Jumat, 09 Mei 2008

DEKAT

WHEN A MAN MEET A (MAD) WOMAN

Ada perbedaan mencolok yang harus gue jalani kali ini dengan seorang laki-laki. Kalau dulu melibatkan hati, perasaan yang dalam dan tumpah ruah, sekarang nggak lagi. Mungkin karena memang ceritanya berbeda dengan yang sebelumnya. Laki-laki yang sekarang ini hanya datang di saat-saat tertentu, instan, but, trully exist. Sementara laki-laki yang sebelumnya adalah seseorang yang istimewa, namun semu karena kami tidak pernah bertemu sampai pada akhirnya.


Kelebihan dari keduanya adalah mampu menerima keunikan (sama dengan keanehan) diri gue dengan segala rupa dan bentuknya. Sekaligus mampu melihat warna lain dari diri gue. Gue itu ibarat buah duren. Wangi, mahal, eksotis, populer, tajam diluar, menyayat-nyayat, susah ditebak, dalamnya edun abizzz alias well done, dicari banyak orang, nggak mudah rusak, jangan percaya kemasan, mahal. Narsiskus jijikus. Huahaha…

Udin...Our main topic is, laki-laki yang sekarang menjadi teman gue itu adalah adik kelas gue ketika SMA, eh SMU, terserahlah. Pertama kali ketemu, gue pikir dia orang dari bagian marketing penerbit buku, let say salesman atau dokter dari Puskesmas, mau ada acara vaksinasi polio gratis di sekolah gue sekaligus tebar pesona. Sorry to say that. Ternyata, eh ternyata, oh la la (kafe kale) dia cagur alias calon guru.

At the first time I saw him, asli, nggak cocok banget, nggak ada potongan guru sama sekali. Bayangin, rambutnya jambul, mukanya lumayan (daripada lumanyun), putih, wangi, tinggi, perut rata, pake jam tangan mahal, tas tentengnya juga mahal, kemeja bagus, sepatu bersih. Dirumahnya, pasti bukan dia semua yang mengerjakan, pengecualian satu, cuci sepatu. Huehehe. Setelah kedatangannya, wajarlah kalau tiba-tiba semua orang satu per satu berkomentar, “Lo kenapa nggak jadi pemain sinetron aja?” atau, “Tebak-tebakan hayo, tuh orang tahan berapa lama disini?”. Sampai sekarang dia masih kelihatan batang hidungnya tuh, kuat juga…

Peristiwa apa yang mendekatkan kami? Gue rasa ketika dia bubaran sama pacarnya dan gue berusaha menghiburnya dengan cara (gila) gue. Terus, dia banyak memberikan pandangan ke gue juga soal apa yang biasa cowok pikirkan dan lakukan. Selain itu kesamaan tekanan pekerjaan yang membabi buta. Supporting each other. Itu kalau gue lagi dalam posisi nggak menyebalkan dan bijaksana. Kejombloan kami adalah sebab selanjutnya. Bagi dia, susah jadi jomblo. Baru juga enam bulan jadi jomblo, gue aja yang seperempat abad lewat asyik-asyik aja. Meski sesekali nangis bombay. Menangis adalah karunia. Huekh. Bagi gue, jomblo adalah pilihan, tapi bukan pilihan tetap yang harus dilaksanakan dengan konsisten plus konsekuen loh ya! Nggak lucu juga kalau seumur hidup sendiri melulu. Tapi, kami sangat berbeda karakter dan selera. Borosnya sih sama kayaknya…

Orang ini akan selalu datang ke gue karena banyak hal, sebab hidupnya seperti selalu dirundung masalah, diliputi duka dan terpaan lara yang bertubi-tubi. Nestapa. Waduh, kata-kata dari KBBI. Maaf jika gue harus menggunakan majas hiperbola untuk menggambarkan keruwetan orang ini. Memang kenyataan kok. Orangnya pasti bakal ngamuk-ngamuk. Buktikan dari faktanya dibawah ini, silahkan disimak baik-baik.

Pertama di saat dia kesel setengah mati tapi nggak mau dan nggak bisa marah ke orangnya langsung. Tinggal pencet telpon, tut…tit…tut…tit…dalam waktu kurang dari lima menit, energi marahnya pindah ke gue. Abis itu gantian gue yang kebakar, jelas nggak menghasilkan solusi. Kedua, pada saat ada orang meminjam duitnya dan giliran ditagih pura-pura bego, pasti…(gue juga geto kok!). Kontan gue kasih jurus dept collector, berhasil! Ikuti cara Mbah Nunik agak-agak menyakitkan dengan jaminan uang kembali, atau manis-manis manja tapi tetap tinggal janji. Dalam waktu singkat uang jutaan itu berhasil kembali ke tangannya dari tangan mantan pacarnya yang selingkuh (konon kabarnya begitu). Ketiga, merasa tidak berdaya akibat penugasan yang dia enggan mengerjakannya tanpa pernah bisa berucap AKU TIDAK MAU, padahal dia membencinya (ribet ya?) dan itu bukan kesalahannya. Keempat, manakala dia terlalu pusing memikirkan imej orang tentang dirinya, bawaannya harus selalu oke. Kelima, kalau dia pulang belanja dan beli barang-barang kreditan mahal (sebagian gue yang mengilhami setengahnya lagi karena kebanyakan kartu kredit, itu alat andalannya untuk mengutang, sayangnya kadang itu cuma pajangan). Ampun man!

Keenam, ingat mantan pacarnya yang hampir saja dia nikahi. Ketujuh, menanyakan diikuti dengan langkah menceritakan perkembangan muridnya ke gue. Kedelapan, nggak bisa menyelesaikan konflik pribadinya sendiri bahkan cenderung nggak aware sama konflik kelompok disekelilingnya. Itu yang bikin dia sedikit kelihatan selfish. Mencampuri urusan orang lain bukan tipenya, tapi untuk tahu apa yang sedang terjadi, itu kudu. Kesembilan, I need a girl to be my wife. Mau cari pacar baru sesuai kehendak Tuhan, katanya. NGGAK YAKIN. Kesepuluh, selalu diakhiri dengan pertanyaan yang sama, “Emangnya gue childish banget ya?”. Kalau lo berpikir tentang itu terus, justru lo yang harus balik tanya ke diri lo, “Kapan lo bisa dewasa?”. Sesekali, orang ini jauh lebih dewasa daripada gue!

Soal dewasa, dikalangan laki-laki itu ada dua dikotomi bagaimana cara membedakan antara laki-laki yang sudah dewasa atau belum. Nggak usah susah-susah, dalam bahasa sehari-hari kami lazim menyebut cowok untuk mereka yang masih muda atau belum mapan. Untuk yang sudah matang dan mapan kami biasa menyebutnya dengan pria. Buktinya, lihat aja slogan iklan rokok sama majalah! Pria Punya Selera atau Khusus Pria Dewasa. Mana ada, Khusus Cowok Dewasa? Info lebih lengkapnya browsing aja di internet. Cerdas sedikit dong ah…

Dari pertemanan ini gue banyak pengalaman tentang bagaimana rasanya berjalan dengan laki-laki ganteng (jangan GR lo!) di sebelah gue dari mal ke mal. Jadi, selama ini nggak pernah? Mau jujur? Belum, dan nggak enak, sumpah! Kenapa? Sibuk sama penampilan, terus orang-orang pada sinis gitu ke gue, apalagi mbak-mbak SPG! Hello…itu bukan salah gue, tapi itu rezeki gue. Beban lainnya adalah kasihan si teman gue ini dikira seleranya dibawah standar. Suer, secara fisik, kami ibarat langit cerah dan tanah tandus. Huahaha…

Seimbanglah sama popularitasnya yang beranjak naik karena bisa menaklukan ikon species Harimau Sumatra yang tersisa, mulai langka, hampir punah, dan dilindungi. Maksud lo??? Wadezig!!! Bisa jalan bareng sama perempuan sabar, baik, dan pintar kayak gue yang sedang menyeleksi pasangan hidup. Menaikkan posisi tawar gue di mata para penggemar. Gue ngakak najis, eh abis. Wuakakakakak…

Dunia jomblo yang sedang melingkari hidup kami membuat kami banyak belajar tentang hubungan lebih dari sekedar teman yang lebih baik berteman. Maksudnya? Teori-teori gue yang mencengangkan memukau nalar serta menggoncangkan iman kerap dijadikan sumber acuan yang nggak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sementara praktek ataupun tips dari dia yang berpengalaman nggak bisa dibuktikan karena gue belum punya pacar. Seri!

Kami tidak memiliki, membebaskan, saling mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing. Jikalau orang lain melihatnya berbeda, itu hanya bagian dari resiko pertemanan kami yang seru dan lucu. Hanya teramati bagaimana kami dekat satu sama lain, dibalik itu kami sering berseberangan pendapat, menguras tenaga hanya untuk memperdebatkan sesuatu dengan argumen yang bodoh, dan pada akhirnya kami saling mengungkapkan keburukan masing-masing dengan jujur sebagai senjata pamungkas dengan gaya ironi, satire, hingga sinisme. Bahkan, kami sering mencela (dia belajar dari gue) lucu tapi gila, dengan satu syarat, nggak boleh ada yang sakit hati.

He felt free, seems like a winner when he makes me mad for a while or when I’m getting spechless at that moment. Nggak penting untuk orang lain tahu apa yang kami diskusikan. Saat laki-laki dan perempuan bertemu tidak selalu harus dilandasi dengan jalinan cerita asmara penuh romansa bukan? Kami belajar menjadi dewasa bersama, of course in the right track. Teman adalah tempat belajar. Itu prinsipnya.

Gue merasa sedikit berdosa sama nyokap bokapnya. Maaf ya Om dan Tante misalkan belakangan ini putranya terlihat agak bar-bar dan liar. Tujuannya semata-mata demi kebaikan dirinya. Agar dia lebih kuat dalam menjalani hidup. Mampu menguasai keganasan situasi diluar yang sering hadir di luar ruang kontrolnya. Ini bukan semacam pernyataan membela diri loh jeng. Semoga Om dan Tante juga nggak berasumsi begitu. Hehehe…

Percayalah, setelah selama ini ia bertahan dengan pikiran positif ala dirinya sisi positifnya akan jauh berkembang dan berwarna dari yang kemarin karena ditempa oleh berbagai macam karakter yang tidak biasa ia temui, lebih mudah berkompromi meski kadang tersulut emosi. Satu penyelesaian untuk semua rangkaian persoalannya dan yang harus berusaha dimengerti olehnya adalah bahwa tidak semua orang mampu menerima, tidak semua orang berkeinginan untuk memahami, tidak semua orang dapat menanggapi dan itu sama sekali bukan masalah. Memikirkan bagaimana cara agar orang dapat berbalik sikapnya justru bukan solusi. Memaknai yang mampu menerima, memahami dan menanggapi adalah solusinya. Terasa lebih berarti. Huhuhu. Jadi sedih, halah…bohong banget!

Nah ini, mulai kesambet…Satu hal sih yang menjadi kesalahan terbesarnya saat pertama kali ketemu gue. Mestinya dia buru-buru dzikir yang banyak sambil menoleh ke arah kiblat. Sebagai langkah antisipasi awal. Sayangnya, itu nggak dia lakukan, ya udah…siap-siap aja dengan segala resikonya berteman sama gue.. Hehehe…




Tidak ada komentar: