Jumat, 09 Mei 2008

DITUNGGU: MARYAMAH KARPOV

ANDREA HIRATA LOVERS

Teman-teman cewek gue lagi pada keranjingan tetralogi buku Laskar Pelangi yang ditulis sama mas-mas gondrong, keriting, bertubuh gempal dari Pulau Belitong tapi udah sampai benua lain. Sekarang mereka sedang termehe-mehe, apa istilah kerennya ya? Terpukau bangets. Serta merta pula enggak sabar menunggu kehadiran siapa Maryamah Karpov dan bagaimana cara si mas-mas itu menuntaskan perjalanannya di buku terakhirnya.


Saat buku itu terbit, enggak banyak orang yang tahu kalau buku itu bagus. Baru belakangan ini aja orang sadar akan kisahnya yang sangat inspiratif. Buku yang mencoba menjawab: ketika kami kekurangan dan tidak diperhatikan, bukan lantas kami marah, tapi kami berbuat dan berusaha serta menepis semua anggapan bahwa menjadi pemimpi itu bukan tidak berguna. Bermimpilah untuk sampai ke langit yang tinggi, dan kami buat itu menjadi kenyataan, dengan segala keterbatasan kami dengan semangat kami, dengan kelebihan yang kami sadari. Itulah yang menjadi kekuatan kami. Kalau gue enggak lagi sok tau kayaknya gitu deh kira-kira maksudnya. Benar enggak Ndre?

Hirata menjawab satu masalah dan kebiasaan orang Indonesia yang buruk atas penafsiran mimpi. Maksudnya? Ya sinetron itu! Selalu menyuguhkan solusi stagnan. Mimpi sinetron. Hanya berusaha merebut hati pria ganteng dan mengutarakan cintanya pada perempuan cantik. Bahkan melulu terjebak pada situasi perpindahan jenjang stratifikasi sosial ekonomi tokohnya, dari PRT lantas jatuh hati dengan anak majikannya dibumbui pengorbanan dan perjuangan yang katanya atas nama cinta. Pemulung yang serta merta dalam beberapa episode berubah membawa mobil Jaguar. Hahaha. Mirip panggung komedi yang sama sekali enggak lucu. Memprihatinkan.

Anehnya lagi ada stasiun TV yang katanya No.1 menurut rating Nielsen tapi acaranya sama sekali enggak terkonsep dan gajebo (enggak jelas bo!). Waktu gue libur, gue coba pantengin tuh stasiun TV, amit-amit…isinya enggak mutu banget. Pagi, sinetron yang di dubbing yang ceritanya enggak jelas di campur-campur antara mistik, ala Bollywood sama pukul-pukulan. Siang, ya itu juga…artisnya maksa semua. Emang ada yang suka? Au ah. Malam ya sami mawon.
Lebih parahnya lagi tiap malam ada acara artis-artis nyanyi enggak jelas dari maghrib sampai hampir tengah malam. Gerah banget jack! Kalau stasiun TV No.1 kayak begono, lo bayangin dong yang No.5 kayak apa? Eniwei, gue juga enggak terlalu percaya sama tuh media riset plus hasil risetnya.

Kembali ke Bapak yang satu itu, dia kaya sekali akan pengalaman hidup ya bo! Teman-temannya itu loh, unik dan sangat berprestasi. Semuanya memiliki kecerdasan masing-masing yang sensasional untuk ukuran orang yang hidupnya minim akses. Tekad yang kuat pada akhirnya mampu untuk melenyapkan segala kepesimisan tentang hari selanjutnya, karena keyakinan. Padahal Hirata ini juga pemimpi. Entah kenapa, menurut gue pribadi dia pemimpi yang sehat juga hebat. Karena kerja keras dan perjuangan, selebihnya biarkan keberuntungan yang bermain. Bukan tebak-tebak buah manggis dan tujuan akhirnya selalu ukuran materi.

Buku itu juga menyuguhkan kegetiran setiap orang akan rupa pendidikan di Indonesia yang melulu melihat anak dengan angka-angka yang manis dan bertinta hitam. Potret-potret pahlawan yang raib belakangan ini, ternyata tumbuh diantara pulau di tengah luasnya lautan, diantara lahan tambang yang mulai terkuras, dan rimba yang lebat. Mereka tenggelam dalam hiruk pikuk dunia yang lain, yang jarang menganggap mereka sebagai bagian yang penting dan layak diberikan sesuatu sebagai motivator nomor satu bagi bangsa ini. Wuih sadis ya kalimat gue…Maklum biasa…lagi kesambet.

Dari ketiga bukunya gue paling suka Laskar Pelangi, enggak tahu kenapa. Mungkin karena berhubungan dengan profesi gue, jadi gue merasa kena banget aja. Menambah jumlah daftar ketidaksempurnaan gue sebagai guru sekaligus melihat anak-anak gue dengan cara yang baru, dan baru. Kalau boleh jujur, gue bukan orang yang setia dengan Diknas. Gue lebih suka melihat perkembangan anak gue yang semakin gede dari kurikulum yang lain yang bernama pendekatan psikologis. Percaya deh, itu luar biasa banget.

Kalau lo pengen orang jatuh cinta sama lo, buatlah lo mengerti tentang dia, maka dia akan sangat merasa dihargai, diperhatikan, dan dekat. Saat dimana kita bisa menjadi akrab dengannya maka kita akan mudah untuk lebih mengenalnya, memasukkan pengetahuan, pandangan, dan lain sebagainya. Berikanlah bekal yang cukup untuk dia terbang jika suatu saat dia harus melanjutkan hidupnya tanpa kita bisa menemaninya lagi. Taelah…

Rasanya buku pertama dan kedua, Sang Pemimpi, harus diperkenalkan pada anak-anak gue yang kebetulan udah lumayan gede. Cukup mengerti jika ibunya yang satu ini di sekolah sering bercerita tentang hal-hal yang belum mereka pernah mereka alami sebelumnya. Lantas ketika orang tua mereka bertanya pada mereka di suatu malam, hanya perasaan was-was yang gue hadapi. Waduh, mereka bilang apa ya? Sebab ibunya ini seperti pedagang obat atau pendongeng. Lebih banyak bercerita dan menyisipkan jiwa liarnya dan mimpinya pada setiap materi daripada harus melihat rencana mengajarnya, dan itu sulit sekali untuk dihentikan (maaf Pak Kepsek). Sejenak berdiskusi, memperdebatkan, bertanya, atau pun bercanda, selebihnya itu hanya trik dari anak-anak agar tidak diminta mengerjakan latihan dan tugas di jam pelajaran. Hahaha…

Tentang mimpi, gue inget ada anak gue yang bercita-cita pergi ke Las Vegas, entah apa tujuannya, mungkin ingin mendapatkan kebebasan yang dia belum tentu mengerti maknanya. It’s ok! Satu orang lagi sedang dalam tahap penjajakan menjadi hacker junior dan sukses menjebol password komputer kelas. Pada sudut kelas yang lain ada yang menyimpan mimpinya menjadi game maker. Ada pula anak laki-laki yang tidak begitu menonjol dibidang akademik, tapi dia mampu berperan sebagai tokoh penting dalam karakter cerita Pitung dengan baik. Siswa spesial needs yang sering menjadi pembawa acara. Seorang anak yang tidak bisa diam tetapi sangat energik sekali dalam bidang olahraga. Pendebat yang sering memancing amarah juga ada, lawan yang tangguh dalam berargumen.

Soal mimpi sepertinya ada yang menarik untuk ditulis. Sayang dilewatkan. Waktu itu di kelas 7 gue bertanya sama anak-anak, gimana ya cara menghentikan aktivitas lumpur Lapindo? Satu anak menuliskan begini:
Membuat bola-bola yang di cor dengan menggunakan semen. Mulai dari bola kecil sampai bola yang besar. Kemudian bola-bola itu diangkut dengan helikopter dan dimasukkan kedalam sumur yang menjadi sumber luapan lumpur secara berurutan bola kecil, lalu ke bola besar.

Saat membacanya gue tersenyum, agak enggak percaya. Terus dibahaslah masing-masing ide setiap anak, seru. Gue masih enggak yakin aja. Beberapa bulan kemudian, pemerintah ternyata memakai ide itu untuk menangani luapan lumpur. Bedanya hanya pemerintah menggunakan traktor, mesin penggerak, entah apa itu namanya.

Gue merasa bertanggung jawab untuk memberitahukan pada anak itu bahwa idenya luar biasa, dan sekaligus meminta maaf atas ketidakyakinan gue saat itu. Dia tersenyum lebar sekali. Semua anak di kelas itu langsung memberikan tepuk tangan dengan riuh buat dia.

Menghadapi para pemimpi rasanya berwarna, kompleks, penuh tantangan, sedikit beban, sering menguras energi, melengkapi hidup, mengisi hati karena terlanjur jatuh cinta. Dua tahun bersama mereka. Gue masih ingat bagaimana saat pertama kali mereka datang dan gue memperkenalkan diri. Sesama orang asing yang baru aja berkenalan, dan dipaksa untuk menjalin komitmen yang serius, agak aneh. Tinggal satu tahun ke depan bersama anak-anak yang lucu-lucu itu…(lucu?).

Lalu…lalu…Edensor. Perjalanan lain ke Eropa berikut deritanya. Banyak kata-kata puitis di sini. Bahasa Perancis dimana-mana. Plus teman-teman Andrea yang baru. Gue mesti mencernanya agak lama, maklum kebiasaan baca buku serius modelnya Sosiologi buat ngajar dan sibuk mikir, gimana ya, cara menjelaskan bahasa-bahasa mata kuliah ini ke dalam bahasa anak ABG yang bikin mereka ngeh. Lagi pula gue juga agak-agak lemot dengan bahasa puisi, karena dulu pernah ada orang yang mengirimkan puisi ke gue tengah hari bolong lewat sms, dan gue mengira arti puisi itu bahwa dia mengajak gue menikah, berusaha mencernanya seharian, padahal kata temen gue, itu puisinya Om Taufik Ismail (Gila, sok akrab abis! Sok tau pula. Aduh…malu bangettt!). Huahaha…:P.
Sukses itu ternyata dimanfaatkan oleh orang lain. Positifnya bukunya dijadiin film. Negatifnya, bukunya dibajak jeng! Oalah orang Indo tuh ya…gak boleh melihat sedikit peluang, langsung diembat, bat, bat.

Ndre, kami ingin bertemu dengan Lintang lho! Sekaligus ingin memberitahukan bahwa ternyata di sekeliling gue banyak perempuan yang ingin dipinang oleh laki-laki cerdas yang sering mencoba tantangan di batas titik terendahnya, rendah hati, sekaligus puitis seperti dirimu. Sepertinya akan ada banyak perempuan yang patah hati karenamu dan sedang mencoba menggapai mimpinya atasmu. Apakah kau tidak berminat untuk menuliskannya dibukumu selanjutnya, dalam bab terakhirnya, pada siapakah kau menaruh hati pada ujungnya?



1 komentar:

Jeng Arum mengatakan...

Hai Bu... ketemu juga akhirnya...

Keren juga blognya...

Sesuai banget sama apa yang gue liat sehari-hari di diri lo...

keep on writing...