REBORN
Seumur hidup saya, menjadi guru tidak pernah terlintas di dalam benak saya untuk saya pilih sebagai bagian dari jalan hidup saya. Mengapa? Karena saya merasa tidak mewakili figur sosok ibu guru ideal dalam diri saya. Jauh dari jangkauan standar sikap dan tingkah laku guru yang harus diteladani jika saya harus membandingkannya dengan ibu guru saya sedari saya SD hingga SMU. Selama masa itu saya mendapati sosok seorang ibu yang utuh dan lengkap sebagai cerminan dari ibu saya di rumah. Pendeknya, mungkin identitas ke-ibu-an saya diragukan. Apalagi menurut saya guru merupakan profesi yang sakral bagi sebagian orang, sarat akan nilai kemuliaan. Guru bukan hanya bertugas sebagai pemberi materi di kelas, tetapi sekaligus sahabat, orang tua, penasihat spiritual dan menempati kursi sutradara atas hidup seseorang.
Seumur hidup saya, menjadi guru tidak pernah terlintas di dalam benak saya untuk saya pilih sebagai bagian dari jalan hidup saya. Mengapa? Karena saya merasa tidak mewakili figur sosok ibu guru ideal dalam diri saya. Jauh dari jangkauan standar sikap dan tingkah laku guru yang harus diteladani jika saya harus membandingkannya dengan ibu guru saya sedari saya SD hingga SMU. Selama masa itu saya mendapati sosok seorang ibu yang utuh dan lengkap sebagai cerminan dari ibu saya di rumah. Pendeknya, mungkin identitas ke-ibu-an saya diragukan. Apalagi menurut saya guru merupakan profesi yang sakral bagi sebagian orang, sarat akan nilai kemuliaan. Guru bukan hanya bertugas sebagai pemberi materi di kelas, tetapi sekaligus sahabat, orang tua, penasihat spiritual dan menempati kursi sutradara atas hidup seseorang.
Saya memanggil murid-murid saya dengan sebutan anak-anak saya, lebih memiliki dan dekat dengan mereka. Dekat tidak hanya dari segi spasial di sekolah atau kelas, yang lebih penting dekat secara psikologis. Tidak terbatas pada ruang dan waktu. Sekarang ini saya dikelilingi remaja kota besar yang sedang tumbuh mencari jati diri dan baru saja akan menelusuri makna hidup di tengah jargon modernisme yang kerap menuntun mereka ke persimpangan. Saya dan teman-teman yang lain berusaha memfasilitasi dan mengarahkan mereka dalam menemukan pilihan dan tujuan yang mereka inginkan dengan bantuan ayah bunda tercinta.
Ayah dan Bunda tercinta, di manapun kalian berada…
Ayah, tinta merah di rapot
Bunda, coretan di dinding tembok kamar
Ayah, komputer di rumah yang rusak
Bunda, makanan yang hangus di dapur
Ayah, kejahilan ini di taman bermain
Bunda, tempat minum yang hilang di sekolah
Ayah dan Bunda, tangisan yang memekakkan telinga kalian
Bukan tanpa arti…
Ayah dan Bunda tercinta, di manapun kalian berada…
Ayah, tinta merah itu disebut pertanda
Bunda, coretan ditembok itu berarti lukisan
Ayah, komputer yang rusak itu percobaan
Bunda, makanan yang hangus itu belajar
Ayah, kejahilan itu menuntut perhatian
Bunda, tempat minum yang hilang itu ketidaksengajaan
Ayah dan Bunda, tangisan itu menyimpulkan sesuatu
Diantara kalian, dalam hidup kalian, untuk melengkapi kesempurnaan
Ayah dan Bunda tercinta, di manapun kalian berada…
Ayah, tinta merah di rapot itu akan berganti dengan prestasi
Bunda, coretan ditembok itu berubah menjadi maha karya
Ayah, komputer yang rusak itu kini sedang dirakit kembali
Bunda, makanan yang hangus itu kelak menjadi menu yang terkenal
Ayah, kejahilan itu dikenang oleh banyak orang
Bunda, tempat minum itu masih sama bentuknya saat ditemukan ibu guru
Ayah dan Bunda, tangisan itu mengantarkan kekuatan
Agar tetap baik, semakin baik, dan lebih baik
Hingga saat ini saya masih belum bisa mempercayai kebenaran, keberuntungan, dan kebahagiaan berada di antara calon pemimpin di masa depan yang dipercayakan oleh orang tua mereka kepada saya yang bukan siapa-siapa. Meskipun pada kenyataannya memang begitu. Saya lebih suka menyebutnya sebagai sebuah peristiwa kecelakaan yang kemudian dari peristiwa itu saya disembuhkan oleh obat yang bernama pendidikan dan anak-anak saya.
Sebagai guru muda, baik dari sisi pengalaman yang masih minim maupun dari sisi usia yang masih perlu untuk dibimbing rasanya luar biasa sekali jika saya tiba-tiba memberikan petuah bijak nan menawan kepada anak-anak saya bahkan kadang kepada para orang tua dengan sangat fasih dan lancar menawarkan semacam saran yang terkadang setelah saya menyadarinya, mengapa saya bisa mengeluarkan untaian kata-kata mutiara seperti itu ya? Mungkin saya sedang kesambet, atau ada bisikan dari alam bawah sadar saya yang kelewat menumpuk dan terakumulasi di satu waktu. Apakah itu hanya terjadi pada diri saya atau teman-teman guru yang lain juga mengalami hal serupa? Entahlah.
Kami mirip konsultan mendadak. Psikolog tanpa gelar yang berlabel amatir. Kami bisa membaca kegelisahan anak dan keresahan orang tua, kemudian menyimpulkannya untuk kami jadikan refleksi dan instrospeksi bagi kami setiap harinya. Kami bertanggung jawab akan itu. Bila tidak, maka kami akan tergilas oleh kotak ajaib yang bernama televisi, jaringan informasi telekomunikasi tanpa batas yang berwujud internet, permainan elektronik yang lebih menarik hati daripada membaca satu lembar buku pelajaran sosiologi tentang hubungan sosial yang semakin merenggang, tidak lupa juga bangunan-bangunan tempat keramaian anak muda yang sangat menggoda dan roda yang terus menerus berputar, orang mengenalnya sebagai perputaran zaman.
Kami hanya menyelipkan akhlak dan iman di hatinya, menaruh rasa optimis di saku bajunya, membekali ilmu di kotak makannya, menumbuhkan perasaan cinta pada setiap waktu mereka bertanya, memberikan kejujuran di kantong celananya, mempersilahkan mereka untuk membuka tempat pensilnya yang berisi kreativitas, kasih sayang, perhatian, pengertian, kepercayaan, hormat, maaf, terima kasih, serta beragam pujian. Dengan itu mereka akan menuliskan persamaan, kebersamaan, kesopanan, keadilan, kemandirian, pantang menyerah, serta semangat untuk selalu lebih baik, dalam sebuah buku, dan menaruhnya dengan rapi di dalam tas yang kami sebut kebahagiaan hidup yang akan mereka bawa ke mana pun mereka pergi menjelajahi alam ini, menebarkan wangi perdamaian dan kecintaan terhadap hijaunya rerumputan dan birunya lautan dengan penuh rasa bangga dan syukur. Rumusan ini hadir begitu saja setiap kali saya teringat anak-anak saya, lalu sepersekian detik berikutnya perasaan saya berubah menjadi sentimentil.
Saya kadang sering merasa tidak enak hati, sok tahu, atau lebih ekstremnya kurang ajar karena berani mengomentari banyak hal yang berkaitan dengan sekolah-guru-orang tua-anak dalam satu garis linear yang saling bersinergi sementara saya belum mendapatkan peran menjadi orang tua yang sebenar-benarnya serta berbicara tanpa dasar teori-teori penguat dibelakangnya. Hanya mencomot dari banyak tempat, mendengarkan sekumpulan orang yang mengkritisi dunia pendidikan, tulisan-tulisan teman sesama guru di dunia maya, motivator dan trainer yang didatangkan untuk menyemangati. Itu pun tidak pernah tuntas, selalu setengah-setengah. Sementara setelah pulang dari sekolah saya justru dinasehati oleh ibu saya karena kamar saya lebih berantakan daripada kamar sebelahnya, kamar kakak laki-laki saya. Malu jika saya mengingatnya kembali.
Terima kasih atas kesempatan terbaik ini. Merasakan pendidikan dari sudut pandang yang lain, dahulu hanya sebatas konsumen apa adanya maka sekarang saya bertukar tempat. Dua puluh tahun yang lalu tepat ketika saya kelas satu SD saya mendapati guru perempuan galak, berkacamata, mandiri, sudah berumur tetapi belum menikah, saat membagikan buku tulis atau hasil ulangan mirip seperti piring terbang dan pernah menyeret saya ke kamar mandi karena pada saat pelajaran mencongak saya tertinggal dan saya menangis. Itu sangat membekas sekali. Ketiga kakak laki-laki saya juga diajar olehnya di kelas satu.
Ternyata sekarang saya berada di tempat yang sama, di waktu yang berbeda. Sama galaknya, berkacamata, dan belum menikah, tetapi yang membuat kami berbeda adalah saya tidak akan melempar buku hingga sampulnya robek, dan saya membiarkan anak-anak saya menangis di dekat saya, di kelas, di kamar mandi karena mereka manusia bukan robot atau suatu ketika saya membiarkan mereka melihat saya menangis. Ada pelajaran dari guru-guru terdahulu.
Guru kelas enam saya yang begitu mengesankan hingga saya dewasa. Guru itu melihat saya dengan kepercayaan dan ia menyadari apa yang ada di dalam diri saya. Dulu, jabatan ketua kelas di SD Negeri lumayan bergengsi. Lima tahun berturut-turut ketua kelas saya selalu laki-laki. Kelas enam giliran saya yang diamanahi menjadi ketua kelas, dan saya bertanya dengan santainya, kenapa Bapak memilih saya? Bapak itu hanya tersenyum. Ia mengerti bahwa saya termasuk murid perempuan yang sulit untuk dijinakkan. Jadi saya yang harus menjinakkan teman-teman saya. Dalam kesempatan yang lain ia juga mendaftarkan saya untuk menjadi peserta lomba menulis dan mengarang. Minat yang tidak pernah dilirik oleh orang tua saya yang awam. Ia masih mengabdikan dirinya di tempat yang sama hingga hari ini. Mengunjunginya, menyalaminya, mencium tangannya adalah sesuatu yang tertunda lama.
Saya biarkan anak-anak saya larut dalam impiannya.Ada yang bermimpi untuk pergi ke Las Vegas. Mencoba-coba menjadi game maker atau hacker. Perayu ulung atau pencinta binatang. Pencinta musik rock sampai hardcore. Trainer junior. Pemain sepakbola kelas dunia. Ahli sejarah sekaligus ahli dinosaurus. Pengkritisi ulung. Penjahit rajutan benang wol. Biarkan mereka menikmati masa remajanya seperti waktu saya duduk di bangku sekolah menengah.
Romantika sejarah itu pasti berulang. Berkembang sesuai zaman dan usianya, menikmati masa muda yang datang hanya sekali, tetapi jangan biarkan masa mudanya hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak yang cemerlang, bantu mereka melewati semua ini dengan menorehkan berbagai kenangan yang penuh senyuman, tanpa banyak kekangan, menumbuhkan nilai-nilai pegangan bagaimana cara menjadi dewasa seharusnya, tanpa salah arti.
Belajar untuk membuat keputusan sendiri, menyelesaikan masalah sendiri, dan mengantarkan mereka untuk memilih dan memilah sesuatu yang terus menerus dalam rona abu-abu di usia mereka, mematangkan konsep benar salah, baik buruk, boleh dan tidak, pada alasan dan ketegasan yang jelas. Selebihnya kita hanya perlu membangun komunikasi yang ringan, memberikan kepercayaan, mencontohkan dengan perilaku, mendukung pikiran brilian mereka yang positif, dan mengawasinya dari jauh. Serta membiasakan mereka untuk selalu mengingat nikmat yang sudah Allah berikan.
Bagaimana ia bisa berkembang, jika ia tidak diperhatikan?
Bagaimana ia bisa berdiri, jika ia tidak dibantu dengan semangat?
Bagaimana ia bisa menunjukkan dirinya, jika ia tidak diberi kepercayaan?
Bagaimana ia bisa berjalan, jika ayah dan bunda tercerabut?
Bagaimana ia bisa tegar, jika setiap hari ia melihat pertikaian?
Bagaimana ia bisa bahagia, jika diselubungi air mata?
Bagaimana ia bisa bebas, jika ia selalu diminta mengikuti keinginan orang lain?
Bagaimana ia bisa terbang, jika sayapnya terikat?
Bagaimana ia bermain, jika dunianya mulai membosankan?
Bagaimana ia terlihat, jika ia kerap disembunyikan karena kekurangannya?
Bagaimana ia bisa percaya diri, jika ia selalu dituding bodoh?
Bagaimana ia bisa bertanya, jika ia tidak didengarkan pada saat berbicara?
Bagaimana ia bisa merenung, jika ia tidak diperkenalkan dengan obat hati?
Bagaimana ia bisa mandiri, jika ia dipertontonkan oleh tumpukan harta?
Bagaimana ia bisa memuji, jika ia selalu disakiti?
Bagaimana ia bisa membedakan benar dan salah, jika ia dituntut sempurna?
Bagaimana ia bisa belajar, jika ia terus diminta mengejar peringkat?
Bagaimana ia bisa menghargai, jika ia dianggap tidak pernah ada?
Pada waktu lainnya saya kerap ikut mengolok-olok guru. Namun kini, saya jadi tahu bagaimana rasanya. Sakit dan kecewa. Sebelumnya saya hanya tertawa bersama teman-teman bermain saya di bangku sekolah. Selanjutnya saya tidak pernah menonton film atau sinetron yang memakai sekolah hanya sebagai sarana popularitas artis ABG dan sarana berpacaran ditambah dengan mengolok-olok sang guru. Kami bukan bahan bualan dan kami tidak ingin direndahkan. Saya juga terperangah ketika ada orang yang mengatakan bahwa guru bukanlah profesi. Sebuah situs forum guru bahkan menegaskan bahwa di dunia ini hanya ada dua profesi: guru dan bukan guru. Bukan pula kami ingin ditinggikan.
Tiga hal yang saya takutkan adalah saat saya harus melepaskan anak-anak saya untuk pergi atau saya yang harus pergi meninggalkan mereka karena sebab tertentu. Kedua, orang tua yang menyerahkan segala sesuatunya kepada guru, apalagi jika cenderung menyalahkan guru. Catatan penting yang harus diluruskan adalah kami dalam posisi sejajar dan memiliki beban serta tanggung jawab yang sama hanya berbeda tempat dan porsi.
Ketiga, bias pendidikan yang terlembagakan dan dipenuhi oleh struktur kadang tidak mementingkan content, hanya kulit luar. Melenceng dari tujuan awalnya. Legitimasi birokrasi mengalahkan sisi edukasi yang diharapkan. Peliknya lagi, orientasi itu kabur dan berlari mengejar kualitas semu, semua dipersiapkan karena tuntutan ekonomi dalam tuntunan bisnis pendidikan yang kian menjamur. Sebuah komodifikasi pendidikan, sekolah hampir mirip seperti restoran atau perumahan. Menyediakan menu, pilihan rasa, paket, tipe bahkan servis yang lama kelamaan hanya bisa diakses sesuai strata sosial ekonomi konsumennya. Mengadaptasi metode-metode mutakhir untuk mendongkrak generasi platinum yang siap menghadapi persaingan global. Kemudian muncul standarisasi yang tidak dapat menggambarkan keberagaman sekaligus ketidakseimbangan yang dapat mengilhami lahirnya kecemburuan sosial baru dalam ranah pendidikan. Mereka yang di atas akan semakin di atas, dan mereka yang di bawah akan tetap berada di bawah. Sulit untuk menembus stratifikasi sosial vertikal. Semoga pikiran skeptis bahwa itu bagian dari hukum alam dapat kita kesampingkan. Ini terkait dengan kompleksitas dunia pendidikan Indonesia yang membutuhkan banyak evaluasi lanjutan, kebijakan revolusioner pengambil keputusan yang menekankan keadilan serta persamaan dan bukan pernyataan dalam bentuk janji seperti selama ini.
Saya seperti sedang berdialog kosong dengan para pejabat. Hingga hari ini, yang dapat saya pahami adalah diluar sana banyak teman-teman guru yang pengabdiannya tidak terukur. Ibarat Ninja Hattori, mereka mendaki gunung, menyeberangi sungai, melintasi hutan, bermodalkan kecintaan yang maha dahsyat. Kehebatan mereka bukan ala kadarnya. Saya lebih sering mengeluh daripada bapak ibu guru yang sudah sepuh berpeluh . Padahal saya baru saja mulai melangkahkan kaki…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar