TEBAK-TEBAK BUAH MANGGIS
“Nun, aku bisa merasakan sesuatu saat dia menatapmu. Ada pancaran yang lain di sana”.
Begitu kata seorang teman di suatu malam yang cerah, malam yang berbeda dari malam-malam sebelumnya yang diderai hujan.Gue cuma bilang dalam hati, lucu juga nih orang, sok tau gitu. Hahaha.
“Oh ya? Kok aku enggak merasakannya ya? Waktu kapan? Momennya deh!”, jawab gue sekenanya.
“Aku enggak bisa menjelaskannya ke kau. Tapi, itu hal yang sama yang aku lihat pada saat Ben menatap Jane di Yogya (bukan nama sebenarnya, nama aslinya Poniman dan Tukiroh asli Indonesia bangettt), waktu kita menawar andong dan mau pergi ke alun-alun selatan”. Jelas mbakyu yang satu ini.
Secara dia lebih tua dari gue, jadi percaya aja kali ya…takut durhaka. Meskipun masih mikir…masa? Just for your info, Ben dan Jane itu karakter orangnya bukan fiksi dan cerita cinta mereka berdua juga bukan rekaan, asli ada.
“Kau enggak tertarik dengannya?”, sambungnya lagi. Gue pikir dia udah lupa sama topiknya.
“Kita berbeda sekali dan rasanya kita udah imun satu sama lain”, emang benar kok, enggak berniat lebih.
“Bagaimana jika ternyata perkiraanku benar?”, heh?
“Sudah cukup tegas dan jelas bahwa kami berteman,” enggak tahu mau jawab apa lagi.
“Bagaimana jika ia tidak tertarik secara fisik, tetapi pada yang lainnya?”, huahaha…orang ini masih penasaran.
Jawaban gue selalu akan tetap sama dan akan selalu singkat. Lain halnya jika gue benar-benar menyukai seseorang pasti gue akan simpan semua memori tentang orang itu di otak gue dan gue akan mencari tahu tentangya. Hanya membutuhkan sedikit keahlian dan ketrampilan tangan serta waktu luang maka informasi apa pun dapat ditemukan di dalam internet dalam waktu sekejap. Kayaknya sering ya? Udah cum laude sama urusan yang begituan…Kikikik. But not with this guy.
“Enakan kayak sekarang aja deh. Lagi pengen enggak mikirin itu dulu setelah peristiwa yang kemarin”, intinya enggak akan dicoba.
“Kenapa sih kalian enggak coba dulu?”, halah tambah panjang. Tiba-tiba si mabkyu melanjutkan…
“Sama yang kemarin nangis enggak?”, gimana ya?
“Enggak, malah ketawa. Udah janji soalnya enggak mau nangis. Udah kemarin-kemarin nangisnya. Jadi udah malas dan udah diikhlasin aja.”
“Wah, enggak normal itu namanya. Harusnya kau nangis, biar luapan emosimu keluar. Jangan ditahan. Enggak bagus tuh”, si mbakyu menasihati.
“Sedih sama keluar air mata dikit. Hehehe. Soalnya aku udah tahu endingnya bakal sama kayak yang kemarin-kemarin. Aku udah cerita soal aku dapat mimpi?“, belum kayaknya.
“Mimpi apa?”.
“Pokoknya sebelum aku menanyakan hal itu kepada dia, aku diberikan mimpi karena aku memintanya. Ya Allah, tolong berikan aku pertanda apakah orang ini untukku.atau bukan. Terserah Allah mau kasih petunjuknya dalam bentuk apa. Ternyata lewat mimpi”, sekarang giliran si mbakyu yang penasaran.
“Aku dan dia berjalan dari arah yang berbeda, begitu kami berdekatan dan berpapasan lalu aku menyapanya, dia sama sekali enggak jawab. Gitu. Ada dua sebenarnya, mimpi yang satu lebih jelas lagi. Sutralah, yang penting udah selesai. Udah direlakan”, yeah…
Prediksi yang lucu dari si mbakyu. Udah gak trendi lagi kalu mesti pakai acara gede rasa dan kepedean, itu praktis dan otomatis musnah dalam waktu singkat. Cukuplah dua kali dengan orang yang sama dan pengalaman yang sama merasakan keyakinan yang membabi buta dan larut dalam sebuah rasa. Jangan lagi kali ya…Kalaupun balik lagi, mesti jelas aja.
Lantas mbakyu berpesan pada gue untuk enggak menceritakan ini ke orang yang bersangkutan. Padahal gue pengen banget kasih tahu ke orang yang bersangkutan. Dia pasti akan cewawakan. Jika hubungannya lantas meregang seperti yang kemarin? Gue rasa enggak. Kita udah sepakat, apa pun yang orang lain lihat, tanya, dan mencoba menebak tentang kita, pembuktiannya akan tetap sama, tidak lebih dari pertemanan biasa. Apa perlu konfrensi pers nih?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar