Jumat, 09 Mei 2008

APA KABAR?

BERPELUKAN…

…menghapus jejak atau kenangan tentang seseorang begitu aja dari ingatan gue bukan sesuatu yang mudah, manakala orang itu banyak menorehkan berbagai pegangan hidup yang luar biasa. Mengajari gue hal2 baru, membantu gue berdiri, mengoreksi gue berbicara, memandu gue dalam bersikap, mengingatkan ketika gue salah, mendengarkan saat gue bercerita, dan menorehkan berbagai pengalaman. Walau hanya sebentar, tidak berapa lama kita dipertemukan, tapi gue…akan selalu mengingatnya sebagai semangat hidup dan bagian dari perjalanan yang masih panjang.

Semakin umur gue nambah, setiap kali gue ditinggal pergi ma orang, gue semakin ngerasa betapa hebatnya orang2 yang masuk dalam kehidupan gue belakangan ini, dan gue sangat merasa kehilangan ketika ada yang pergi meninggalkan gue dengan sekeranjang kebaikan. Empat orang pergi di waktu yang sama untuk satu tujuan, bahwa lo yang harus memutuskan hidup lo, bukan orang lain. Di waktu yang bergantian, di tahun ini, tiga orang dari mereka mendapatkan orang yang udah digariskan. Dan mereka memutuskan untuk ikut bersama orang yang mereka sayang. Ada yang ke Bengkulu, Makassar, dan Solo.
Tahun depan, gue gak tau mo ditinggal ma mbak gue yang mana lagi, atau bisa jadi gue yang akan pergi, entah dengan alasan yang sama atau sama sekali berbeda keadaannya. Lebih baik berani mengambil keputusan, daripada diam sama sekali. Berani memutuskan melihat dunia luar yang berwarna dari tempat gue berpijak sekarang. Untuk belajar tentang hidup lebih banyak.

Gue coba nahan untuk gak nangis, berhasil, dari pagi sampe sore. Mereka duduk di sebelah gue pun di saat2 terakhir, waktu gue menyampaikan beberapa kata, gue masih bisa nahan untuk gak nangis. Gue selalu bilang ke anak2, siapa bilang yang boleh nangis cuma perempuan? Sementara laki2 gak boleh nangis? Emangnya laki2 itu robot? Emangnya laki2 itu bukan manusia? Emangnya laki2 itu gak punya perasaan sedih? Laki2 dan perempuan bisa sedih, boleh nangis, cuma…bukan untuk sesuatu yang percuma, kalo bisa gak menampakkan kesedihan di depan orang lain, nangis kan gak perlu rombongan, sedih juga kan gak perlu harus diiringi dengan air mata dan histeria. Ekspresikan kesedihanmu dengan cara yang wajar, bahkan kalo bisa orang gak tau kalo kamu lagi sedih.

Di satu sisi gue ngerasa, apa ini kedaleman ya, buat anak seumuran mereka? Di sisi lain, siapa lagi yang mo ngasih tau mereka kalo bukan gue? Apa omongan gue yang berat2 gitu nempel ke mereka? Mereka hanya sampe dalam batas tau dan paham, belum sampe tahap refleksi. Anak seumuran mereka cenderung akan menjauhi kata2 bijak dari telinga mereka karena terlalu berat. Tapi, pada saat mereka tersandung, sendirian, terdesak, mereka belajar untuk mengingat perkataan yang awalnya terlihat sepele, akhirnya berubah menjadi sebuah kekuatan.

Kadang gue juga suka ngerasa, siapa sih gue? Cuma bisa ngomong doang. Gimana jika omongan yang keluar dari gue dipegang oleh anak2 gue? Ada satu kejadian di mana anak gue kesel karena dia gak terima pas gue kasih tau, dia cwo, badannya besar, kadang dia terlihat kuat banget, sering juga tiba2 sensitivitasnya muncul. Tanpa izin dia langsung ngeloyor dari kelas, gue tungguin gak balik2. Gue tau dia nangis di kamar mandi. Gue diemin, sampe tenang, gue tunggu dia balik ke kelas. Waktu istirahat dan anak2 main, gue panggil, gue ajak ngobrol berdua, maunya apa? Gue kasih tiga pilihan, dan gue minta dia bilang ke orang tuanya atas pilihan itu, gue kasih waktu sehari untuk dia berpikir. Lo tau apa yang terjadi? Orang tuanya telpon gue, dan orang tuanya bilang, “Ms…karena dia kesel, jadi dia lebih baik keluar untuk mengontrol emosinya, karena dia gak mo dilihat teman2nya kalo dia nangis. Katanya, Ms. pernah bilang di kelas kalo nangis jangan ditunjukkin ke orang2”.

Gue langsung merinding. Anak2 itu menyimpan dan merekam semua yang datang dari gue. Sama seperti gue yang suka menyimpan dan merekam sesuatu, kok nurun ya? Anak2 itu menjadi lebih dekat dengan gue yang gak mereka kenal setahun yang lalu. Meresapi kata2 gue yang kadang belum tentu benar dan gue sendiri masih perlu ditepuk bahunya untuk disadarkan. Peran yang gue ambil sekarang bukan gak ada artinya, melainkan sutradara atas jalan hidup seseorang kelak. Gue selalu berdoa, “Ya Allah…jangan biarkan mereka menyimpan dan merekam segala sesuatu yang tercela dariku untuk mereka contoh dan mereka mengira bahwa itu perbuatan yang terpuji. Nauzubillah. Karena sesungguhnya kebenaran hanya milikMu”. Amien. Karena gue sering ngerasa error, jauh dari role model guru ideal.

Menangis menjadi sesuatu yang tertunda sore itu, tertahan lama, tapi hanya selang beberapa saat semua menjadi terbalik. Mengingkari perkataan sendiri, meleleh dalam dekapan orang lain, dan merasa menjadi orang paling cengeng. Meluapkan rasa kehilangan yang gak biasa. Gak ada lagi orang yang tiap pagi nyubitin gue kalo gue lewat di depan kelasnya, mulai dari pipi sampe pinggang, walaupun gue suka BT dengan cubitannya yang sakit itu. Gak ada lagi yang cerita ke gue tentang pengalaman pernikahannya yang begitu polos dan malu2, dan gue ketawa2 sok memberikan petunjuk2 katro. Hehehe. Gak ada lagi orang yang bisa ngedengerin gue saat gue kesal ma satu orang dan sabar banget ngelihat gue senyum2 sendiri di depan komputer dan marah2 kalo jaringan internetnya diputus atau diprotect. Gue kesel ma mereka karena tiga hal, terlalu cepat berpisah, menikah mendahului gue, dan keluar sebelum gue! Selebihnya gue cinta ma mereka.
Rasanya…baru kemarin kita ketemu ya mbak2, dengan segala keangkuhan kita masing2, sampe kita melunak satu sama lain, dan berteman. Tapi saat mata kita bertemu, tangan kita berdekatan untuk mengucap maaf, mengapa bibir kita semua menjadi kelu dan hanya dapat diartikan dengan bahasa air mata. Ada yang menarik gue ke dalam pelukannya sampe lama dan kita saling membisikkan berbagai macam kenangan, harapan, pujian, dan maaf.

Dari kecil, gue bukan tipe orang yang suka dipeluk oleh siapa pun. Dari banyak perpisahan dalam hidup gue, di tahun ini gue merelakan untuk dipeluk oleh anak2 gue, teman2 gue, dan membiarkan mereka berlama2 di bahu dan pundak gue. Terlalu banyak kenangan dan juga perpisahan dalam waktu yang serba cepat. Janji gak akan lupa. Selamat ya, dan selamat jalan, semoga selalu ada asa, cita, dan cinta yang lebih baik untuk semua. Doain gue juga ya…Amien.

Tidak ada komentar: