Jumat, 09 Mei 2008

CAN DAKOCAN, KESEREMPET DELMAN...

PANGGUNG UNTUK ANAK-ANAK

Gue rindu masa itu. Bernyanyi lagu anak-anak yang juga didendangkan oleh anak-anak dengan gaya anak-anak setiap jam 09.00 pagi di TVRI, disusul Album Minggu Kita, Ria Jenaka, lanjut ke Berita Olahraga. Huhuhu…


Si Lumba-lumba, bermain api…Bondan Prakoso. Helo, long time no see!

Abang tukang bakso, mari-mari sini! Melissa. Hi, are you still alive? Hope so!
Di rumahku banyak nyamuk, gara-gara aku malas bersih-bersih. Eno Lerian yang udah jadi ibu-ibu.

Kutakut mamaku marah, kalau terlambat sekolah. Trio Kwek-Kwek yang udah enggak lucu lagi.

Kring-kring…goes-goes…Gue lupa siapa yang nyanyi pokoknya gue benci sama lagu itu karena gue enggak bisa naik sepeda.

Si jago mogok namanya kuberikan…Puput Melati. Ibu-ibu juga…gue sarankan ke lo untuk jadi ketua arisan mantan penyanyi cilik cewek bareng Eno Lerian. Kikikik.

Batman, engkau jagoanku. Batman, engkau idolaku. Hehehe.

Kemudian lahirlah Agnes Monica bersama Eza Yayang, Meisy yang centilnya minta di bom, Chikita Meidy, Joshua, Cichio, Boboho, Cendy Cenora, Tina Toon, Sherina, Tasya, yang bermutu festival diwakili Albert Denias dan Samuel. Masing-masing dengan daya pikatnya sendiri.

Maaf Papa T.Bob, apakah hasratmu untuk menciptakan lagu anak-anak dan mengorbitkan para penyanyi cilik kini terkubur dan musnah? Let me help you. Para pencari bakat, apakah kalian melihat bahwa saat ini banyak anak-anak yang masa kecilnya tercerabut dengan membiarkan mereka menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang kita sering melihatnya sebagai kelucuan biasa.

Bapak AT. Mahmud yang budiman, tolong kami untuk mengembalikan keceriaan kami di masa lalu. Bisakah engkau perlihatkan taringmu kembali?Tidak ada ruang bagi anak-anak untuk berkreasi saat ini di televisi. Kalau pun ada, anak-anak itu lebih memilih untuk berlagak dan didandani selayaknya orang dewasa. Memainkan peran menangis tersedu-sedu atau disiksa memperagakan Ari Anggara dengan ibu tirinya.

Om Elfa Secioria, andai kau bisa mencium bakat-bakat baru atau mungkin sedang tumbuh di sekolah vokal Pranajaya? Mbak Bertha, bisakah kau temukan untuk kami. Mas Indra Lesmana, bolehkah ajang kompetisinya di rubah menjadi Young Indonesian Idol?

Di setiap perempatan jalan di Jakarta ada bibit-bibit potensial yang terus dikesampingkan. Ada petarung di sana, banyak pekerja rajin, bocah bersuara emas, tapi tidak beruntung. Pada akhirnya sama-sama meneriakkan sejumlah masalah orang dewasa dengan tema perselingkuhan yang sedang populer ditandai oleh pacar gelap. Tuhan, itu belum waktunya!

Kegemasan ini, kecemasan ini, kerinduan ini akan datangnya anak-anak kecil yang mampu berdiri kembali di atas panggung, berlenggak-lenggok jenaka dan lugu. Salah atau benar tidak pernah malu. Menyuarakan hal-hal yang tidak penting bagi orang dewasa tetapi kita ingin tetap menontonnya dengan perasaan bahagia akan kenangan dan titipan masa depan.

Sungguh aku rindu… bernyanyi bersama teman-temanku di depan televisi mengikuti gaya Bondan Prakoso, Melissa, Eno Lerian, atau Puput Melati. Setelah itu kita berhamburan ke lapangan dan bermain getok lele, galasin, kasti, karet, kelereng, atau layang-layang sambil ditemani es mambo, permen cicak, coklat ayam jago atau wafer Superman.
Indahnya masa kecil yang abadi…


Tidak ada komentar: