukan muncul dengan mengumumkan kebijakan baru. Akibatnya, berbagai kebijakan serasa tumpang tindih dan membingungkan para pelaksana di tingkat bawah. Dalam hal ini guru sebagai pihak yang harus rela menerima segala macam bentuk keputusan dan anak didik menjadi korban selanjutnya.
Menaikkan posisi tawar guru baik di mata pemerintah maupun di mata yayasan yang mendirikan sekolah adalah angan-angan lainnya. Jika presiden SBY menyatakan BISA! Dalam pidato satu abad Hari Kebangkitan Nasional, pertanyaan saya adalah, bagaimana BISA? Jika sektor yang paling penting dalam pembangunan negara yakni pendidikan sebagai gagang penopang tombaknya tidak pernah mendapat perhatian serius, selalu diabaikan. Belum lagi para pelaku pendidikan yang seperti pesakitan, kembang kempis menghidupi dirinya. Sungguh satu kenyataan pahit yang harus dihadapi.
Salah satu indikasi keberhasilan pembangunan suatu negara adalah negara mampu menjamin kebutuhan akses pendidikan yang layak bagi setiap rakyatnya dengan biaya yang terjangkau dan semakin lama tentunya semakin murah sehingga target pendidikan gratis bukan hanya mimpi. Itulah yang sudah dilakukan China. Memberlakukan investasi pendidikan yang luar biasa, sebelum akhirnya menobatkan dirinya menjadi Naga Asia. Sukses melihat tantangan tingginya jumlah penduduk sebagai sebuah harapan dalam membangun negerinya. Hal yang sama juga tengah dilakukan oleh India. Jumlah tenaga kerja India diluar negeri, bukanlah sebagai buruh rumah tangga, tetapi sebagai tenga profesional atau wiraswastawan. Terbukti, dalam daftar orang terkaya nomor satu berasal dari India. Tidak usah menunggu, anak nelayan mungkin harus menyimpan cita-citanya untuk dapat menembus jurusan kedokteran universitas negeri di Indonesia karena sebagian besar pendapatan keluarganya digunakan sebagai modal usaha, yakni membeli BBM agar layar dapat terkembang. Semata-mata bukan karena hambatan kecerdasannya melainkan biaya yang terus meroket. Anak seorang guru, hanya bisa melihat dari jauh bagaimana ayahnya atau ibunya mengajar di sekolah yang layak, sementara dirinya cukup diajarkan oleh ayah atau ibunya di rumah karena biaya pendidikan yang kian membengkak. Kalau saja bapak presiden tahu bahwa masalah ini sudah sedemikian dahsyatnya…Apalagi yang BISA diharapkan dari bangsa ini? Kehancuran perlahan-lahan, lambat dan pasti.
Sekedar informasi, sebuah studi yang dilakukan oleh Stiglitz dalam bukunya Escape from Natural Resources, ternyata hal ini memang biasa terjadi di negara yang memiliki sumber kekayaan alam yang tinggi. Para penguasa terlalu sibuk mengelola dan menjualnya tanpa bergeming akan apa yang harus dilakukan selanjutnya jika sewaktu-waktu kekayaan alam ini habis. Umumnya ini terjadi di negara dunia ketiga yang tengah sibuk berbenah seperti Indonesia. Sementara tengoklah apa yang dilakukan oleh negara miskin sumber daya alam seperti Singapore mereka menyiapkan generasi berpendidikan tinggi yang siap tampil membangun negara. Mempelajari strategi bagaimana menjadi besar tanpa kekayaan alam yang besar, tentunya dengan ilmu pengelolaan yang matang. Melesat meninggalkan Indonesia menjadi negara dunia kedua dengan posisi yang diperhitungkan oleh berbagai negara di sekitarnya.
Kembali pada lemahnya hak-hak guru dalam berbagai undang-undang. Berbagai yayasan yang mendirikan sekolah kerap menarik persoalan guru yang berhubungan dengan ketenagakerjaan dari UU Ketenagakerjaan yang baru, yang jelas-jelas lebih menguntungkan pemilik modal. Sistem kontrak yang sangat merugikan. Padahal para guru swasta bukanlah pekerja industrial alias buruh. Guru adalah tenaga pendidik. Singkatnya, posisi para guru swasta lebih terjepit dari pada buruh, di beberapa tempat bahkan gajinya justru di bawah UMR buruh pabrik. Jangan salahkan jika menjadi guru hanya sekedar menjadi batu loncatan untuk sebagian orang terutama di kota besar. Sandaran pengalaman sementara, sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya karena penghargaan yang diterima sebagai guru tidak sesuai dengan konsekuensi yang di dapat apalagi sampai tidak sesuai dengan yang dijanjikan.
Munculnya UU No.14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen sangat diharapkan dapat membawa angin segar yang memihak pada keberadaan hak-hak guru. Karena dari berbagai masalah tentang gugatan guru kepada pihak yang bermasalah di pengadilan kerap tidak pernah membawa guru sebagai pemenangnya. Mustahil. Inilah yang diharapkan dari FGII dapat mendampingi guru sampai ke permasalahan yang menyentuh wilayah hukum.
Hak profesional secara penuh yang dimiliki oleh dokter dan pengacara tetapi tidak dimiliki oleh guru adalah hak kepercayaan. Dengan diberikan kepercayaan penuh dalam ruang kerjanya tanpa perlu pengawasan berlebih dari atasan, sekolah, orang tua maupun dari level tertinggi, pemerintah. Guru berhak memberikan model gaya belajar yang mudah untuk diterima anak, memutuskan sesuatu sesuai dengan porsinya, mengevaluasi beragam tindakan, mengoreksi kegiatannya secara berkelanjutan tanpa harus diintervensi mendalam. Dikebiri pemikirannya, apalagi diintimidasi. Inilah yang diperlukan oleh guru sebagaimana dokter dengan pasiennya dan pengacara dengan kliennya.
Ruh, motivasi, dan semangat dalam mengajar akan terpupuk seiring dengan kemampuan berkreasi dan keintiman dengan anak-anak didik. Jadi, kita tidak bisa menunggu lagi. PR ini harus diselesaikan satu per satu. Momen yang tepat untuk bangkit, memberikan kontribusi sebanyak-banyaknya kepada pemerintah atas berbagai macam wacana dalam dunia pendidikan Indonesia yang kian memprihatinkan. Menuntut diselesaikan dan diperbaiki demi menyelamatkan wajah bangsa dan demi anak negeri.
Idealnya, guru adalah profesi yang sederajat dengan dokter maupun pengacara. Bersertifikasi, tidak dilakukan oleh sembarang orang dan mengantongi berbagai kualifikasi untuk menjadi guru dari berbagai aspek seperti pedagogik, akademik, profesional, dan kesejahteraan, yang tidak kalah penting adalah kode etik serta sikap moral yang dimiliki.
Tentunya semua dicapai bukan dengan cara yang mudah. Begitulah kesan yang saya dapat belakangan ini, bahwa menjadi guru itu mudah. Bahkan lintas jurusan itu biasa, mahasiswa dari fakultas komunikasi menjadi guru dan mahasiswa dari fakultas kejuruan bahasa menjadi wartawan. Bukan suatu kesalahan absolut. Melihat tingginya tingkat permintaan tenaga kerja yang tinggi di sektor pendidikan, lebih tepatnya di wilayah perkotaan pada sekolah-sekolah swasta bertaraf internasional.
Sayangnya, sulit sekali membawa figur guru memiliki kedudukan yang setara dengan dokter maupun pengacara. Banyak hal yang belum membantu merepresentasikan citra guru dalam tingkat seprofesional dokter dan pengacara.
Hal yang harus dibangun dari dalam secara bersama oleh para guru adalah kesadaran kolektif yang kuat. Hampir setiap guru di Indonesia mempunyai problem yang sama. Untuk itu kita harus bekerja sama. Menumbuhkan perasaan kebersamaan tersebut dalam suatu wadah organisasi yang dilakukan secara massif, sehingga memiliki kontribusi baik ke dalam maupun keluar. Dapat membela kepentingan orang banyak. Sehingga hal-hal yang berkenaan dengan profesi keguruan cukup diselesaikan ditingkat organisasi tersebut. Selain itu, organisasi ini merupakan jalur aspirasi resmi yang diakui oleh para birokrat pendidikan karena dianggap cukup mewakili. Apakah PGRI jawabannya?
Dulu, memang begitu. Sekarang, PGRI seperti mandul, sekedar mengusung sikap positif terhadap kebijakan yang ditawarkan oleh pemerintah. Manut saja. Dikelola oleh mereka yang bukan guru, para pejabat pendidikan yang kurang mumpuni ke bawah. Terkesan kurang greget dalam menghadapi berbagai persoalan yang menyangkut pendidikan terutama nasib guru. Bahkan dalam pandangan saya, itu hanya wadah bagi guru dari sekolah negeri yang berstatus PNS. Sementara guru yang berasal dari sekolah swasta tidak tersentuh, nomor dua. Nyaris dianggap sama tidak pentingnya dengan para guru honorer dan guru kontrak yang nasibnya terkatung-katung penuh perjuangan dan ketidakpastian.
Lewat FGII (Federasi Guru Independen Indonesia), ada suntikan baru. Geliat yang selama ini hilang berhasil dibangungkan kembali. Para guru mulai berserikat dengan bebas. Mampu melihat ada potensi gerakan sosial yang bisa dilakukan dengan gaya elegan dalam menyuarakan tanpa harus turun ke jalan. Membuang jauh-jauh segala rupa model pembodohan dalam diri guru, mencerahkan. Membangun jaringan-jaringan informasi dari pusat hingga di berbagai belahan daerah. Membawa iklim kejujuran dan kebersihan secara individu maupun organisasi. Menandai perubahan yang hendak dicapai. Semoga independensi ini tidak membuat organisasi ini ekslusif, anti terhadap birokrasi. Tidak menutup mata terhadap kedekatannya dengan pemerintah sebagai pemegang kunci atas berbagai kebijakan di negeri ini. Menjadi jembatan bagi kedua belah pihak secara berimbang.
Membuka jalan bagi guru untuk diikutsertakan dalam pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh para birokrat pendidikan. Seringkali pada kenyataannya mereka membuat beragam kebijakan tanpa melihat atau mendengar permasalahan yang seharusnya dapat diatasi, bukan muncul dengan mengumumkan kebijakan baru. Akibatnya, berbagai kebijakan serasa tumpang tindih dan membingungkan para pelaksana di tingkat bawah. Dalam hal ini guru sebagai pihak yang harus rela menerima segala macam bentuk keputusan dan anak didik menjadi korban selanjutnya.
Menaikkan posisi tawar guru baik di mata pemerintah maupun di mata yayasan yang mendirikan sekolah adalah angan-angan lainnya. Jika presiden SBY menyatakan BISA! Dalam pidato satu abad Hari Kebangkitan Nasional, pertanyaan saya adalah, bagaimana BISA? Jika sektor yang paling penting dalam pembangunan negara yakni pendidikan sebagai gagang penopang tombaknya tidak pernah mendapat perhatian serius, selalu diabaikan. Belum lagi para pelaku pendidikan yang seperti pesakitan, kembang kempis menghidupi dirinya. Sungguh satu kenyataan pahit yang harus dihadapi.
Salah satu indikasi keberhasilan pembangunan suatu negara adalah negara mampu menjamin kebutuhan akses pendidikan yang layak bagi setiap rakyatnya dengan biaya yang terjangkau dan semakin lama tentunya semakin murah sehingga target pendidikan gratis bukan hanya mimpi. Itulah yang sudah dilakukan China. Memberlakukan investasi pendidikan yang luar biasa, sebelum akhirnya menobatkan dirinya menjadi Naga Asia. Sukses melihat tantangan tingginya jumlah penduduk sebagai sebuah harapan dalam membangun negerinya. Hal yang sama juga tengah dilakukan oleh India. Jumlah tenaga kerja India diluar negeri, bukanlah sebagai buruh rumah tangga, tetapi sebagai tenga profesional atau wiraswastawan. Terbukti, dalam daftar orang terkaya nomor satu berasal dari India. Tidak usah menunggu, anak nelayan mungkin harus menyimpan cita-citanya untuk dapat menembus jurusan kedokteran universitas negeri di Indonesia karena sebagian besar pendapatan keluarganya digunakan sebagai modal usaha, yakni membeli BBM agar layar dapat terkembang. Semata-mata bukan karena hambatan kecerdasannya melainkan biaya yang terus meroket. Anak seorang guru, hanya bisa melihat dari jauh bagaimana ayahnya atau ibunya mengajar di sekolah yang layak, sementara dirinya cukup diajarkan oleh ayah atau ibunya di rumah karena biaya pendidikan yang kian membengkak. Kalau saja bapak presiden tahu bahwa masalah ini sudah sedemikian dahsyatnya…Apalagi yang BISA diharapkan dari bangsa ini? Kehancuran perlahan-lahan, lambat dan pasti.
Sekedar informasi, sebuah studi yang dilakukan oleh Stiglitz dalam bukunya Escape from Natural Resources, ternyata hal ini memang biasa terjadi di negara yang memiliki sumber kekayaan alam yang tinggi. Para penguasa terlalu sibuk mengelola dan menjualnya tanpa bergeming akan apa yang harus dilakukan selanjutnya jika sewaktu-waktu kekayaan alam ini habis. Umumnya ini terjadi di negara dunia ketiga yang tengah sibuk berbenah seperti Indonesia. Sementara tengoklah apa yang dilakukan oleh negara miskin sumber daya alam seperti Singapore mereka menyiapkan generasi berpendidikan tinggi yang siap tampil membangun negara. Mempelajari strategi bagaimana menjadi besar tanpa kekayaan alam yang besar, tentunya dengan ilmu pengelolaan yang matang. Melesat meninggalkan Indonesia menjadi negara dunia kedua dengan posisi yang diperhitungkan oleh berbagai negara di sekitarnya.
Kembali pada lemahnya hak-hak guru dalam berbagai undang-undang. Berbagai yayasan yang mendirikan sekolah kerap menarik persoalan guru yang berhubungan dengan ketenagakerjaan dari UU Ketenagakerjaan yang baru, yang jelas-jelas lebih menguntungkan pemilik modal. Sistem kontrak yang sangat merugikan. Padahal para guru swasta bukanlah pekerja industrial alias buruh. Guru adalah tenaga pendidik. Singkatnya, posisi para guru swasta lebih terjepit dari pada buruh, di beberapa tempat bahkan gajinya justru di bawah UMR buruh pabrik. Jangan salahkan jika menjadi guru hanya sekedar menjadi batu loncatan untuk sebagian orang terutama di kota besar. Sandaran pengalaman sementara, sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya karena penghargaan yang diterima sebagai guru tidak sesuai dengan konsekuensi yang di dapat apalagi sampai tidak sesuai dengan yang dijanjikan.
Munculnya UU No.14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen sangat diharapkan dapat membawa angin segar yang memihak pada keberadaan hak-hak guru. Karena dari berbagai masalah tentang gugatan guru kepada pihak yang bermasalah di pengadilan kerap tidak pernah membawa guru sebagai pemenangnya. Mustahil. Inilah yang diharapkan dari FGII dapat mendampingi guru sampai ke permasalahan yang menyentuh wilayah hukum.
Hak profesional secara penuh yang dimiliki oleh dokter dan pengacara tetapi tidak dimiliki oleh guru adalah hak kepercayaan. Dengan diberikan kepercayaan penuh dalam ruang kerjanya tanpa perlu pengawasan berlebih dari atasan, sekolah, orang tua maupun dari level tertinggi, pemerintah. Guru berhak memberikan model gaya belajar yang mudah untuk diterima anak, memutuskan sesuatu sesuai dengan porsinya, mengevaluasi beragam tindakan, mengoreksi kegiatannya secara berkelanjutan tanpa harus diintervensi mendalam. Dikebiri pemikirannya, apalagi diintimidasi. Inilah yang diperlukan oleh guru sebagaimana dokter dengan pasiennya dan pengacara dengan kliennya.
Ruh, motivasi, dan semangat dalam mengajar akan terpupuk seiring dengan kemampuan berkreasi dan keintiman dengan anak-anak didik. Jadi, kita tidak bisa menunggu lagi. PR ini harus diselesaikan satu per satu. Momen yang tepat untuk bangkit, memberikan kontribusi sebanyak-banyaknya kepada pemerintah atas berbagai macam wacana dalam dunia pendidikan Indonesia yang kian memprihatinkan. Menuntut diselesaikan dan diperbaiki demi menyelamatkan wajah bangsa dan demi anak negeri.
Senin, 2008 Mei 12
HEHEHE
PSIKOTEST ISENG SURISENG
1. Pertama-tama tulis angka 1 sampai sebelas dikertas anda secara vertikal (atas ke bawah)
2. Tulis angka yang paling kamu senang (antara1-11) disebelah angka No.1 dan 2
3. Tulis 2 nama orang (lawan jenis) yang kamu kenal, masing-masing di No.3 dan No.7
4. Tulis 3 nama orang yang kamu kenal di No.4, 5,6. Disini kamu boleh menulis nama orang di
keluarga, teman, kenalan. Siapapun OK. Cuma harus yang kamu kenal
5. Di no.8, 9, 10 dan 11 kamu tulis nama judul lagu yang berbeda-beda
NAH......... dibawah ini ada jawaban dari psikotestnya mudah-mudahan cocok jawabannya.
1. Anda harus memberitahu ke orang yang anda tulis di No. 7 tentang psikotest ini.
2. Orang yang anda tulis di No.3 adalah orang yang kamu cintai.
3. Orang yang anda tulis di No.7 adalah orang yang kamu suka, tetapi bertepuk sebelah tangan.
4. Orang yang anda tulis di No.4 adalah orang yang anda rasa paling penting bagi anda.
5. Orang yang anda tulis di No.5 adalah orang yang paling mengerti tentang anda.
6. Orang yang anda tulis di No. 6 adalah orang yang membawa keberuntungan pada anda.
7. Lagu yang anda tulis di no. 8 adalah lagu yang ditujukan untuk orang No.3
8. Lagu yang anda tulis di no.9 adalah lagu yang ditujukan untuk orangNo.7
9. Lagu yang anda tulis di no.10 adalah lagu yang melukiskan apa yang ada di hati anda.
10. Terakhir, lagu yang anda tulis di No.11 adalah lagu yang melukiskan hidup anda.
BAGAIMANA APAKAH CUKUP JITU ??????
Adakala anda meminta nasehat mengenai cinta,
Adakala juga anda berbagi sepatah dua patah cinta kepada yang membutuhkan.
1. Pertama-tama tulis angka 1 sampai sebelas dikertas anda secara vertikal (atas ke bawah)
2. Tulis angka yang paling kamu senang (antara1-11) disebelah angka No.1 dan 2
3. Tulis 2 nama orang (lawan jenis) yang kamu kenal, masing-masing di No.3 dan No.7
4. Tulis 3 nama orang yang kamu kenal di No.4, 5,6. Disini kamu boleh menulis nama orang di
keluarga, teman, kenalan. Siapapun OK. Cuma harus yang kamu kenal
5. Di no.8, 9, 10 dan 11 kamu tulis nama judul lagu yang berbeda-beda
NAH......... dibawah ini ada jawaban dari psikotestnya mudah-mudahan cocok jawabannya.
1. Anda harus memberitahu ke orang yang anda tulis di No. 7 tentang psikotest ini.
2. Orang yang anda tulis di No.3 adalah orang yang kamu cintai.
3. Orang yang anda tulis di No.7 adalah orang yang kamu suka, tetapi bertepuk sebelah tangan.
4. Orang yang anda tulis di No.4 adalah orang yang anda rasa paling penting bagi anda.
5. Orang yang anda tulis di No.5 adalah orang yang paling mengerti tentang anda.
6. Orang yang anda tulis di No. 6 adalah orang yang membawa keberuntungan pada anda.
7. Lagu yang anda tulis di no. 8 adalah lagu yang ditujukan untuk orang No.3
8. Lagu yang anda tulis di no.9 adalah lagu yang ditujukan untuk orangNo.7
9. Lagu yang anda tulis di no.10 adalah lagu yang melukiskan apa yang ada di hati anda.
10. Terakhir, lagu yang anda tulis di No.11 adalah lagu yang melukiskan hidup anda.
BAGAIMANA APAKAH CUKUP JITU ??????
Adakala anda meminta nasehat mengenai cinta,
Adakala juga anda berbagi sepatah dua patah cinta kepada yang membutuhkan.
MMH...
DARI SEMINAR TIKA BISONO
CHILDREN ARE LIKE RAINBOWS
OUR LOVE SHOULD PAINT IT WITH SOUL
SO, THEY CAN LEAD THE WAY AND POSSES A SENSE OF PRIDE
CHILDREN ARE LIKE RAINBOWS
OUR LOVE SHOULD PAINT IT WITH SOUL
SO, THEY CAN LEAD THE WAY AND POSSES A SENSE OF PRIDE
DARI IMEL TETANGGA
3 HARI
Sebenarnya, kita hanya punya 3 hari saja...
Yang pertama :Hari kemarin. Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan; dan mengulangi kegembiraan yanganda rasakan kemarin.Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja...
Yang kedua :Hari esok. Hingga mentari esok hari terbit, Anda tak tahu apa yang akanterjadi.Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari.Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.Esok hari belum tiba; biarkan saja...
Yang tersisa kini hanyalah hari ini ...Pintu masa lalu telah tertutup; pintu masa depan pun belum tiba.Pusatkan saja diri anda untuk hari ini.Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila anda mampu memaafkanhari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit. Hiduplah apa adanya.Karena yang ada hanyalah hari ini; hari ini yang abadi.Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada anda.Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudahberganti.Ingatlah bahwa anda menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karenasiapa mereka, tetapi karena siapakah diri anda sendiri.
Jadi teman, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga!!!
The day will come when you will review your life and be thankful for everyminute of it.Every hurt,every sorrow, every joy, every celebration, every moment ofyourlife will be a treasure to you......
Sebenarnya, kita hanya punya 3 hari saja...
Yang pertama :Hari kemarin. Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan; dan mengulangi kegembiraan yanganda rasakan kemarin.Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja...
Yang kedua :Hari esok. Hingga mentari esok hari terbit, Anda tak tahu apa yang akanterjadi.Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari.Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.Esok hari belum tiba; biarkan saja...
Yang tersisa kini hanyalah hari ini ...Pintu masa lalu telah tertutup; pintu masa depan pun belum tiba.Pusatkan saja diri anda untuk hari ini.Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila anda mampu memaafkanhari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit. Hiduplah apa adanya.Karena yang ada hanyalah hari ini; hari ini yang abadi.Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada anda.Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudahberganti.Ingatlah bahwa anda menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karenasiapa mereka, tetapi karena siapakah diri anda sendiri.
Jadi teman, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga!!!
The day will come when you will review your life and be thankful for everyminute of it.Every hurt,every sorrow, every joy, every celebration, every moment ofyourlife will be a treasure to you......
Jumat, 2008 Mei 09
LAGI GAK PENGEN
TEBAK-TEBAK BUAH MANGGIS
“Nun, aku bisa merasakan sesuatu saat dia menatapmu. Ada pancaran yang lain di sana”.
Begitu kata seorang teman di suatu malam yang cerah, malam yang berbeda dari malam-malam sebelumnya yang diderai hujan.Gue cuma bilang dalam hati, lucu juga nih orang, sok tau gitu. Hahaha.
“Oh ya? Kok aku enggak merasakannya ya? Waktu kapan? Momennya deh!”, jawab gue sekenanya.
“Aku enggak bisa menjelaskannya ke kau. Tapi, itu hal yang sama yang aku lihat pada saat Ben menatap Jane di Yogya (bukan nama sebenarnya, nama aslinya Poniman dan Tukiroh asli Indonesia bangettt), waktu kita menawar andong dan mau pergi ke alun-alun selatan”. Jelas mbakyu yang satu ini.
Secara dia lebih tua dari gue, jadi percaya aja kali ya…takut durhaka. Meskipun masih mikir…masa? Just for your info, Ben dan Jane itu karakter orangnya bukan fiksi dan cerita cinta mereka berdua juga bukan rekaan, asli ada.
“Kau enggak tertarik dengannya?”, sambungnya lagi. Gue pikir dia udah lupa sama topiknya.
“Kita berbeda sekali dan rasanya kita udah imun satu sama lain”, emang benar kok, enggak berniat lebih.
“Bagaimana jika ternyata perkiraanku benar?”, heh?
“Sudah cukup tegas dan jelas bahwa kami berteman,” enggak tahu mau jawab apa lagi.
“Bagaimana jika ia tidak tertarik secara fisik, tetapi pada yang lainnya?”, huahaha…orang ini masih penasaran.
Jawaban gue selalu akan tetap sama dan akan selalu singkat. Lain halnya jika gue benar-benar menyukai seseorang pasti gue akan simpan semua memori tentang orang itu di otak gue dan gue akan mencari tahu tentangya. Hanya membutuhkan sedikit keahlian dan ketrampilan tangan serta waktu luang maka informasi apa pun dapat ditemukan di dalam internet dalam waktu sekejap. Kayaknya sering ya? Udah cum laude sama urusan yang begituan…Kikikik. But not with this guy.
“Enakan kayak sekarang aja deh. Lagi pengen enggak mikirin itu dulu setelah peristiwa yang kemarin”, intinya enggak akan dicoba.
“Kenapa sih kalian enggak coba dulu?”, halah tambah panjang. Tiba-tiba si mabkyu melanjutkan…
“Sama yang kemarin nangis enggak?”, gimana ya?
“Enggak, malah ketawa. Udah janji soalnya enggak mau nangis. Udah kemarin-kemarin nangisnya. Jadi udah malas dan udah diikhlasin aja.”
“Wah, enggak normal itu namanya. Harusnya kau nangis, biar luapan emosimu keluar. Jangan ditahan. Enggak bagus tuh”, si mbakyu menasihati.
“Sedih sama keluar air mata dikit. Hehehe. Soalnya aku udah tahu endingnya bakal sama kayak yang kemarin-kemarin. Aku udah cerita soal aku dapat mimpi?“, belum kayaknya.
“Mimpi apa?”.
“Pokoknya sebelum aku menanyakan hal itu kepada dia, aku diberikan mimpi karena aku memintanya. Ya Allah, tolong berikan aku pertanda apakah orang ini untukku.atau bukan. Terserah Allah mau kasih petunjuknya dalam bentuk apa. Ternyata lewat mimpi”, sekarang giliran si mbakyu yang penasaran.
“Aku dan dia berjalan dari arah yang berbeda, begitu kami berdekatan dan berpapasan lalu aku menyapanya, dia sama sekali enggak jawab. Gitu. Ada dua sebenarnya, mimpi yang satu lebih jelas lagi. Sutralah, yang penting udah selesai. Udah direlakan”, yeah…
Prediksi yang lucu dari si mbakyu. Udah gak trendi lagi kalu mesti pakai acara gede rasa dan kepedean, itu praktis dan otomatis musnah dalam waktu singkat. Cukuplah dua kali dengan orang yang sama dan pengalaman yang sama merasakan keyakinan yang membabi buta dan larut dalam sebuah rasa. Jangan lagi kali ya…Kalaupun balik lagi, mesti jelas aja.
Lantas mbakyu berpesan pada gue untuk enggak menceritakan ini ke orang yang bersangkutan. Padahal gue pengen banget kasih tahu ke orang yang bersangkutan. Dia pasti akan cewawakan. Jika hubungannya lantas meregang seperti yang kemarin? Gue rasa enggak. Kita udah sepakat, apa pun yang orang lain lihat, tanya, dan mencoba menebak tentang kita, pembuktiannya akan tetap sama, tidak lebih dari pertemanan biasa. Apa perlu konfrensi pers nih?
“Nun, aku bisa merasakan sesuatu saat dia menatapmu. Ada pancaran yang lain di sana”.
Begitu kata seorang teman di suatu malam yang cerah, malam yang berbeda dari malam-malam sebelumnya yang diderai hujan.Gue cuma bilang dalam hati, lucu juga nih orang, sok tau gitu. Hahaha.
“Oh ya? Kok aku enggak merasakannya ya? Waktu kapan? Momennya deh!”, jawab gue sekenanya.
“Aku enggak bisa menjelaskannya ke kau. Tapi, itu hal yang sama yang aku lihat pada saat Ben menatap Jane di Yogya (bukan nama sebenarnya, nama aslinya Poniman dan Tukiroh asli Indonesia bangettt), waktu kita menawar andong dan mau pergi ke alun-alun selatan”. Jelas mbakyu yang satu ini.
Secara dia lebih tua dari gue, jadi percaya aja kali ya…takut durhaka. Meskipun masih mikir…masa? Just for your info, Ben dan Jane itu karakter orangnya bukan fiksi dan cerita cinta mereka berdua juga bukan rekaan, asli ada.
“Kau enggak tertarik dengannya?”, sambungnya lagi. Gue pikir dia udah lupa sama topiknya.
“Kita berbeda sekali dan rasanya kita udah imun satu sama lain”, emang benar kok, enggak berniat lebih.
“Bagaimana jika ternyata perkiraanku benar?”, heh?
“Sudah cukup tegas dan jelas bahwa kami berteman,” enggak tahu mau jawab apa lagi.
“Bagaimana jika ia tidak tertarik secara fisik, tetapi pada yang lainnya?”, huahaha…orang ini masih penasaran.
Jawaban gue selalu akan tetap sama dan akan selalu singkat. Lain halnya jika gue benar-benar menyukai seseorang pasti gue akan simpan semua memori tentang orang itu di otak gue dan gue akan mencari tahu tentangya. Hanya membutuhkan sedikit keahlian dan ketrampilan tangan serta waktu luang maka informasi apa pun dapat ditemukan di dalam internet dalam waktu sekejap. Kayaknya sering ya? Udah cum laude sama urusan yang begituan…Kikikik. But not with this guy.
“Enakan kayak sekarang aja deh. Lagi pengen enggak mikirin itu dulu setelah peristiwa yang kemarin”, intinya enggak akan dicoba.
“Kenapa sih kalian enggak coba dulu?”, halah tambah panjang. Tiba-tiba si mabkyu melanjutkan…
“Sama yang kemarin nangis enggak?”, gimana ya?
“Enggak, malah ketawa. Udah janji soalnya enggak mau nangis. Udah kemarin-kemarin nangisnya. Jadi udah malas dan udah diikhlasin aja.”
“Wah, enggak normal itu namanya. Harusnya kau nangis, biar luapan emosimu keluar. Jangan ditahan. Enggak bagus tuh”, si mbakyu menasihati.
“Sedih sama keluar air mata dikit. Hehehe. Soalnya aku udah tahu endingnya bakal sama kayak yang kemarin-kemarin. Aku udah cerita soal aku dapat mimpi?“, belum kayaknya.
“Mimpi apa?”.
“Pokoknya sebelum aku menanyakan hal itu kepada dia, aku diberikan mimpi karena aku memintanya. Ya Allah, tolong berikan aku pertanda apakah orang ini untukku.atau bukan. Terserah Allah mau kasih petunjuknya dalam bentuk apa. Ternyata lewat mimpi”, sekarang giliran si mbakyu yang penasaran.
“Aku dan dia berjalan dari arah yang berbeda, begitu kami berdekatan dan berpapasan lalu aku menyapanya, dia sama sekali enggak jawab. Gitu. Ada dua sebenarnya, mimpi yang satu lebih jelas lagi. Sutralah, yang penting udah selesai. Udah direlakan”, yeah…
Prediksi yang lucu dari si mbakyu. Udah gak trendi lagi kalu mesti pakai acara gede rasa dan kepedean, itu praktis dan otomatis musnah dalam waktu singkat. Cukuplah dua kali dengan orang yang sama dan pengalaman yang sama merasakan keyakinan yang membabi buta dan larut dalam sebuah rasa. Jangan lagi kali ya…Kalaupun balik lagi, mesti jelas aja.
Lantas mbakyu berpesan pada gue untuk enggak menceritakan ini ke orang yang bersangkutan. Padahal gue pengen banget kasih tahu ke orang yang bersangkutan. Dia pasti akan cewawakan. Jika hubungannya lantas meregang seperti yang kemarin? Gue rasa enggak. Kita udah sepakat, apa pun yang orang lain lihat, tanya, dan mencoba menebak tentang kita, pembuktiannya akan tetap sama, tidak lebih dari pertemanan biasa. Apa perlu konfrensi pers nih?
CAN DAKOCAN, KESEREMPET DELMAN...
PANGGUNG UNTUK ANAK-ANAK
Gue rindu masa itu. Bernyanyi lagu anak-anak yang juga didendangkan oleh anak-anak dengan gaya anak-anak setiap jam 09.00 pagi di TVRI, disusul Album Minggu Kita, Ria Jenaka, lanjut ke Berita Olahraga. Huhuhu…
Si Lumba-lumba, bermain api…Bondan Prakoso. Helo, long time no see!
Abang tukang bakso, mari-mari sini! Melissa. Hi, are you still alive? Hope so!
Di rumahku banyak nyamuk, gara-gara aku malas bersih-bersih. Eno Lerian yang udah jadi ibu-ibu.
Kutakut mamaku marah, kalau terlambat sekolah. Trio Kwek-Kwek yang udah enggak lucu lagi.
Kring-kring…goes-goes…Gue lupa siapa yang nyanyi pokoknya gue benci sama lagu itu karena gue enggak bisa naik sepeda.
Si jago mogok namanya kuberikan…Puput Melati. Ibu-ibu juga…gue sarankan ke lo untuk jadi ketua arisan mantan penyanyi cilik cewek bareng Eno Lerian. Kikikik.
Batman, engkau jagoanku. Batman, engkau idolaku. Hehehe.
Kemudian lahirlah Agnes Monica bersama Eza Yayang, Meisy yang centilnya minta di bom, Chikita Meidy, Joshua, Cichio, Boboho, Cendy Cenora, Tina Toon, Sherina, Tasya, yang bermutu festival diwakili Albert Denias dan Samuel. Masing-masing dengan daya pikatnya sendiri.
Maaf Papa T.Bob, apakah hasratmu untuk menciptakan lagu anak-anak dan mengorbitkan para penyanyi cilik kini terkubur dan musnah? Let me help you. Para pencari bakat, apakah kalian melihat bahwa saat ini banyak anak-anak yang masa kecilnya tercerabut dengan membiarkan mereka menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang kita sering melihatnya sebagai kelucuan biasa.
Bapak AT. Mahmud yang budiman, tolong kami untuk mengembalikan keceriaan kami di masa lalu. Bisakah engkau perlihatkan taringmu kembali?Tidak ada ruang bagi anak-anak untuk berkreasi saat ini di televisi. Kalau pun ada, anak-anak itu lebih memilih untuk berlagak dan didandani selayaknya orang dewasa. Memainkan peran menangis tersedu-sedu atau disiksa memperagakan Ari Anggara dengan ibu tirinya.
Om Elfa Secioria, andai kau bisa mencium bakat-bakat baru atau mungkin sedang tumbuh di sekolah vokal Pranajaya? Mbak Bertha, bisakah kau temukan untuk kami. Mas Indra Lesmana, bolehkah ajang kompetisinya di rubah menjadi Young Indonesian Idol?
Di setiap perempatan jalan di Jakarta ada bibit-bibit potensial yang terus dikesampingkan. Ada petarung di sana, banyak pekerja rajin, bocah bersuara emas, tapi tidak beruntung. Pada akhirnya sama-sama meneriakkan sejumlah masalah orang dewasa dengan tema perselingkuhan yang sedang populer ditandai oleh pacar gelap. Tuhan, itu belum waktunya!
Kegemasan ini, kecemasan ini, kerinduan ini akan datangnya anak-anak kecil yang mampu berdiri kembali di atas panggung, berlenggak-lenggok jenaka dan lugu. Salah atau benar tidak pernah malu. Menyuarakan hal-hal yang tidak penting bagi orang dewasa tetapi kita ingin tetap menontonnya dengan perasaan bahagia akan kenangan dan titipan masa depan.
Sungguh aku rindu… bernyanyi bersama teman-temanku di depan televisi mengikuti gaya Bondan Prakoso, Melissa, Eno Lerian, atau Puput Melati. Setelah itu kita berhamburan ke lapangan dan bermain getok lele, galasin, kasti, karet, kelereng, atau layang-layang sambil ditemani es mambo, permen cicak, coklat ayam jago atau wafer Superman.
Indahnya masa kecil yang abadi…
Gue rindu masa itu. Bernyanyi lagu anak-anak yang juga didendangkan oleh anak-anak dengan gaya anak-anak setiap jam 09.00 pagi di TVRI, disusul Album Minggu Kita, Ria Jenaka, lanjut ke Berita Olahraga. Huhuhu…
Si Lumba-lumba, bermain api…Bondan Prakoso. Helo, long time no see!
Abang tukang bakso, mari-mari sini! Melissa. Hi, are you still alive? Hope so!
Di rumahku banyak nyamuk, gara-gara aku malas bersih-bersih. Eno Lerian yang udah jadi ibu-ibu.
Kutakut mamaku marah, kalau terlambat sekolah. Trio Kwek-Kwek yang udah enggak lucu lagi.
Kring-kring…goes-goes…Gue lupa siapa yang nyanyi pokoknya gue benci sama lagu itu karena gue enggak bisa naik sepeda.
Si jago mogok namanya kuberikan…Puput Melati. Ibu-ibu juga…gue sarankan ke lo untuk jadi ketua arisan mantan penyanyi cilik cewek bareng Eno Lerian. Kikikik.
Batman, engkau jagoanku. Batman, engkau idolaku. Hehehe.
Kemudian lahirlah Agnes Monica bersama Eza Yayang, Meisy yang centilnya minta di bom, Chikita Meidy, Joshua, Cichio, Boboho, Cendy Cenora, Tina Toon, Sherina, Tasya, yang bermutu festival diwakili Albert Denias dan Samuel. Masing-masing dengan daya pikatnya sendiri.
Maaf Papa T.Bob, apakah hasratmu untuk menciptakan lagu anak-anak dan mengorbitkan para penyanyi cilik kini terkubur dan musnah? Let me help you. Para pencari bakat, apakah kalian melihat bahwa saat ini banyak anak-anak yang masa kecilnya tercerabut dengan membiarkan mereka menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang kita sering melihatnya sebagai kelucuan biasa.
Bapak AT. Mahmud yang budiman, tolong kami untuk mengembalikan keceriaan kami di masa lalu. Bisakah engkau perlihatkan taringmu kembali?Tidak ada ruang bagi anak-anak untuk berkreasi saat ini di televisi. Kalau pun ada, anak-anak itu lebih memilih untuk berlagak dan didandani selayaknya orang dewasa. Memainkan peran menangis tersedu-sedu atau disiksa memperagakan Ari Anggara dengan ibu tirinya.
Om Elfa Secioria, andai kau bisa mencium bakat-bakat baru atau mungkin sedang tumbuh di sekolah vokal Pranajaya? Mbak Bertha, bisakah kau temukan untuk kami. Mas Indra Lesmana, bolehkah ajang kompetisinya di rubah menjadi Young Indonesian Idol?
Di setiap perempatan jalan di Jakarta ada bibit-bibit potensial yang terus dikesampingkan. Ada petarung di sana, banyak pekerja rajin, bocah bersuara emas, tapi tidak beruntung. Pada akhirnya sama-sama meneriakkan sejumlah masalah orang dewasa dengan tema perselingkuhan yang sedang populer ditandai oleh pacar gelap. Tuhan, itu belum waktunya!
Kegemasan ini, kecemasan ini, kerinduan ini akan datangnya anak-anak kecil yang mampu berdiri kembali di atas panggung, berlenggak-lenggok jenaka dan lugu. Salah atau benar tidak pernah malu. Menyuarakan hal-hal yang tidak penting bagi orang dewasa tetapi kita ingin tetap menontonnya dengan perasaan bahagia akan kenangan dan titipan masa depan.
Sungguh aku rindu… bernyanyi bersama teman-temanku di depan televisi mengikuti gaya Bondan Prakoso, Melissa, Eno Lerian, atau Puput Melati. Setelah itu kita berhamburan ke lapangan dan bermain getok lele, galasin, kasti, karet, kelereng, atau layang-layang sambil ditemani es mambo, permen cicak, coklat ayam jago atau wafer Superman.
Indahnya masa kecil yang abadi…
Langgan:
Entri (Atom)