Senin, 26 Mei 2008

GUE PULANG NAIK OJEK!!!

BBM NAIK LAGI??? MASALAH…BUKAN MASA DONG!

“Miss, BLT apaan sih?”, waduh, kurang piknik nih…enggak gaul sama penyiar Liputan 6, Seputar Indonesia, kebanyakan nongkrongin Super Seleb Show yang sama sekali enggak karuan itu ya?
Begini nak, BLT itu singkatan dari Bantuan Langsung Tunai, apaan tuh? Program yang diberikan oleh pemerintah untuk membantu masyarakat dalam hal ini mereka yang dikategorikan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) termasuk ke dalam keluarga miskin. Keluarga yang berpenghasilan di bawah lima ribu lima ratus rupiah setiap harinya. BLT diberlakukan sebagai bentuk subsidi lain yang dialihkan oleh pemerintah. Semacam kompensasi, apa ya bahasa gampangnya, pengganti.
Pemerintah katanya terpaksa menaikkan harga BBM karena anggaran dana APBN yang terus mengalami kenaikan karena beban subsidi BBM yang ditanggung oleh pemerintah untuk rakyat miskin. Kok rakyat yang disalahkan, ya? Jadi pada saat BBM dinaikkan, pemerintah memberikan BLT sebagai bentuk tanggung jawab terhadap mereka. Intinya sih, karena semuanya bakal naik dan mahal nih, pemerintah memberikan bantuan deh.
“Dikasih duit gitu miss?”, enggak cuma duit neng!
Pemerintah memberikan BLT dalam bentuk uang yang bisa diambil di kantor pos. Tidak boleh diwakilkan oleh siapa pun dalam pengambilannya harus orang yang bersangkutan. Ya…kalau orangnya enggak bisa jalan digendong. Dulu sih, mereka diberikan uang sebesar seratus ribu setiap bulannya, untuk jangka waktu tiga bulan. Kalau sekarang kurang tahu jumlah pastinya.
Selain uang pemerintah memberikan beras namanya raskin, singkatan dari beras miskin. Ternyata enggak cuma di dunia manusia aja yang mengenal kasta tetapi di dunia beras juga mengenal kasta. Menurut miss sih, berasnya enggak layak makan deh, warnanya kuning, baunya apek, plus suka ada kutu di dalam berasnya. Berasnya enggak dijual gratis, pemerintah memberikan harga seribu setiap kilonya, jatah setiap warga sebanyak dua puluh lima kilo, satu karung kecil. Itu pun sering ditarik pungutan.
“Miss, kalau keluarganya boros kan percuma!”.
Anakku yang imut-imut dan amit-amit. They are so wonderful. Program BLT memang sudah dikritisi, diprotes, oleh berbagai pihak karena dinilai tidak tepat guna. Selain itu para penerima BLT umumnya tidak sesuai dengan data yang dikategorikan oleh BPS, lemahnya lagi BLT hanya diperuntukkan bagi warga yang memiliki KTP daerah setempat dimana data BLT diambil.
“Maksudnya???”. Puih…
Misalkan ada keluarga yang masuk kategori miskin menurut BPS dari Tegal dia tinggal di Jakarta, dipinggiran kali Ciliwung tetapi pada saat pendataan BLT di wilayah tersebut kepala keluarganya tidak memiliki KTP daerah Ciliwung atau DKI Jakarta, berarti orang itu tidak bisa dimasukkan ke dalam keluarga penerima BLT.
“Kasihan banget dong miss!”.
Ya begitulah kenyataan yang terjadi saat ini nak di luar sana. Banyak ketidakadilan untuk mereka yang membutuhkan. Banyak kesulitan untuk mereka yang harusnya dimudahkan. Banyak pengorbanan untuk mereka yang harus diperjuangkan.
“Kok miss bisa tau?”, hehehe.
Sebagai mantan penerima BLT, eh salah, waktu masih jadi mahasiswa miss ikut di dalam penelitian tentang ini. Mendapat tugas mendata berbagai warga miskin yang tersebar di kelurahan-kelurahan seluruh wilayah Jakarta atas permintaan pemerintah provinsi DKI Jakarta. Begono. Seru deh, kepanasan keliling kampung mencari rumah warga yang sesuai dengan data dari BPS. Ooh…
Setelah itu, berbagai pendapat pun muncul. Mulai dari kenapa pemerintah tetap menaikkan harga BBM di tengah harga-harga justru sudah mencekik jauh sebelum BBM dinaikkan. Reaksi yang menyalahkan pemerintah karena memberikan izin kepada pihak swasta asing untuk ikut mengelola usaha pertambangan, terutama di sektor minyak. Mengapa pemerintah tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya saja untuk membayar berbagai hutang luar negeri. Jawabannya tidak semudah itu nak, aka nada dampak dari segala kebijakan yang telah diputuskan. Nanti kalian akan belajar tentang itu, di kelas yang lebih tinggi. Lucunya, ada juga yang hanya diam melongo dan biasanya akan kebagian pertanyaan di akhirnya. Sekedar bertanya iseng, berapa harga bensin sekarang? Enam ribu miss! Solar? Enggak tahu. Saya enggak kerja di SPBU. Hehehe…Pintar juga.
Sekilas, begitulah perbincangan kami di kelas. Saat class time, waktu yang bisa dimanfaatkan oleh guru untuk mendekatkan diri kepada anak-anak berbagi cerita apa saja di pagi hari sebelum memulai pelajaran. Hanya itu nak yang dapat aku berikan pada kalian. Generasi yang akan mewariskan hutang negara yang menumpuk dalam bentuk pinjaman lunak. Mungkin untuk membayarnya kita harus merelakan beberapa pulau dari NKRI terlepas satu demi satu. Mengancam eksistensi Indonesia sebagai bangsa. Tidak ada bedanya dengan kekayaan alam kita yang terus dijarah. Kami berharap banyak pada kalian.
Pemerintah tidak memberikan opsi apa-apa pada rakyat, bahkan mengacuhkan saran dari DPR dan MPR dalam mengambil keputusan kali ini. Harga minyak mentah dunia yang terus melambung ditambah beban subsidi dan tidak sebanding dengan APBN yang mengalami defisit menyeret rakyat ke dalam jurang kemiskinan yang semakin dalam. Menutup rapat telinga, hingga suara-suara dari luar istana pun tidak terdengar.
Jika sudah begini, lebih baik di rumah saja, daripada berkelana jika tidak terlalu penting. Pasca kenaikan BBM, angkot mogok, enggak bisa pulang, enggak ada hujan, enggak becek pula, dan harus naik ojek sampai rumah. Satu kata saja, mahal.
Rakyat dituntut lebih pintar dalam menyikapi problema hidup yang semakin menghimpit. Mungkin filosofis, hidup ini keras bagi kebanyakan rakyat Indonesia merupakan makanan sehari-hari. Biasa saja…Rakyat menjadi lebih cerdas dan kreatif mencari jalan keluar untuk menyiasati hidup, sementara pemerintah semakin terlihat sebagai pecundang yang selalu lari dari masalah.
Mungkin para pelopor kebangkitan nasional akan meratapi ini di alam lain. Mengerutkan keningnya atas segala sesuatu yang terjadi. Rona muka mereka diliputi kedukaan yang mendalam. Itu hanya pikiran gila setiap malam sebelum tidur.
Pesanku padamu nak, di akhir class time, pergilah menuntut ilmu yang tinggi di belahan dunia lain dengan semangat untuk memperbaiki keadaan ini. Kemudian kembali dengan membawa semangat perubahan sebagai pemimpin yang berjiwa muda tetapi terencana juga bijaksana. Temui aku di lain waktu di tempat yang berbeda.

HIDUP GURU!

MENJADI GURU YANG MERDEKA

Idealnya, guru adalah profesi yang sederajat dengan dokter maupun pengacara. Bersertifikasi, tidak dilakukan oleh sembarang orang dan mengantongi berbagai kualifikasi untuk menjadi guru dari berbagai aspek seperti pedagogik, akademik, profesional, dan kesejahteraan, yang tidak kalah penting adalah kode etik serta sikap moral yang dimiliki.
Tentunya semua dicapai bukan dengan cara yang mudah. Begitulah kesan yang saya dapat belakangan ini, bahwa menjadi guru itu mudah. Bahkan lintas jurusan itu biasa, mahasiswa dari fakultas komunikasi menjadi guru dan mahasiswa dari fakultas kejuruan bahasa menjadi wartawan. Bukan suatu kesalahan absolut. Melihat tingginya tingkat permintaan tenaga kerja yang tinggi di sektor pendidikan, lebih tepatnya di wilayah perkotaan pada sekolah-sekolah swasta bertaraf internasional.
Sayangnya, sulit sekali membawa figur guru memiliki kedudukan yang setara dengan dokter maupun pengacara. Banyak hal yang belum membantu merepresentasikan citra guru dalam tingkat seprofesional dokter dan pengacara.
Hal yang harus dibangun dari dalam secara bersama oleh para guru adalah kesadaran kolektif yang kuat. Hampir setiap guru di Indonesia mempunyai problem yang sama. Untuk itu kita harus bekerja sama. Menumbuhkan perasaan kebersamaan tersebut dalam suatu wadah organisasi yang dilakukan secara massif, sehingga memiliki kontribusi baik ke dalam maupun keluar. Dapat membela kepentingan orang banyak. Sehingga hal-hal yang berkenaan dengan profesi keguruan cukup diselesaikan ditingkat organisasi tersebut. Selain itu, organisasi ini merupakan jalur aspirasi resmi yang diakui oleh para birokrat pendidikan karena dianggap cukup mewakili. Apakah PGRI jawabannya?
Dulu, memang begitu. Sekarang, PGRI seperti mandul, sekedar mengusung sikap positif terhadap kebijakan yang ditawarkan oleh pemerintah. Manut saja. Dikelola oleh mereka yang bukan guru, para pejabat pendidikan yang kurang mumpuni ke bawah. Terkesan kurang greget dalam menghadapi berbagai persoalan yang menyangkut pendidikan terutama nasib guru. Bahkan dalam pandangan saya, itu hanya wadah bagi guru dari sekolah negeri yang berstatus PNS. Sementara guru yang berasal dari sekolah swasta tidak tersentuh, nomor dua. Nyaris dianggap sama tidak pentingnya dengan para guru honorer dan guru kontrak yang nasibnya terkatung-katung penuh perjuangan dan ketidakpastian.
Lewat FGII (Federasi Guru Independen Indonesia), ada suntikan baru. Geliat yang selama ini hilang berhasil dibangungkan kembali. Para guru mulai berserikat dengan bebas. Mampu melihat ada potensi gerakan sosial yang bisa dilakukan dengan gaya elegan dalam menyuarakan tanpa harus turun ke jalan. Membuang jauh-jauh segala rupa model pembodohan dalam diri guru, mencerahkan. Membangun jaringan-jaringan informasi dari pusat hingga di berbagai belahan daerah. Membawa iklim kejujuran dan kebersihan secara individu maupun organisasi. Menandai perubahan yang hendak dicapai. Semoga independensi ini tidak membuat organisasi ini ekslusif, anti terhadap birokrasi. Tidak menutup mata terhadap kedekatannya dengan pemerintah sebagai pemegang kunci atas berbagai kebijakan di negeri ini. Menjadi jembatan bagi kedua belah pihak secara berimbang.
Membuka jalan bagi guru untuk diikutsertakan dalam pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh para birokrat pendidikan. Seringkali pada kenyataannya mereka membuat beragam kebijakan tanpa melihat atau mendengar permasalahan yang seharusnya dapat diatasi, bukan muncul dengan mengumumkan kebijakan baru. Akibatnya, berbagai kebijakan serasa tumpang tindih dan membingungkan para pelaksana di tingkat bawah. Dalam hal ini guru sebagai pihak yang harus rela menerima segala macam bentuk keputusan dan anak didik menjadi korban selanjutnya.
Menaikkan posisi tawar guru baik di mata pemerintah maupun di mata yayasan yang mendirikan sekolah adalah angan-angan lainnya. Jika presiden SBY menyatakan BISA! Dalam pidato satu abad Hari Kebangkitan Nasional, pertanyaan saya adalah, bagaimana BISA? Jika sektor yang paling penting dalam pembangunan negara yakni pendidikan sebagai gagang penopang tombaknya tidak pernah mendapat perhatian serius, selalu diabaikan. Belum lagi para pelaku pendidikan yang seperti pesakitan, kembang kempis menghidupi dirinya. Sungguh satu kenyataan pahit yang harus dihadapi.
Salah satu indikasi keberhasilan pembangunan suatu negara adalah negara mampu menjamin kebutuhan akses pendidikan yang layak bagi setiap rakyatnya dengan biaya yang terjangkau dan semakin lama tentunya semakin murah sehingga target pendidikan gratis bukan hanya mimpi. Itulah yang sudah dilakukan China. Memberlakukan investasi pendidikan yang luar biasa, sebelum akhirnya menobatkan dirinya menjadi Naga Asia. Sukses melihat tantangan tingginya jumlah penduduk sebagai sebuah harapan dalam membangun negerinya. Hal yang sama juga tengah dilakukan oleh India. Jumlah tenaga kerja India diluar negeri, bukanlah sebagai buruh rumah tangga, tetapi sebagai tenga profesional atau wiraswastawan. Terbukti, dalam daftar orang terkaya nomor satu berasal dari India. Tidak usah menunggu, anak nelayan mungkin harus menyimpan cita-citanya untuk dapat menembus jurusan kedokteran universitas negeri di Indonesia karena sebagian besar pendapatan keluarganya digunakan sebagai modal usaha, yakni membeli BBM agar layar dapat terkembang. Semata-mata bukan karena hambatan kecerdasannya melainkan biaya yang terus meroket. Anak seorang guru, hanya bisa melihat dari jauh bagaimana ayahnya atau ibunya mengajar di sekolah yang layak, sementara dirinya cukup diajarkan oleh ayah atau ibunya di rumah karena biaya pendidikan yang kian membengkak. Kalau saja bapak presiden tahu bahwa masalah ini sudah sedemikian dahsyatnya…Apalagi yang BISA diharapkan dari bangsa ini? Kehancuran perlahan-lahan, lambat dan pasti.
Sekedar informasi, sebuah studi yang dilakukan oleh Stiglitz dalam bukunya Escape from Natural Resources, ternyata hal ini memang biasa terjadi di negara yang memiliki sumber kekayaan alam yang tinggi. Para penguasa terlalu sibuk mengelola dan menjualnya tanpa bergeming akan apa yang harus dilakukan selanjutnya jika sewaktu-waktu kekayaan alam ini habis. Umumnya ini terjadi di negara dunia ketiga yang tengah sibuk berbenah seperti Indonesia. Sementara tengoklah apa yang dilakukan oleh negara miskin sumber daya alam seperti Singapore mereka menyiapkan generasi berpendidikan tinggi yang siap tampil membangun negara. Mempelajari strategi bagaimana menjadi besar tanpa kekayaan alam yang besar, tentunya dengan ilmu pengelolaan yang matang. Melesat meninggalkan Indonesia menjadi negara dunia kedua dengan posisi yang diperhitungkan oleh berbagai negara di sekitarnya.
Kembali pada lemahnya hak-hak guru dalam berbagai undang-undang. Berbagai yayasan yang mendirikan sekolah kerap menarik persoalan guru yang berhubungan dengan ketenagakerjaan dari UU Ketenagakerjaan yang baru, yang jelas-jelas lebih menguntungkan pemilik modal. Sistem kontrak yang sangat merugikan. Padahal para guru swasta bukanlah pekerja industrial alias buruh. Guru adalah tenaga pendidik. Singkatnya, posisi para guru swasta lebih terjepit dari pada buruh, di beberapa tempat bahkan gajinya justru di bawah UMR buruh pabrik. Jangan salahkan jika menjadi guru hanya sekedar menjadi batu loncatan untuk sebagian orang terutama di kota besar. Sandaran pengalaman sementara, sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya karena penghargaan yang diterima sebagai guru tidak sesuai dengan konsekuensi yang di dapat apalagi sampai tidak sesuai dengan yang dijanjikan.
Munculnya UU No.14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen sangat diharapkan dapat membawa angin segar yang memihak pada keberadaan hak-hak guru. Karena dari berbagai masalah tentang gugatan guru kepada pihak yang bermasalah di pengadilan kerap tidak pernah membawa guru sebagai pemenangnya. Mustahil. Inilah yang diharapkan dari FGII dapat mendampingi guru sampai ke permasalahan yang menyentuh wilayah hukum.
Hak profesional secara penuh yang dimiliki oleh dokter dan pengacara tetapi tidak dimiliki oleh guru adalah hak kepercayaan. Dengan diberikan kepercayaan penuh dalam ruang kerjanya tanpa perlu pengawasan berlebih dari atasan, sekolah, orang tua maupun dari level tertinggi, pemerintah. Guru berhak memberikan model gaya belajar yang mudah untuk diterima anak, memutuskan sesuatu sesuai dengan porsinya, mengevaluasi beragam tindakan, mengoreksi kegiatannya secara berkelanjutan tanpa harus diintervensi mendalam. Dikebiri pemikirannya, apalagi diintimidasi. Inilah yang diperlukan oleh guru sebagaimana dokter dengan pasiennya dan pengacara dengan kliennya.
Ruh, motivasi, dan semangat dalam mengajar akan terpupuk seiring dengan kemampuan berkreasi dan keintiman dengan anak-anak didik. Jadi, kita tidak bisa menunggu lagi. PR ini harus diselesaikan satu per satu. Momen yang tepat untuk bangkit, memberikan kontribusi sebanyak-banyaknya kepada pemerintah atas berbagai macam wacana dalam dunia pendidikan Indonesia yang kian memprihatinkan. Menuntut diselesaikan dan diperbaiki demi menyelamatkan wajah bangsa dan demi anak negeri.

Senin, 12 Mei 2008

HEHEHE

PSIKOTEST ISENG SURISENG

1. Pertama-tama tulis angka 1 sampai sebelas dikertas anda secara vertikal (atas ke bawah)
2. Tulis angka yang paling kamu senang (antara1-11) disebelah angka No.1 dan 2
3. Tulis 2 nama orang (lawan jenis) yang kamu kenal, masing-masing di No.3 dan No.7
4. Tulis 3 nama orang yang kamu kenal di No.4, 5,6. Disini kamu boleh menulis nama orang di
keluarga, teman, kenalan. Siapapun OK. Cuma harus yang kamu kenal
5. Di no.8, 9, 10 dan 11 kamu tulis nama judul lagu yang berbeda-beda

NAH......... dibawah ini ada jawaban dari psikotestnya mudah-mudahan cocok jawabannya.
1. Anda harus memberitahu ke orang yang anda tulis di No. 7 tentang psikotest ini.
2. Orang yang anda tulis di No.3 adalah orang yang kamu cintai.
3. Orang yang anda tulis di No.7 adalah orang yang kamu suka, tetapi bertepuk sebelah tangan.
4. Orang yang anda tulis di No.4 adalah orang yang anda rasa paling penting bagi anda.
5. Orang yang anda tulis di No.5 adalah orang yang paling mengerti tentang anda.
6. Orang yang anda tulis di No. 6 adalah orang yang membawa keberuntungan pada anda.
7. Lagu yang anda tulis di no. 8 adalah lagu yang ditujukan untuk orang No.3
8. Lagu yang anda tulis di no.9 adalah lagu yang ditujukan untuk orangNo.7
9. Lagu yang anda tulis di no.10 adalah lagu yang melukiskan apa yang ada di hati anda.
10. Terakhir, lagu yang anda tulis di No.11 adalah lagu yang melukiskan hidup anda.
BAGAIMANA APAKAH CUKUP JITU ??????
Adakala anda meminta nasehat mengenai cinta,
Adakala juga anda berbagi sepatah dua patah cinta kepada yang membutuhkan.

MMH...

DARI SEMINAR TIKA BISONO

CHILDREN ARE LIKE RAINBOWS
OUR LOVE SHOULD PAINT IT WITH SOUL
SO, THEY CAN LEAD THE WAY AND POSSES A SENSE OF PRIDE

DARI IMEL TETANGGA

3 HARI

Sebenarnya, kita hanya punya 3 hari saja...

Yang pertama :Hari kemarin. Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan; dan mengulangi kegembiraan yanganda rasakan kemarin.Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja...

Yang kedua :Hari esok. Hingga mentari esok hari terbit, Anda tak tahu apa yang akanterjadi.Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari.Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.Esok hari belum tiba; biarkan saja...

Yang tersisa kini hanyalah hari ini ...Pintu masa lalu telah tertutup; pintu masa depan pun belum tiba.Pusatkan saja diri anda untuk hari ini.Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila anda mampu memaafkanhari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit. Hiduplah apa adanya.Karena yang ada hanyalah hari ini; hari ini yang abadi.Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada anda.Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudahberganti.Ingatlah bahwa anda menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karenasiapa mereka, tetapi karena siapakah diri anda sendiri.

Jadi teman, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga!!!

The day will come when you will review your life and be thankful for everyminute of it.Every hurt,every sorrow, every joy, every celebration, every moment ofyourlife will be a treasure to you......

Jumat, 09 Mei 2008

LAGI GAK PENGEN

TEBAK-TEBAK BUAH MANGGIS

“Nun, aku bisa merasakan sesuatu saat dia menatapmu. Ada pancaran yang lain di sana”.


Begitu kata seorang teman di suatu malam yang cerah, malam yang berbeda dari malam-malam sebelumnya yang diderai hujan.Gue cuma bilang dalam hati, lucu juga nih orang, sok tau gitu. Hahaha.

“Oh ya? Kok aku enggak merasakannya ya? Waktu kapan? Momennya deh!”, jawab gue sekenanya.

“Aku enggak bisa menjelaskannya ke kau. Tapi, itu hal yang sama yang aku lihat pada saat Ben menatap Jane di Yogya (bukan nama sebenarnya, nama aslinya Poniman dan Tukiroh asli Indonesia bangettt), waktu kita menawar andong dan mau pergi ke alun-alun selatan”. Jelas mbakyu yang satu ini.

Secara dia lebih tua dari gue, jadi percaya aja kali ya…takut durhaka. Meskipun masih mikir…masa? Just for your info, Ben dan Jane itu karakter orangnya bukan fiksi dan cerita cinta mereka berdua juga bukan rekaan, asli ada.

“Kau enggak tertarik dengannya?”, sambungnya lagi. Gue pikir dia udah lupa sama topiknya.

“Kita berbeda sekali dan rasanya kita udah imun satu sama lain”, emang benar kok, enggak berniat lebih.

“Bagaimana jika ternyata perkiraanku benar?”, heh?

“Sudah cukup tegas dan jelas bahwa kami berteman,” enggak tahu mau jawab apa lagi.

“Bagaimana jika ia tidak tertarik secara fisik, tetapi pada yang lainnya?”, huahaha…orang ini masih penasaran.

Jawaban gue selalu akan tetap sama dan akan selalu singkat. Lain halnya jika gue benar-benar menyukai seseorang pasti gue akan simpan semua memori tentang orang itu di otak gue dan gue akan mencari tahu tentangya. Hanya membutuhkan sedikit keahlian dan ketrampilan tangan serta waktu luang maka informasi apa pun dapat ditemukan di dalam internet dalam waktu sekejap. Kayaknya sering ya? Udah cum laude sama urusan yang begituan…Kikikik. But not with this guy.

“Enakan kayak sekarang aja deh. Lagi pengen enggak mikirin itu dulu setelah peristiwa yang kemarin”, intinya enggak akan dicoba.

“Kenapa sih kalian enggak coba dulu?”, halah tambah panjang. Tiba-tiba si mabkyu melanjutkan…

“Sama yang kemarin nangis enggak?”, gimana ya?

“Enggak, malah ketawa. Udah janji soalnya enggak mau nangis. Udah kemarin-kemarin nangisnya. Jadi udah malas dan udah diikhlasin aja.”

“Wah, enggak normal itu namanya. Harusnya kau nangis, biar luapan emosimu keluar. Jangan ditahan. Enggak bagus tuh”, si mbakyu menasihati.

“Sedih sama keluar air mata dikit. Hehehe. Soalnya aku udah tahu endingnya bakal sama kayak yang kemarin-kemarin. Aku udah cerita soal aku dapat mimpi?“, belum kayaknya.

“Mimpi apa?”.

“Pokoknya sebelum aku menanyakan hal itu kepada dia, aku diberikan mimpi karena aku memintanya. Ya Allah, tolong berikan aku pertanda apakah orang ini untukku.atau bukan. Terserah Allah mau kasih petunjuknya dalam bentuk apa. Ternyata lewat mimpi”, sekarang giliran si mbakyu yang penasaran.

“Aku dan dia berjalan dari arah yang berbeda, begitu kami berdekatan dan berpapasan lalu aku menyapanya, dia sama sekali enggak jawab. Gitu. Ada dua sebenarnya, mimpi yang satu lebih jelas lagi. Sutralah, yang penting udah selesai. Udah direlakan”, yeah…

Prediksi yang lucu dari si mbakyu. Udah gak trendi lagi kalu mesti pakai acara gede rasa dan kepedean, itu praktis dan otomatis musnah dalam waktu singkat. Cukuplah dua kali dengan orang yang sama dan pengalaman yang sama merasakan keyakinan yang membabi buta dan larut dalam sebuah rasa. Jangan lagi kali ya…Kalaupun balik lagi, mesti jelas aja.

Lantas mbakyu berpesan pada gue untuk enggak menceritakan ini ke orang yang bersangkutan. Padahal gue pengen banget kasih tahu ke orang yang bersangkutan. Dia pasti akan cewawakan. Jika hubungannya lantas meregang seperti yang kemarin? Gue rasa enggak. Kita udah sepakat, apa pun yang orang lain lihat, tanya, dan mencoba menebak tentang kita, pembuktiannya akan tetap sama, tidak lebih dari pertemanan biasa. Apa perlu konfrensi pers nih?

CAN DAKOCAN, KESEREMPET DELMAN...

PANGGUNG UNTUK ANAK-ANAK

Gue rindu masa itu. Bernyanyi lagu anak-anak yang juga didendangkan oleh anak-anak dengan gaya anak-anak setiap jam 09.00 pagi di TVRI, disusul Album Minggu Kita, Ria Jenaka, lanjut ke Berita Olahraga. Huhuhu…


Si Lumba-lumba, bermain api…Bondan Prakoso. Helo, long time no see!

Abang tukang bakso, mari-mari sini! Melissa. Hi, are you still alive? Hope so!
Di rumahku banyak nyamuk, gara-gara aku malas bersih-bersih. Eno Lerian yang udah jadi ibu-ibu.

Kutakut mamaku marah, kalau terlambat sekolah. Trio Kwek-Kwek yang udah enggak lucu lagi.

Kring-kring…goes-goes…Gue lupa siapa yang nyanyi pokoknya gue benci sama lagu itu karena gue enggak bisa naik sepeda.

Si jago mogok namanya kuberikan…Puput Melati. Ibu-ibu juga…gue sarankan ke lo untuk jadi ketua arisan mantan penyanyi cilik cewek bareng Eno Lerian. Kikikik.

Batman, engkau jagoanku. Batman, engkau idolaku. Hehehe.

Kemudian lahirlah Agnes Monica bersama Eza Yayang, Meisy yang centilnya minta di bom, Chikita Meidy, Joshua, Cichio, Boboho, Cendy Cenora, Tina Toon, Sherina, Tasya, yang bermutu festival diwakili Albert Denias dan Samuel. Masing-masing dengan daya pikatnya sendiri.

Maaf Papa T.Bob, apakah hasratmu untuk menciptakan lagu anak-anak dan mengorbitkan para penyanyi cilik kini terkubur dan musnah? Let me help you. Para pencari bakat, apakah kalian melihat bahwa saat ini banyak anak-anak yang masa kecilnya tercerabut dengan membiarkan mereka menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang kita sering melihatnya sebagai kelucuan biasa.

Bapak AT. Mahmud yang budiman, tolong kami untuk mengembalikan keceriaan kami di masa lalu. Bisakah engkau perlihatkan taringmu kembali?Tidak ada ruang bagi anak-anak untuk berkreasi saat ini di televisi. Kalau pun ada, anak-anak itu lebih memilih untuk berlagak dan didandani selayaknya orang dewasa. Memainkan peran menangis tersedu-sedu atau disiksa memperagakan Ari Anggara dengan ibu tirinya.

Om Elfa Secioria, andai kau bisa mencium bakat-bakat baru atau mungkin sedang tumbuh di sekolah vokal Pranajaya? Mbak Bertha, bisakah kau temukan untuk kami. Mas Indra Lesmana, bolehkah ajang kompetisinya di rubah menjadi Young Indonesian Idol?

Di setiap perempatan jalan di Jakarta ada bibit-bibit potensial yang terus dikesampingkan. Ada petarung di sana, banyak pekerja rajin, bocah bersuara emas, tapi tidak beruntung. Pada akhirnya sama-sama meneriakkan sejumlah masalah orang dewasa dengan tema perselingkuhan yang sedang populer ditandai oleh pacar gelap. Tuhan, itu belum waktunya!

Kegemasan ini, kecemasan ini, kerinduan ini akan datangnya anak-anak kecil yang mampu berdiri kembali di atas panggung, berlenggak-lenggok jenaka dan lugu. Salah atau benar tidak pernah malu. Menyuarakan hal-hal yang tidak penting bagi orang dewasa tetapi kita ingin tetap menontonnya dengan perasaan bahagia akan kenangan dan titipan masa depan.

Sungguh aku rindu… bernyanyi bersama teman-temanku di depan televisi mengikuti gaya Bondan Prakoso, Melissa, Eno Lerian, atau Puput Melati. Setelah itu kita berhamburan ke lapangan dan bermain getok lele, galasin, kasti, karet, kelereng, atau layang-layang sambil ditemani es mambo, permen cicak, coklat ayam jago atau wafer Superman.
Indahnya masa kecil yang abadi…


DITUNGGU: MARYAMAH KARPOV

ANDREA HIRATA LOVERS

Teman-teman cewek gue lagi pada keranjingan tetralogi buku Laskar Pelangi yang ditulis sama mas-mas gondrong, keriting, bertubuh gempal dari Pulau Belitong tapi udah sampai benua lain. Sekarang mereka sedang termehe-mehe, apa istilah kerennya ya? Terpukau bangets. Serta merta pula enggak sabar menunggu kehadiran siapa Maryamah Karpov dan bagaimana cara si mas-mas itu menuntaskan perjalanannya di buku terakhirnya.


Saat buku itu terbit, enggak banyak orang yang tahu kalau buku itu bagus. Baru belakangan ini aja orang sadar akan kisahnya yang sangat inspiratif. Buku yang mencoba menjawab: ketika kami kekurangan dan tidak diperhatikan, bukan lantas kami marah, tapi kami berbuat dan berusaha serta menepis semua anggapan bahwa menjadi pemimpi itu bukan tidak berguna. Bermimpilah untuk sampai ke langit yang tinggi, dan kami buat itu menjadi kenyataan, dengan segala keterbatasan kami dengan semangat kami, dengan kelebihan yang kami sadari. Itulah yang menjadi kekuatan kami. Kalau gue enggak lagi sok tau kayaknya gitu deh kira-kira maksudnya. Benar enggak Ndre?

Hirata menjawab satu masalah dan kebiasaan orang Indonesia yang buruk atas penafsiran mimpi. Maksudnya? Ya sinetron itu! Selalu menyuguhkan solusi stagnan. Mimpi sinetron. Hanya berusaha merebut hati pria ganteng dan mengutarakan cintanya pada perempuan cantik. Bahkan melulu terjebak pada situasi perpindahan jenjang stratifikasi sosial ekonomi tokohnya, dari PRT lantas jatuh hati dengan anak majikannya dibumbui pengorbanan dan perjuangan yang katanya atas nama cinta. Pemulung yang serta merta dalam beberapa episode berubah membawa mobil Jaguar. Hahaha. Mirip panggung komedi yang sama sekali enggak lucu. Memprihatinkan.

Anehnya lagi ada stasiun TV yang katanya No.1 menurut rating Nielsen tapi acaranya sama sekali enggak terkonsep dan gajebo (enggak jelas bo!). Waktu gue libur, gue coba pantengin tuh stasiun TV, amit-amit…isinya enggak mutu banget. Pagi, sinetron yang di dubbing yang ceritanya enggak jelas di campur-campur antara mistik, ala Bollywood sama pukul-pukulan. Siang, ya itu juga…artisnya maksa semua. Emang ada yang suka? Au ah. Malam ya sami mawon.
Lebih parahnya lagi tiap malam ada acara artis-artis nyanyi enggak jelas dari maghrib sampai hampir tengah malam. Gerah banget jack! Kalau stasiun TV No.1 kayak begono, lo bayangin dong yang No.5 kayak apa? Eniwei, gue juga enggak terlalu percaya sama tuh media riset plus hasil risetnya.

Kembali ke Bapak yang satu itu, dia kaya sekali akan pengalaman hidup ya bo! Teman-temannya itu loh, unik dan sangat berprestasi. Semuanya memiliki kecerdasan masing-masing yang sensasional untuk ukuran orang yang hidupnya minim akses. Tekad yang kuat pada akhirnya mampu untuk melenyapkan segala kepesimisan tentang hari selanjutnya, karena keyakinan. Padahal Hirata ini juga pemimpi. Entah kenapa, menurut gue pribadi dia pemimpi yang sehat juga hebat. Karena kerja keras dan perjuangan, selebihnya biarkan keberuntungan yang bermain. Bukan tebak-tebak buah manggis dan tujuan akhirnya selalu ukuran materi.

Buku itu juga menyuguhkan kegetiran setiap orang akan rupa pendidikan di Indonesia yang melulu melihat anak dengan angka-angka yang manis dan bertinta hitam. Potret-potret pahlawan yang raib belakangan ini, ternyata tumbuh diantara pulau di tengah luasnya lautan, diantara lahan tambang yang mulai terkuras, dan rimba yang lebat. Mereka tenggelam dalam hiruk pikuk dunia yang lain, yang jarang menganggap mereka sebagai bagian yang penting dan layak diberikan sesuatu sebagai motivator nomor satu bagi bangsa ini. Wuih sadis ya kalimat gue…Maklum biasa…lagi kesambet.

Dari ketiga bukunya gue paling suka Laskar Pelangi, enggak tahu kenapa. Mungkin karena berhubungan dengan profesi gue, jadi gue merasa kena banget aja. Menambah jumlah daftar ketidaksempurnaan gue sebagai guru sekaligus melihat anak-anak gue dengan cara yang baru, dan baru. Kalau boleh jujur, gue bukan orang yang setia dengan Diknas. Gue lebih suka melihat perkembangan anak gue yang semakin gede dari kurikulum yang lain yang bernama pendekatan psikologis. Percaya deh, itu luar biasa banget.

Kalau lo pengen orang jatuh cinta sama lo, buatlah lo mengerti tentang dia, maka dia akan sangat merasa dihargai, diperhatikan, dan dekat. Saat dimana kita bisa menjadi akrab dengannya maka kita akan mudah untuk lebih mengenalnya, memasukkan pengetahuan, pandangan, dan lain sebagainya. Berikanlah bekal yang cukup untuk dia terbang jika suatu saat dia harus melanjutkan hidupnya tanpa kita bisa menemaninya lagi. Taelah…

Rasanya buku pertama dan kedua, Sang Pemimpi, harus diperkenalkan pada anak-anak gue yang kebetulan udah lumayan gede. Cukup mengerti jika ibunya yang satu ini di sekolah sering bercerita tentang hal-hal yang belum mereka pernah mereka alami sebelumnya. Lantas ketika orang tua mereka bertanya pada mereka di suatu malam, hanya perasaan was-was yang gue hadapi. Waduh, mereka bilang apa ya? Sebab ibunya ini seperti pedagang obat atau pendongeng. Lebih banyak bercerita dan menyisipkan jiwa liarnya dan mimpinya pada setiap materi daripada harus melihat rencana mengajarnya, dan itu sulit sekali untuk dihentikan (maaf Pak Kepsek). Sejenak berdiskusi, memperdebatkan, bertanya, atau pun bercanda, selebihnya itu hanya trik dari anak-anak agar tidak diminta mengerjakan latihan dan tugas di jam pelajaran. Hahaha…

Tentang mimpi, gue inget ada anak gue yang bercita-cita pergi ke Las Vegas, entah apa tujuannya, mungkin ingin mendapatkan kebebasan yang dia belum tentu mengerti maknanya. It’s ok! Satu orang lagi sedang dalam tahap penjajakan menjadi hacker junior dan sukses menjebol password komputer kelas. Pada sudut kelas yang lain ada yang menyimpan mimpinya menjadi game maker. Ada pula anak laki-laki yang tidak begitu menonjol dibidang akademik, tapi dia mampu berperan sebagai tokoh penting dalam karakter cerita Pitung dengan baik. Siswa spesial needs yang sering menjadi pembawa acara. Seorang anak yang tidak bisa diam tetapi sangat energik sekali dalam bidang olahraga. Pendebat yang sering memancing amarah juga ada, lawan yang tangguh dalam berargumen.

Soal mimpi sepertinya ada yang menarik untuk ditulis. Sayang dilewatkan. Waktu itu di kelas 7 gue bertanya sama anak-anak, gimana ya cara menghentikan aktivitas lumpur Lapindo? Satu anak menuliskan begini:
Membuat bola-bola yang di cor dengan menggunakan semen. Mulai dari bola kecil sampai bola yang besar. Kemudian bola-bola itu diangkut dengan helikopter dan dimasukkan kedalam sumur yang menjadi sumber luapan lumpur secara berurutan bola kecil, lalu ke bola besar.

Saat membacanya gue tersenyum, agak enggak percaya. Terus dibahaslah masing-masing ide setiap anak, seru. Gue masih enggak yakin aja. Beberapa bulan kemudian, pemerintah ternyata memakai ide itu untuk menangani luapan lumpur. Bedanya hanya pemerintah menggunakan traktor, mesin penggerak, entah apa itu namanya.

Gue merasa bertanggung jawab untuk memberitahukan pada anak itu bahwa idenya luar biasa, dan sekaligus meminta maaf atas ketidakyakinan gue saat itu. Dia tersenyum lebar sekali. Semua anak di kelas itu langsung memberikan tepuk tangan dengan riuh buat dia.

Menghadapi para pemimpi rasanya berwarna, kompleks, penuh tantangan, sedikit beban, sering menguras energi, melengkapi hidup, mengisi hati karena terlanjur jatuh cinta. Dua tahun bersama mereka. Gue masih ingat bagaimana saat pertama kali mereka datang dan gue memperkenalkan diri. Sesama orang asing yang baru aja berkenalan, dan dipaksa untuk menjalin komitmen yang serius, agak aneh. Tinggal satu tahun ke depan bersama anak-anak yang lucu-lucu itu…(lucu?).

Lalu…lalu…Edensor. Perjalanan lain ke Eropa berikut deritanya. Banyak kata-kata puitis di sini. Bahasa Perancis dimana-mana. Plus teman-teman Andrea yang baru. Gue mesti mencernanya agak lama, maklum kebiasaan baca buku serius modelnya Sosiologi buat ngajar dan sibuk mikir, gimana ya, cara menjelaskan bahasa-bahasa mata kuliah ini ke dalam bahasa anak ABG yang bikin mereka ngeh. Lagi pula gue juga agak-agak lemot dengan bahasa puisi, karena dulu pernah ada orang yang mengirimkan puisi ke gue tengah hari bolong lewat sms, dan gue mengira arti puisi itu bahwa dia mengajak gue menikah, berusaha mencernanya seharian, padahal kata temen gue, itu puisinya Om Taufik Ismail (Gila, sok akrab abis! Sok tau pula. Aduh…malu bangettt!). Huahaha…:P.
Sukses itu ternyata dimanfaatkan oleh orang lain. Positifnya bukunya dijadiin film. Negatifnya, bukunya dibajak jeng! Oalah orang Indo tuh ya…gak boleh melihat sedikit peluang, langsung diembat, bat, bat.

Ndre, kami ingin bertemu dengan Lintang lho! Sekaligus ingin memberitahukan bahwa ternyata di sekeliling gue banyak perempuan yang ingin dipinang oleh laki-laki cerdas yang sering mencoba tantangan di batas titik terendahnya, rendah hati, sekaligus puitis seperti dirimu. Sepertinya akan ada banyak perempuan yang patah hati karenamu dan sedang mencoba menggapai mimpinya atasmu. Apakah kau tidak berminat untuk menuliskannya dibukumu selanjutnya, dalam bab terakhirnya, pada siapakah kau menaruh hati pada ujungnya?



GILA DIKIT BOLEH DONG?

KARAOKE, KE…KE…KE…(ECHO DIKIT)

Dah pernah gue bilang kan, kemaren pas lagi bosen banget kita lima orang perempuan ngedatengin karaoke gara2 dikomporin ma temen gue yang punya voucher gratis. Karaoke? Boljug tuh! Secara gue belum pernah ke karaoke sebelumnya dan juga pengen ngetes suara buat ikutan kompetisi Papania. Hayo siapa yang mau jadi manajer gue? Wuakakak. Secara gue tomboy dan deket ma bokap, dulu…waktu kecil, dalem keadaan apa pun, pasti bilangnya, “Mo ma Papa aja”. Anak Papa banget. Ada nama Nia juga dibelakang nama gue, pas kan? Alasannya maksa gak sih?! Sutralah…


Dalam rombongan itu, sayang gak ada yang tajir (termasuk gue), jadi pergilah kita semua naik angkot, metro mini, udah lama banget tuh gue gak ngejar2 metro mini. Kata orang2, kernetnya kali Nun yang lo kejar! Kampret. Laper, ngantuk, padahal kita gak ngapa2in loh pas Raker bukan Roker, cuma duduk dengerin para trainer doang, tapi energi yang kesita itu banyak banget. Akhirnya sebelum naik ke pelaminan, eh salah ke metro mini kita membajak tukang batagor dan siomay, gak lupa untuk membeli air mineral, karena konon di tempat2 seperti itu harga makanan dan minuman mahal. Sumpah, pelit abis! Buruan yuk, karena waktu vouchernya terbatas! Di bus kita sempet ngobrol cekakakan, ngingetin: pokoknya pilih lagu jadul yang norak, itu kudu dinyanyiin. Setuju! Nia Daniati, Betharia Sonata, Dian Pisesa, Rinto Harahap, Deddy Dores, kalo perlu Pance, zamannya Aneka Ria Safari ma Kamera Ria. Huahahaha. Iya tuhhhh!

Singkat cerita, sampailah kita pada tahap krisis, masuk ke tempat karaoke udah kedengeran suara musik yang gue tau banget itu lagu apa, Kucing Garong! Men, gue mo pulang, boleh gak? Abis booking tempat, langsung kita lari ke ruangan atas, nah…kegilaan di mulai. Mari kita manfaatkan waktu dengan baik. Pick our song to sing together, gak pake lama. Ada yang milih lagu jadul, lagu masa kini, lagu gak berperasaan (lagu cinte2an), baik Indonesia, yang berbahasa Inggris maupun yang berbahasa Korea (note: bahasa musik universal (ngeles lagi)).

Sayang surayang, lagu yang pertama kali dipilih bikin gue ilfil, itu tuh…disuruh nyanyi lagu jemuran, GANTUNG. Gue sempet sebel ma Melly, kenapa sih dia nyiptain lagu yang menyinggung perasaan orang lain, kata Melly, “Maksud lo??? Ngerasa kesindir ya? Kasihan! Suka2 gue dong!”. Huahaha. Pertama, nyanyinya malu2 gitu, tapi pas dapet lagu yang menghentak perasaan langsung pada berebutan buat nyanyi. Ada beberapa lagu yang kita nyanyi sampe teriak2, beda tipis antara falsetto ma fals. Kalo gak salah lagunya Sheila Madjid yang liriknya, “Aku cinta padamu, sungguh, mesti kah kuulangi dari mulutku sendiri”, sambil nunjuk2 ke tv kayaknya puassssssss dan lega. Maklum yang bernyanyi adalah satu orang calon pengantin, satu orang yang bingung apakah menikah tahun ini atau tidak, satu orang yang ngerasa udah menemukan seseorang walaupun gak jelas, satu orang yang sedang dijodohkan (gue sering ngecengin nih orang, “Dulu dia mo dijodohin ma gue tuh, guenya gak mo”.Haha), dan satu orang yang lagi terpesona ma cwo yang smells good.

Pas lima orang, kan? Gue yang mana hayo? Itu gue semua! Maruk banget ya, gak menyediakan porsi buat bintang tamu. Hehe. Ya gak kali…tebak aja. Eniwei, inget gak, di film2 atau komik Jepang, sering diceritain kalo orang Jepang tuh suka banget pergi ke karaoke habis pulang kantor, di Benteng Takeshi juga ada permainan karaoke kalo gak salah. Yah…kita tau lah suara orang Jepang dan dialek Inggrisnya kayak apa. Tapi mereka cuek aja teriak2 gak sesuai nada. Tancep terus, layar kaleee…

Yang kocak, ditengah pas kita lagi milih lagu, teman gue yang satu teriak, “Don’t speak!”, kontan teman gue yang disebelahnya bengong dan bingung, “Emang gue salah apa ma lo?”. Kita ngelihatnya, loh? Kenapa nih? Lagi asyik kok berantem. Ternyata eh ternyata, teman gue yang satu mo minta lagunya No Doubt zaman gue SMP, Don’t Speak, tapi gara2 teman gue teriak, teman gue yang satu lagi ngiranya marah2. Tulalit. Ketan diragiin, tape dehhh! Kikikik.

Tiga jam yang gak berasa sama sekali, dan kita janjian buat pergi lagi kapan2. Gak ada cwo ya! Ladies only! Saving private expression given off (wedeh, jadi inget Erving Goffman dengan dramaturginya, apa kabar ya?). Jangan ngajak orang jaim ke sini, rugi! Percaya deh. Pas mo pulang, ngelewatin ruangan2 lain sama juga, lagi pada teriak2. Gue komentarin sambil lewat, “Masih bagusan suara kita”. Langsung pada ketawa lagi. Baru berasa ngantuk lagi di metro mini. Dan gue juga baru tau kalo ternyata harga sewa karaoke perjamnya semakin malam semakin mahal. Untung udah cabut. Bikin Karaoke Lazzy Time nih!


APA KABAR?

BERPELUKAN…

…menghapus jejak atau kenangan tentang seseorang begitu aja dari ingatan gue bukan sesuatu yang mudah, manakala orang itu banyak menorehkan berbagai pegangan hidup yang luar biasa. Mengajari gue hal2 baru, membantu gue berdiri, mengoreksi gue berbicara, memandu gue dalam bersikap, mengingatkan ketika gue salah, mendengarkan saat gue bercerita, dan menorehkan berbagai pengalaman. Walau hanya sebentar, tidak berapa lama kita dipertemukan, tapi gue…akan selalu mengingatnya sebagai semangat hidup dan bagian dari perjalanan yang masih panjang.

Semakin umur gue nambah, setiap kali gue ditinggal pergi ma orang, gue semakin ngerasa betapa hebatnya orang2 yang masuk dalam kehidupan gue belakangan ini, dan gue sangat merasa kehilangan ketika ada yang pergi meninggalkan gue dengan sekeranjang kebaikan. Empat orang pergi di waktu yang sama untuk satu tujuan, bahwa lo yang harus memutuskan hidup lo, bukan orang lain. Di waktu yang bergantian, di tahun ini, tiga orang dari mereka mendapatkan orang yang udah digariskan. Dan mereka memutuskan untuk ikut bersama orang yang mereka sayang. Ada yang ke Bengkulu, Makassar, dan Solo.
Tahun depan, gue gak tau mo ditinggal ma mbak gue yang mana lagi, atau bisa jadi gue yang akan pergi, entah dengan alasan yang sama atau sama sekali berbeda keadaannya. Lebih baik berani mengambil keputusan, daripada diam sama sekali. Berani memutuskan melihat dunia luar yang berwarna dari tempat gue berpijak sekarang. Untuk belajar tentang hidup lebih banyak.

Gue coba nahan untuk gak nangis, berhasil, dari pagi sampe sore. Mereka duduk di sebelah gue pun di saat2 terakhir, waktu gue menyampaikan beberapa kata, gue masih bisa nahan untuk gak nangis. Gue selalu bilang ke anak2, siapa bilang yang boleh nangis cuma perempuan? Sementara laki2 gak boleh nangis? Emangnya laki2 itu robot? Emangnya laki2 itu bukan manusia? Emangnya laki2 itu gak punya perasaan sedih? Laki2 dan perempuan bisa sedih, boleh nangis, cuma…bukan untuk sesuatu yang percuma, kalo bisa gak menampakkan kesedihan di depan orang lain, nangis kan gak perlu rombongan, sedih juga kan gak perlu harus diiringi dengan air mata dan histeria. Ekspresikan kesedihanmu dengan cara yang wajar, bahkan kalo bisa orang gak tau kalo kamu lagi sedih.

Di satu sisi gue ngerasa, apa ini kedaleman ya, buat anak seumuran mereka? Di sisi lain, siapa lagi yang mo ngasih tau mereka kalo bukan gue? Apa omongan gue yang berat2 gitu nempel ke mereka? Mereka hanya sampe dalam batas tau dan paham, belum sampe tahap refleksi. Anak seumuran mereka cenderung akan menjauhi kata2 bijak dari telinga mereka karena terlalu berat. Tapi, pada saat mereka tersandung, sendirian, terdesak, mereka belajar untuk mengingat perkataan yang awalnya terlihat sepele, akhirnya berubah menjadi sebuah kekuatan.

Kadang gue juga suka ngerasa, siapa sih gue? Cuma bisa ngomong doang. Gimana jika omongan yang keluar dari gue dipegang oleh anak2 gue? Ada satu kejadian di mana anak gue kesel karena dia gak terima pas gue kasih tau, dia cwo, badannya besar, kadang dia terlihat kuat banget, sering juga tiba2 sensitivitasnya muncul. Tanpa izin dia langsung ngeloyor dari kelas, gue tungguin gak balik2. Gue tau dia nangis di kamar mandi. Gue diemin, sampe tenang, gue tunggu dia balik ke kelas. Waktu istirahat dan anak2 main, gue panggil, gue ajak ngobrol berdua, maunya apa? Gue kasih tiga pilihan, dan gue minta dia bilang ke orang tuanya atas pilihan itu, gue kasih waktu sehari untuk dia berpikir. Lo tau apa yang terjadi? Orang tuanya telpon gue, dan orang tuanya bilang, “Ms…karena dia kesel, jadi dia lebih baik keluar untuk mengontrol emosinya, karena dia gak mo dilihat teman2nya kalo dia nangis. Katanya, Ms. pernah bilang di kelas kalo nangis jangan ditunjukkin ke orang2”.

Gue langsung merinding. Anak2 itu menyimpan dan merekam semua yang datang dari gue. Sama seperti gue yang suka menyimpan dan merekam sesuatu, kok nurun ya? Anak2 itu menjadi lebih dekat dengan gue yang gak mereka kenal setahun yang lalu. Meresapi kata2 gue yang kadang belum tentu benar dan gue sendiri masih perlu ditepuk bahunya untuk disadarkan. Peran yang gue ambil sekarang bukan gak ada artinya, melainkan sutradara atas jalan hidup seseorang kelak. Gue selalu berdoa, “Ya Allah…jangan biarkan mereka menyimpan dan merekam segala sesuatu yang tercela dariku untuk mereka contoh dan mereka mengira bahwa itu perbuatan yang terpuji. Nauzubillah. Karena sesungguhnya kebenaran hanya milikMu”. Amien. Karena gue sering ngerasa error, jauh dari role model guru ideal.

Menangis menjadi sesuatu yang tertunda sore itu, tertahan lama, tapi hanya selang beberapa saat semua menjadi terbalik. Mengingkari perkataan sendiri, meleleh dalam dekapan orang lain, dan merasa menjadi orang paling cengeng. Meluapkan rasa kehilangan yang gak biasa. Gak ada lagi orang yang tiap pagi nyubitin gue kalo gue lewat di depan kelasnya, mulai dari pipi sampe pinggang, walaupun gue suka BT dengan cubitannya yang sakit itu. Gak ada lagi yang cerita ke gue tentang pengalaman pernikahannya yang begitu polos dan malu2, dan gue ketawa2 sok memberikan petunjuk2 katro. Hehehe. Gak ada lagi orang yang bisa ngedengerin gue saat gue kesal ma satu orang dan sabar banget ngelihat gue senyum2 sendiri di depan komputer dan marah2 kalo jaringan internetnya diputus atau diprotect. Gue kesel ma mereka karena tiga hal, terlalu cepat berpisah, menikah mendahului gue, dan keluar sebelum gue! Selebihnya gue cinta ma mereka.
Rasanya…baru kemarin kita ketemu ya mbak2, dengan segala keangkuhan kita masing2, sampe kita melunak satu sama lain, dan berteman. Tapi saat mata kita bertemu, tangan kita berdekatan untuk mengucap maaf, mengapa bibir kita semua menjadi kelu dan hanya dapat diartikan dengan bahasa air mata. Ada yang menarik gue ke dalam pelukannya sampe lama dan kita saling membisikkan berbagai macam kenangan, harapan, pujian, dan maaf.

Dari kecil, gue bukan tipe orang yang suka dipeluk oleh siapa pun. Dari banyak perpisahan dalam hidup gue, di tahun ini gue merelakan untuk dipeluk oleh anak2 gue, teman2 gue, dan membiarkan mereka berlama2 di bahu dan pundak gue. Terlalu banyak kenangan dan juga perpisahan dalam waktu yang serba cepat. Janji gak akan lupa. Selamat ya, dan selamat jalan, semoga selalu ada asa, cita, dan cinta yang lebih baik untuk semua. Doain gue juga ya…Amien.

AKU HARUS MELEPASKANMU TAHUN INI, NAK...

SOSOK ITU

Saat pertama kali aku bertandang ke dalam ruang itu…
Dia sudah menyita perhatianku
Bukan dalam bentuk kekaguman
Tetapi dalam sebuah perbedaan yang mencolok
Fisiknya, gayanya, tingkahnya, dan kejahilannya yang luar biasa
Kala itu, aku baru saja menapakkan kaki
Mencoba beradaptasi dengan apa pun yang akan aku pelajari dan hadapi
Dan dia yang memiliki pandangan yang seolah-olah menolak aku
Tanpa berkata, tanpa bertanya, hanya menatap dengan tajam
Hampir semua orang kerap mendapat tikaman perilakunya
Kata-katanya sering menghujam
Ekspresi jiwanya yang tinggi menuntutnya untuk menjadi penguasa
Disegani, tanpa perlawanan dari teman seusianya
Laki-laki yang belum dewasa itu kuat sekali
Piawai dalam memainkan peran apa saja dalam berbagai situasi
Sedikit saja aku lengah, ia pandai memanfaatkan itu
Menjengkelkan di satu sisi, sisanya aku berpikir bahwa ia cerdas
Pembuat masalah, pencari sensasi, pengkritisi ulung, dan pemancing amarah
Bukan orang yang bisa dipercaya, licin dan licik dengan seribu cara dan alasan
Label itu terlanjur menjadi bayang-bayang dirinya
Selama bertahun-tahun, terus saja begitu
Apalah artinya sanksi baginya, jika ia berani mengancam kembali
Peringatan yang tidak pernah didengarkan olehnya
Dalam benaknya, aturan yang berlaku hanya aturanku dan bukan aturanmu
Aku harus mengingat lebih banyak untuk bercerita tentang anak itu
Ia berhasil keluar dari masa kelamnya
Entah dengan apa ia tersadar
Mungkin karena perbuatannya sendiri
Semangat berkompetisi dan keberaniannya
Telah mengantarkan setengah jiwanya kembali
Laki-laki yang sulit aku dekati itu
Tiba-tiba datang padaku seorang diri
Keluar dari ruangan dimana semua temannya tinggal
Lantas ia memintaku untuk mendengarkan ceritanya
Kami larut didalamnya…
Dia sudah berkorban untuk menurunkan sedikit egonya
Egonya yang sebesar, setinggi dan sekeras gunung
Belajar menunjukkan perubahan dengan usahanya
Anak itu memilih orang-orang yang juga bisa menerimanya
Ingin dihargai dan dimengerti
Setiap hari kini ia berlomba mengalahkan dirinya
Menyapaku, mengajakku bercanda, setengah mengejekku
Kadang aku lupa bahwa aku pernah disakiti olehnya
Ia berhasil keluar dari dimensi lamanya
Layak menjadi dirinya yang baru
Karena ia luar biasa
Aku melihatnya sendiri, ia berjuang membuktikan
Bahwa aku juga baik, dan aku bisa menjadi orang baik seperti yang kalian inginkan
Prinsipnya sekeras batu karang
Tapi hatinya mudah tersentuh
Itu kunci yang harus kau miliki
Kalau kau bisa memberikannya kepercayaan
Ia akan tumbuh dengan tanggung jawab
Sebab ia bisa diandalkan
Ia akan menjadi pemimpin kelak
Kesetiaannya tidak perlu diragukan
Kekukuhannya sudah ia dapatkan
Sebuah kesempatan layak diberikan untuknya
Sekarang kami tersenyum jika bertemu
Atau dia datang mengadu padaku
Sesekali bahkan mencoba merajuk
Meminta sesuatu dengan merayu
Aku menanggapi dengan caraku
Dia butuh teman berbagi yang lebih dalam
Orang-orang dewasa di sekelilingnya
Yang bisa menjawab kegelisahannya
Dengan jawaban yang berlogika
Bukan larangan tanpa makna
Yang kerap menjadi tanda tanya
Ia mampu melewati masa kritisnya
Sebuah cara yang cantik yang sedang ia mainkan
Pribadi yang unik
Tempat berkaca yang tidak pernah kudapat
Aku pasti akan kehilanganmu
Satu tahun lagi setelah aku menuliskan ini
Aku berharap kau bisa memegang semua yang kau perjuangkan
Dia menyenangkan
Dia hanya perlu waktu untuk mengenal dirinya
Dia butuh cinta yang lebih banyak
Dia bagian dari kesabaran
Dia menjadi kebanggaan tersendiri
Dia mengajariku bukan lewat teori
Andai dia tahu…
Besok aku akan mengatakan:
Tahukah kau?
Dulu aku takut padamu
Aku menahan diri setiap kali aku ingin bicara padamu
Aku memandangmu bagian dari masalah
Aku ingin kau pergi agar keadaan kembali tenang
Lalu aku urung mengatakan itu
Aku senang kau tidak pergi dan kau masih tetap disini
Karena aku sedang belajar untuk mencintaimu








YEAH...

MENCERITAKAN KEPADA TEMAN

Mungkin menurut orang lain aku cukup berani dan pembangkang
Aku tidak berani untuk untuk keluar dari dogma-dogma begitu begitu saja

Lalu mereka mengenal aku sebagai perfeksionis
Aku akan kehilangan sisi itu manakala aku merasa lelah dan sakit kepala

Sebagian orang mengatakan aku pintar
Aku belajar dari apa saja yang aku lihat di dalam hidupku, selebihnya aku standar

Yang lain lagi mengatakan bahwa tulisanku bagus
Aku hanya dititipkan sedikit kemampuan turun temurun dari keluargaku

Ketidaksukaan mereka akan aku yang sering memotong pembicaraan
Aku akan diam jika aku tidak menyukai topiknya, percayalah

Muncul juga istilah gila kerja yang ditujukan padaku
Aku hanya setengah mengiyakan berita mengenai hal itu

Ditempat yang berbeda mereka bilang aku aneh dan tidak jelas
Aku sudah tahu dari dulu, tapi masih banyak orang aneh lainnya di luar sana

Siapa pun senantiasa berkomentar melihat caraku berjalan
Bagaimana jika aku menyebutnya dengan: bagian dari karakter diri

Perempuan lain menganggapku bukan bagian seutuhnya dari kaumnya
Aku hanya mengikuti kakak-kakakku yang tidak bermain boneka dan tidak manja

Kakak-kakakku melihat bahwa aku bukan perempuan biasa
Aku setuju karena dulu kalian semua yang meracuniku untuk menjadi seperti ini

Laki-laki berpikir bahwa aku terlalu sulit untuk dimengerti
Aku yakin ada orang yang mengerti makhluk yang satu ini, paling tidak Tuhanku

Guru-guruku selalu melihat ada sesuatu yang berbeda dariku
Aku berterima kasih karena itu, tidak melulu menilaiku dengan peringkat

Anak-anakku menganggapku menyenangkan
Aku menyadari kadang aku sangat menjengkelkan bagi mereka

Orang tua anak-anakku memberikan kepercayaan padaku
Aku berusaha menjaga apa yang mereka titipkan

Teman-temanku menilaiku lugas, mudah bergaul, dan apa adanya
Aku memang seperti itu, yeah…

Papaku hanya mempunyai satu harapan bahwa aku harus lebih baik darinya
Aku berusaha untuk memenuhi pintanya di masa tuanya

Sementara ibuku selalu memperjuangkan hidupku
Aku ingin membalas semua jasanya

Padahal aku sering melakukan banyak kekeliruan
Menjadikan kebodohan sebagai alasan
Mengumpulkan kemalasan dalam setiap detik aku merasa bosan
Menumpuk pekerjaan hingga menggunung
Berlama-lama di pembaringan sebagai pelarian
Menyuarakan isi hati dengan gegap gempita
Membuang-buang waktu dengan melakukan berbagai hal yang tidak penting
Menceritakan apapun yang orang malas mendengarnya
Memperlihatkan segala bentuk ekspresi dengan jelas dan tiba-tiba meledak
Mencoba sedikit sabar dengan susahnya
Membuat keributan di tengah situasi yang sudah kacau
Memberikan ide baru ditengah kebuntuan
Memperdebatkan kasus yang lucu dengan cara yang tidak kalah lucunya
Mencari yang sudah ada, dan tidak menemukan apa yang seharusnya dicari
Memaksa orang dengan tidak enaknya
Membuat orang lain malu di depan yang lainnya
Tidak bisa berkata tidak
Orang berpikir bahwa aku tau segalanya, itu karena aku sok tau
Membelanjakan sesuatu karena mataku tidak sengaja melihatnya
Setengah percaya diri
Menjauh dari kata fokus dan konsisten
Bertanggung jawab dengan cara yang kadang terlihat bukan pada tempatnya

Berharap menjadi petualang yang bisa menaklukan seisi dunia
Membalikkan keadaan kembali tersenyum
Mudah tersentuh dan mudah menyentuh
Mencoba-coba banyak hal
Enggan menonjol dibandingkan yang lainnya

Seumur hidup tidak pernah bersepeda dan ingin sekali
Menganggap gunung adalah puncak kebahagiaan hidup, terapi akan ketinggian
Diantara deru angin pepohonan hutan
Berpetualang menjadi panggilan hati
Berteman setia dengan komputer, buku, dan gadget
Telepon genggam mati sudah biasa
Menulis, membaca, dan melihat adalah ruang ide yang tidak terbatas
Menyimpan dan merekam berbagai kenangan masa lampau
Pertemanan membuat hidup lebih hidup
Akan ada seseorang yang akan datang menyelamatkan hidupku
Datang dengan caranya yang tidak biasa, aku suka dan aku tidak akan pernah lupa

Menerjemahkan alam visual di atas sebuah kertas merupakan penyiksaan
Dimana pantai, berenang dan bermain air menjadi sesuatu yang menakutkan
Menunggu adalah hal yang paling tidak aku sukai
Tidak pernah bisa melupakan satu tragedi kecil dari tahun ke tahun, mimpi burukku

Merasakan bagaimana sulitnya menjadi orang tua muda bagi anak-anakku
Membiarkan mereka tahu bahwa aku juga tidak sempurna
Menularkan kebaikan dan nilai-nilai bukan dengan gaya dewa
Merelakan waktuku untuk membaca berbagai macam isi kepala
Kepuasan pribadi yang muncul manakala aku berhasil membawa mereka lebih maju
Ada semangat dan gairah baru ketika bersama mereka
Dari mereka aku belajar
Tentang sistem pendidikan yang membebaskan, bukan ukuran-ukuran baku

Hal-hal yang dahulu sering aku lewatkan begitu saja
Merasa bahwa keterlambatan bisa dikejar dengan asa dan cita
Pertemuan dengan orang-orang yang mengantarkanku pada pencerahan
Kebersahajaan pada sandaran kemuliaan
Jiwa-jiwa yang risau dengan kondisi keterpurukan
Berusaha menantang zaman dengan gemilang
Mengantarkan ke gerbang dunia luar
Menatap lintasan garis yang harus dilalui dengan tidak tertunduk

Aku bukanlah orang yang dapat merangkai kata-kata menjadi kalimat indah
Aku tidak puitis, apalagi romantis
Aku memberikan definisi tentang cinta dengan caraku sendiri
Aku tidak mudah mengutarakan apa mauku, asal kalian tahu
Aku suka dengan berbagai macam perkataan bijak, walaupun terkesan klise
Aku berteman dengan masalah yang dapat mendewasakanku sesudahnya
Aku ingin hidupku lebih bermakna untuk orang lain
Aku ingin dikenang dengan tawa ketika aku tiada, tanpa air mata
Aku berpikir bahwa Tuhanku terlalu baik padaku

Aku hanya berusaha mengenal diriku
Katanya, itu akan semakin mendekatkanku kepadaNya
Ya…begitulah aku…



IN THE END

ANDA DAN SAYA

ANDA : Saya yakin Anda sedang mengerjakan sesuatu yang berguna. Saya harap Anda bisa mengerjakannya dengan baik.


SAYA : Saya sangat menghargai rasa simpati Anda terhadap saya. Saya yakin Anda sudah tahu dengan kesepakatan kita berdua, untuk menyudahi cerita lama ini. Kita akan mulai menjalani lembaran yang baru. Membuang segala romantisme yang Anda tawarkan, namun tidak pernah Anda wujudkan.

ANDA : Cinta itu memang terkadang tidak harus memiliki, merasakan kehadirannya pun sudah membuat hidup kita lebih bermakna. Teruslah menyusuri hidup, di sana akan Anda temukan cinta-cinta yang lain.

SAYA : Apa pun yang Anda katakan tentang cinta kepada saya, itu hanyalah kulit luarnya saja karena sesungguhnya cinta adalah rahasia yang tidak terungkapkan. Seperti Anda dan saya yang pada akhirnya berujung pada jalinan cerita yang tidak sempurna. Siapakah gerangan manusia yang bisa menebak dan membongkar rahasia Sang Pencipta?

ANDA : Cinta itu terkadang memang sadis, tapi dibalik kesadisannya ia menyimpan kebaikan yang sangat berarti.

SAYA: Seberapa baikkah saya untuk diri dan hidup Anda?

ANDA: Setiap orang, momen, dan cerita yang ada di dalam kehidupan saya sungguh sangat berarti dan memiliki porsinya masing-masing di hati. Jadi, saya tidak dapat mengatakan siapa, apa, dan peristiwa mana yang paling berkesan, karena semuanya begitu bermakna dalam kehidupan saya.

SAYA : Anda pandai sekali meramu kata-kata agar saya tidak kecewa, dan juga tetap terlihat lembut. Bukankah saya sudah memilih menepi karena tidak juga pasti, bukan lelah menanti, bukan cinta sendiri, apalagi cinta pada bayangan. Dengan demikian, saya tidak akan mengganggu hidup Anda lagi serta merepotkan diri Anda.

ANDA : Ya...walaupun tali itu sudah Anda putuskan, tapi saya yakin masih ada sedikit harapan di sudut hati Anda yang terdalam. Saya mohon maaf jika ada kesalahan yang saya lakukan terhadap Anda. Mudah-mudahan Anda menemukan orang yang baik karena Anda juga orang yang baik. Lain kali mungkin Anda harus lebih berhati-hati dalam mengelola perasaan Anda, jangan terlalu larut dalam menyikapi sebuah rasa.

SAYA: Insya Allah, Anda mengerti hikmah dari semua ini. Bahwasannya perempuan adalah makhluk yang sangat. Anda boleh menebar aroma kebaikan diri Anda kepada siapa saja, pada banyak perempuan dimana saja karena Anda menganggap perempuan adalah makhluk Tuhan yang patut di puji dan di sayangi. Tapi tahukah Anda, di saat yang sama mungkin ada beberapa orang perempuan yang hatinya terluka karena perhatian yang Anda berikan.

ANDA: Saya sangat memahami kegalauan hati Anda saat ini. Saya bukan tipe orang yang seperti Anda pikirkan. Saya merasa saya tidak pernah memberi harapan kepada banyak orang. Saya hanya mengikuti kata hati saya bahwa saya harus berlaku baik kepada siapa pun.

SAYA: Ok, kalau begitu. Berarti selama ini taruhlah saya yang salah mengerti tentang Anda. Lantas bagaimana dengan pikiran-pikiran Anda yang pernah Anda utarakan. Jika Anda tidak menaruh rasa apa-apa kepada saya, seharusnya sebagai laki-laki yang cerdas dan beriman Anda mengakui itu dari awal. Jika Anda ragu untuk menjalin hubungan dengan saya, katakan dengan tegas. Anda terlalu sulit untuk jujur dengan hati Anda sendiri. Bagaimana saya bisa mengorbankan diri saya untuk Anda, jika Anda tidak memperjuangkan hati saya? Bagaimana saya mengenal Anda, jika Anda tidak mengizinkan orang lain untuk menyentuh hati Anda, membiarkannya masuk dan belajar mengerti tentang diri Anda?


ANDA : Anda memang luar biasa. Jangan lupa tuliskan kalimat-kalimat itu di dalam buku yang sedang Anda tulis. Sebagian besar ceritanya tentang saya bukan? Sepertinya saya menjadi sumber inspirasi untuk Anda, mudah-mudahan inspirasi yang baik, sehingga hidup Anda benar-benar menjadi lebih baik, mungkin tanpa harus ada saya disamping Anda.

SAYA : Tenang saja, kisah Anda akan tetap menghiasi lembaran buku saya. Bukan semata-mata karena saya masih mengharapkan Anda, tapi karena saya ingin menunjukkan pada Anda, bahwa saya terlalu tegar untuk meratapi. Saya masih sanggup untuk menyelesaikan cerita tentang Anda, ada atau tanpa Anda disamping saya. Saya akan tetap menyimpannya sebagai kenangan yang tidak luput dari kehilangan. Namun, saya mendapatkan kebahagiaan yang saya sadari kemudian. Kehadiran teman-teman saya di samping saya adalah karunia terbesar dalam hidup saya yang tidak akan pernah bisa untuk disingkirkan dari pikiran saya.

ANDA : Ikhlaskanlah ini, karena apa yang sudah terjadi kelak dapat mendewasakan Anda. Kita masih dapat berteman dan menjaga silaturahmi. Terima kasih atas segala sesuatunya.

SAYA : Kedatangan Anda dalam kehidupan saya bukan sesuatu yang harus saya sesali. Bukan pula sesuatu yang harus saya akhiri dengan emosi. Semoga Anda mendapatkan seorang putri yang dapat mendampingi. Terima kasih atas segala perhatian yang pernah anda beri.

TOP MARKOTOP!!! GEBLEKKK! HUAHAHAHA…

Ini dialog aneh yang gue tulis di sela-sela kerja yang ribet, dan abis itu gue ketawa bocor gitu. Dialog Anda dan Saya ini sebenarnya pengalaman pribadi gue. Ini versi parodinya. Sedikit bocoran: enggak jauh beda dari kejadian aslinya. Bisa menebak situasi yang tengah terjadi antara Anda dan Saya? Hehehe.
Kata-kata yang enggak pernah bisa gue ungkapkan ke Anda akhirnya keluar setelah gue dipancing lewat sebuah pesan singkat di komputer yang dikirim guru bahasa Indo, yang kebetulan tahu apa yang sedang terjadi antara Anda dan gue. Balas-balasan gitu deh, rencananya abis ini mau bikin tulisan bareng bersambung. J
Teman gue itu memerankan Anda, dan gue memerankan Saya. Tiba-tiba di akhir dialog dia teriak kereeeeeeeeennnnnnnnnn! Lantas gue minta pesan-pesan itu untuk di copy ke word, gue bawa pulang, dan gue beri sedikit sentuhan. Tengkyu ya. Eniwei, semoga di ujung sana enggak ada orang yang merasa gondok permanen atas dialog ilegal ini. Hope so!

DEKAT

WHEN A MAN MEET A (MAD) WOMAN

Ada perbedaan mencolok yang harus gue jalani kali ini dengan seorang laki-laki. Kalau dulu melibatkan hati, perasaan yang dalam dan tumpah ruah, sekarang nggak lagi. Mungkin karena memang ceritanya berbeda dengan yang sebelumnya. Laki-laki yang sekarang ini hanya datang di saat-saat tertentu, instan, but, trully exist. Sementara laki-laki yang sebelumnya adalah seseorang yang istimewa, namun semu karena kami tidak pernah bertemu sampai pada akhirnya.


Kelebihan dari keduanya adalah mampu menerima keunikan (sama dengan keanehan) diri gue dengan segala rupa dan bentuknya. Sekaligus mampu melihat warna lain dari diri gue. Gue itu ibarat buah duren. Wangi, mahal, eksotis, populer, tajam diluar, menyayat-nyayat, susah ditebak, dalamnya edun abizzz alias well done, dicari banyak orang, nggak mudah rusak, jangan percaya kemasan, mahal. Narsiskus jijikus. Huahaha…

Udin...Our main topic is, laki-laki yang sekarang menjadi teman gue itu adalah adik kelas gue ketika SMA, eh SMU, terserahlah. Pertama kali ketemu, gue pikir dia orang dari bagian marketing penerbit buku, let say salesman atau dokter dari Puskesmas, mau ada acara vaksinasi polio gratis di sekolah gue sekaligus tebar pesona. Sorry to say that. Ternyata, eh ternyata, oh la la (kafe kale) dia cagur alias calon guru.

At the first time I saw him, asli, nggak cocok banget, nggak ada potongan guru sama sekali. Bayangin, rambutnya jambul, mukanya lumayan (daripada lumanyun), putih, wangi, tinggi, perut rata, pake jam tangan mahal, tas tentengnya juga mahal, kemeja bagus, sepatu bersih. Dirumahnya, pasti bukan dia semua yang mengerjakan, pengecualian satu, cuci sepatu. Huehehe. Setelah kedatangannya, wajarlah kalau tiba-tiba semua orang satu per satu berkomentar, “Lo kenapa nggak jadi pemain sinetron aja?” atau, “Tebak-tebakan hayo, tuh orang tahan berapa lama disini?”. Sampai sekarang dia masih kelihatan batang hidungnya tuh, kuat juga…

Peristiwa apa yang mendekatkan kami? Gue rasa ketika dia bubaran sama pacarnya dan gue berusaha menghiburnya dengan cara (gila) gue. Terus, dia banyak memberikan pandangan ke gue juga soal apa yang biasa cowok pikirkan dan lakukan. Selain itu kesamaan tekanan pekerjaan yang membabi buta. Supporting each other. Itu kalau gue lagi dalam posisi nggak menyebalkan dan bijaksana. Kejombloan kami adalah sebab selanjutnya. Bagi dia, susah jadi jomblo. Baru juga enam bulan jadi jomblo, gue aja yang seperempat abad lewat asyik-asyik aja. Meski sesekali nangis bombay. Menangis adalah karunia. Huekh. Bagi gue, jomblo adalah pilihan, tapi bukan pilihan tetap yang harus dilaksanakan dengan konsisten plus konsekuen loh ya! Nggak lucu juga kalau seumur hidup sendiri melulu. Tapi, kami sangat berbeda karakter dan selera. Borosnya sih sama kayaknya…

Orang ini akan selalu datang ke gue karena banyak hal, sebab hidupnya seperti selalu dirundung masalah, diliputi duka dan terpaan lara yang bertubi-tubi. Nestapa. Waduh, kata-kata dari KBBI. Maaf jika gue harus menggunakan majas hiperbola untuk menggambarkan keruwetan orang ini. Memang kenyataan kok. Orangnya pasti bakal ngamuk-ngamuk. Buktikan dari faktanya dibawah ini, silahkan disimak baik-baik.

Pertama di saat dia kesel setengah mati tapi nggak mau dan nggak bisa marah ke orangnya langsung. Tinggal pencet telpon, tut…tit…tut…tit…dalam waktu kurang dari lima menit, energi marahnya pindah ke gue. Abis itu gantian gue yang kebakar, jelas nggak menghasilkan solusi. Kedua, pada saat ada orang meminjam duitnya dan giliran ditagih pura-pura bego, pasti…(gue juga geto kok!). Kontan gue kasih jurus dept collector, berhasil! Ikuti cara Mbah Nunik agak-agak menyakitkan dengan jaminan uang kembali, atau manis-manis manja tapi tetap tinggal janji. Dalam waktu singkat uang jutaan itu berhasil kembali ke tangannya dari tangan mantan pacarnya yang selingkuh (konon kabarnya begitu). Ketiga, merasa tidak berdaya akibat penugasan yang dia enggan mengerjakannya tanpa pernah bisa berucap AKU TIDAK MAU, padahal dia membencinya (ribet ya?) dan itu bukan kesalahannya. Keempat, manakala dia terlalu pusing memikirkan imej orang tentang dirinya, bawaannya harus selalu oke. Kelima, kalau dia pulang belanja dan beli barang-barang kreditan mahal (sebagian gue yang mengilhami setengahnya lagi karena kebanyakan kartu kredit, itu alat andalannya untuk mengutang, sayangnya kadang itu cuma pajangan). Ampun man!

Keenam, ingat mantan pacarnya yang hampir saja dia nikahi. Ketujuh, menanyakan diikuti dengan langkah menceritakan perkembangan muridnya ke gue. Kedelapan, nggak bisa menyelesaikan konflik pribadinya sendiri bahkan cenderung nggak aware sama konflik kelompok disekelilingnya. Itu yang bikin dia sedikit kelihatan selfish. Mencampuri urusan orang lain bukan tipenya, tapi untuk tahu apa yang sedang terjadi, itu kudu. Kesembilan, I need a girl to be my wife. Mau cari pacar baru sesuai kehendak Tuhan, katanya. NGGAK YAKIN. Kesepuluh, selalu diakhiri dengan pertanyaan yang sama, “Emangnya gue childish banget ya?”. Kalau lo berpikir tentang itu terus, justru lo yang harus balik tanya ke diri lo, “Kapan lo bisa dewasa?”. Sesekali, orang ini jauh lebih dewasa daripada gue!

Soal dewasa, dikalangan laki-laki itu ada dua dikotomi bagaimana cara membedakan antara laki-laki yang sudah dewasa atau belum. Nggak usah susah-susah, dalam bahasa sehari-hari kami lazim menyebut cowok untuk mereka yang masih muda atau belum mapan. Untuk yang sudah matang dan mapan kami biasa menyebutnya dengan pria. Buktinya, lihat aja slogan iklan rokok sama majalah! Pria Punya Selera atau Khusus Pria Dewasa. Mana ada, Khusus Cowok Dewasa? Info lebih lengkapnya browsing aja di internet. Cerdas sedikit dong ah…

Dari pertemanan ini gue banyak pengalaman tentang bagaimana rasanya berjalan dengan laki-laki ganteng (jangan GR lo!) di sebelah gue dari mal ke mal. Jadi, selama ini nggak pernah? Mau jujur? Belum, dan nggak enak, sumpah! Kenapa? Sibuk sama penampilan, terus orang-orang pada sinis gitu ke gue, apalagi mbak-mbak SPG! Hello…itu bukan salah gue, tapi itu rezeki gue. Beban lainnya adalah kasihan si teman gue ini dikira seleranya dibawah standar. Suer, secara fisik, kami ibarat langit cerah dan tanah tandus. Huahaha…

Seimbanglah sama popularitasnya yang beranjak naik karena bisa menaklukan ikon species Harimau Sumatra yang tersisa, mulai langka, hampir punah, dan dilindungi. Maksud lo??? Wadezig!!! Bisa jalan bareng sama perempuan sabar, baik, dan pintar kayak gue yang sedang menyeleksi pasangan hidup. Menaikkan posisi tawar gue di mata para penggemar. Gue ngakak najis, eh abis. Wuakakakakak…

Dunia jomblo yang sedang melingkari hidup kami membuat kami banyak belajar tentang hubungan lebih dari sekedar teman yang lebih baik berteman. Maksudnya? Teori-teori gue yang mencengangkan memukau nalar serta menggoncangkan iman kerap dijadikan sumber acuan yang nggak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sementara praktek ataupun tips dari dia yang berpengalaman nggak bisa dibuktikan karena gue belum punya pacar. Seri!

Kami tidak memiliki, membebaskan, saling mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing. Jikalau orang lain melihatnya berbeda, itu hanya bagian dari resiko pertemanan kami yang seru dan lucu. Hanya teramati bagaimana kami dekat satu sama lain, dibalik itu kami sering berseberangan pendapat, menguras tenaga hanya untuk memperdebatkan sesuatu dengan argumen yang bodoh, dan pada akhirnya kami saling mengungkapkan keburukan masing-masing dengan jujur sebagai senjata pamungkas dengan gaya ironi, satire, hingga sinisme. Bahkan, kami sering mencela (dia belajar dari gue) lucu tapi gila, dengan satu syarat, nggak boleh ada yang sakit hati.

He felt free, seems like a winner when he makes me mad for a while or when I’m getting spechless at that moment. Nggak penting untuk orang lain tahu apa yang kami diskusikan. Saat laki-laki dan perempuan bertemu tidak selalu harus dilandasi dengan jalinan cerita asmara penuh romansa bukan? Kami belajar menjadi dewasa bersama, of course in the right track. Teman adalah tempat belajar. Itu prinsipnya.

Gue merasa sedikit berdosa sama nyokap bokapnya. Maaf ya Om dan Tante misalkan belakangan ini putranya terlihat agak bar-bar dan liar. Tujuannya semata-mata demi kebaikan dirinya. Agar dia lebih kuat dalam menjalani hidup. Mampu menguasai keganasan situasi diluar yang sering hadir di luar ruang kontrolnya. Ini bukan semacam pernyataan membela diri loh jeng. Semoga Om dan Tante juga nggak berasumsi begitu. Hehehe…

Percayalah, setelah selama ini ia bertahan dengan pikiran positif ala dirinya sisi positifnya akan jauh berkembang dan berwarna dari yang kemarin karena ditempa oleh berbagai macam karakter yang tidak biasa ia temui, lebih mudah berkompromi meski kadang tersulut emosi. Satu penyelesaian untuk semua rangkaian persoalannya dan yang harus berusaha dimengerti olehnya adalah bahwa tidak semua orang mampu menerima, tidak semua orang berkeinginan untuk memahami, tidak semua orang dapat menanggapi dan itu sama sekali bukan masalah. Memikirkan bagaimana cara agar orang dapat berbalik sikapnya justru bukan solusi. Memaknai yang mampu menerima, memahami dan menanggapi adalah solusinya. Terasa lebih berarti. Huhuhu. Jadi sedih, halah…bohong banget!

Nah ini, mulai kesambet…Satu hal sih yang menjadi kesalahan terbesarnya saat pertama kali ketemu gue. Mestinya dia buru-buru dzikir yang banyak sambil menoleh ke arah kiblat. Sebagai langkah antisipasi awal. Sayangnya, itu nggak dia lakukan, ya udah…siap-siap aja dengan segala resikonya berteman sama gue.. Hehehe…




REBORN (MY FIRST POSTING NIH!)

REBORN

Seumur hidup saya, menjadi guru tidak pernah terlintas di dalam benak saya untuk saya pilih sebagai bagian dari jalan hidup saya. Mengapa? Karena saya merasa tidak mewakili figur sosok ibu guru ideal dalam diri saya. Jauh dari jangkauan standar sikap dan tingkah laku guru yang harus diteladani jika saya harus membandingkannya dengan ibu guru saya sedari saya SD hingga SMU. Selama masa itu saya mendapati sosok seorang ibu yang utuh dan lengkap sebagai cerminan dari ibu saya di rumah. Pendeknya, mungkin identitas ke-ibu-an saya diragukan. Apalagi menurut saya guru merupakan profesi yang sakral bagi sebagian orang, sarat akan nilai kemuliaan. Guru bukan hanya bertugas sebagai pemberi materi di kelas, tetapi sekaligus sahabat, orang tua, penasihat spiritual dan menempati kursi sutradara atas hidup seseorang.

Saya memanggil murid-murid saya dengan sebutan anak-anak saya, lebih memiliki dan dekat dengan mereka. Dekat tidak hanya dari segi spasial di sekolah atau kelas, yang lebih penting dekat secara psikologis. Tidak terbatas pada ruang dan waktu. Sekarang ini saya dikelilingi remaja kota besar yang sedang tumbuh mencari jati diri dan baru saja akan menelusuri makna hidup di tengah jargon modernisme yang kerap menuntun mereka ke persimpangan. Saya dan teman-teman yang lain berusaha memfasilitasi dan mengarahkan mereka dalam menemukan pilihan dan tujuan yang mereka inginkan dengan bantuan ayah bunda tercinta.

Ayah dan Bunda tercinta, di manapun kalian berada…
Ayah, tinta merah di rapot
Bunda, coretan di dinding tembok kamar
Ayah, komputer di rumah yang rusak
Bunda, makanan yang hangus di dapur
Ayah, kejahilan ini di taman bermain
Bunda, tempat minum yang hilang di sekolah
Ayah dan Bunda, tangisan yang memekakkan telinga kalian
Bukan tanpa arti…


Ayah dan Bunda tercinta, di manapun kalian berada…
Ayah, tinta merah itu disebut pertanda
Bunda, coretan ditembok itu berarti lukisan
Ayah, komputer yang rusak itu percobaan
Bunda, makanan yang hangus itu belajar
Ayah, kejahilan itu menuntut perhatian
Bunda, tempat minum yang hilang itu ketidaksengajaan
Ayah dan Bunda, tangisan itu menyimpulkan sesuatu
Diantara kalian, dalam hidup kalian, untuk melengkapi kesempurnaan

Ayah dan Bunda tercinta, di manapun kalian berada…
Ayah, tinta merah di rapot itu akan berganti dengan prestasi
Bunda, coretan ditembok itu berubah menjadi maha karya
Ayah, komputer yang rusak itu kini sedang dirakit kembali
Bunda, makanan yang hangus itu kelak menjadi menu yang terkenal
Ayah, kejahilan itu dikenang oleh banyak orang
Bunda, tempat minum itu masih sama bentuknya saat ditemukan ibu guru
Ayah dan Bunda, tangisan itu mengantarkan kekuatan
Agar tetap baik, semakin baik, dan lebih baik

Hingga saat ini saya masih belum bisa mempercayai kebenaran, keberuntungan, dan kebahagiaan berada di antara calon pemimpin di masa depan yang dipercayakan oleh orang tua mereka kepada saya yang bukan siapa-siapa. Meskipun pada kenyataannya memang begitu. Saya lebih suka menyebutnya sebagai sebuah peristiwa kecelakaan yang kemudian dari peristiwa itu saya disembuhkan oleh obat yang bernama pendidikan dan anak-anak saya.

Sebagai guru muda, baik dari sisi pengalaman yang masih minim maupun dari sisi usia yang masih perlu untuk dibimbing rasanya luar biasa sekali jika saya tiba-tiba memberikan petuah bijak nan menawan kepada anak-anak saya bahkan kadang kepada para orang tua dengan sangat fasih dan lancar menawarkan semacam saran yang terkadang setelah saya menyadarinya, mengapa saya bisa mengeluarkan untaian kata-kata mutiara seperti itu ya? Mungkin saya sedang kesambet, atau ada bisikan dari alam bawah sadar saya yang kelewat menumpuk dan terakumulasi di satu waktu. Apakah itu hanya terjadi pada diri saya atau teman-teman guru yang lain juga mengalami hal serupa? Entahlah.

Kami mirip konsultan mendadak. Psikolog tanpa gelar yang berlabel amatir. Kami bisa membaca kegelisahan anak dan keresahan orang tua, kemudian menyimpulkannya untuk kami jadikan refleksi dan instrospeksi bagi kami setiap harinya. Kami bertanggung jawab akan itu. Bila tidak, maka kami akan tergilas oleh kotak ajaib yang bernama televisi, jaringan informasi telekomunikasi tanpa batas yang berwujud internet, permainan elektronik yang lebih menarik hati daripada membaca satu lembar buku pelajaran sosiologi tentang hubungan sosial yang semakin merenggang, tidak lupa juga bangunan-bangunan tempat keramaian anak muda yang sangat menggoda dan roda yang terus menerus berputar, orang mengenalnya sebagai perputaran zaman.

Kami hanya menyelipkan akhlak dan iman di hatinya, menaruh rasa optimis di saku bajunya, membekali ilmu di kotak makannya, menumbuhkan perasaan cinta pada setiap waktu mereka bertanya, memberikan kejujuran di kantong celananya, mempersilahkan mereka untuk membuka tempat pensilnya yang berisi kreativitas, kasih sayang, perhatian, pengertian, kepercayaan, hormat, maaf, terima kasih, serta beragam pujian. Dengan itu mereka akan menuliskan persamaan, kebersamaan, kesopanan, keadilan, kemandirian, pantang menyerah, serta semangat untuk selalu lebih baik, dalam sebuah buku, dan menaruhnya dengan rapi di dalam tas yang kami sebut kebahagiaan hidup yang akan mereka bawa ke mana pun mereka pergi menjelajahi alam ini, menebarkan wangi perdamaian dan kecintaan terhadap hijaunya rerumputan dan birunya lautan dengan penuh rasa bangga dan syukur. Rumusan ini hadir begitu saja setiap kali saya teringat anak-anak saya, lalu sepersekian detik berikutnya perasaan saya berubah menjadi sentimentil.

Saya kadang sering merasa tidak enak hati, sok tahu, atau lebih ekstremnya kurang ajar karena berani mengomentari banyak hal yang berkaitan dengan sekolah-guru-orang tua-anak dalam satu garis linear yang saling bersinergi sementara saya belum mendapatkan peran menjadi orang tua yang sebenar-benarnya serta berbicara tanpa dasar teori-teori penguat dibelakangnya. Hanya mencomot dari banyak tempat, mendengarkan sekumpulan orang yang mengkritisi dunia pendidikan, tulisan-tulisan teman sesama guru di dunia maya, motivator dan trainer yang didatangkan untuk menyemangati. Itu pun tidak pernah tuntas, selalu setengah-setengah. Sementara setelah pulang dari sekolah saya justru dinasehati oleh ibu saya karena kamar saya lebih berantakan daripada kamar sebelahnya, kamar kakak laki-laki saya. Malu jika saya mengingatnya kembali.

Terima kasih atas kesempatan terbaik ini. Merasakan pendidikan dari sudut pandang yang lain, dahulu hanya sebatas konsumen apa adanya maka sekarang saya bertukar tempat. Dua puluh tahun yang lalu tepat ketika saya kelas satu SD saya mendapati guru perempuan galak, berkacamata, mandiri, sudah berumur tetapi belum menikah, saat membagikan buku tulis atau hasil ulangan mirip seperti piring terbang dan pernah menyeret saya ke kamar mandi karena pada saat pelajaran mencongak saya tertinggal dan saya menangis. Itu sangat membekas sekali. Ketiga kakak laki-laki saya juga diajar olehnya di kelas satu.

Ternyata sekarang saya berada di tempat yang sama, di waktu yang berbeda. Sama galaknya, berkacamata, dan belum menikah, tetapi yang membuat kami berbeda adalah saya tidak akan melempar buku hingga sampulnya robek, dan saya membiarkan anak-anak saya menangis di dekat saya, di kelas, di kamar mandi karena mereka manusia bukan robot atau suatu ketika saya membiarkan mereka melihat saya menangis. Ada pelajaran dari guru-guru terdahulu.

Guru kelas enam saya yang begitu mengesankan hingga saya dewasa. Guru itu melihat saya dengan kepercayaan dan ia menyadari apa yang ada di dalam diri saya. Dulu, jabatan ketua kelas di SD Negeri lumayan bergengsi. Lima tahun berturut-turut ketua kelas saya selalu laki-laki. Kelas enam giliran saya yang diamanahi menjadi ketua kelas, dan saya bertanya dengan santainya, kenapa Bapak memilih saya? Bapak itu hanya tersenyum. Ia mengerti bahwa saya termasuk murid perempuan yang sulit untuk dijinakkan. Jadi saya yang harus menjinakkan teman-teman saya. Dalam kesempatan yang lain ia juga mendaftarkan saya untuk menjadi peserta lomba menulis dan mengarang. Minat yang tidak pernah dilirik oleh orang tua saya yang awam. Ia masih mengabdikan dirinya di tempat yang sama hingga hari ini. Mengunjunginya, menyalaminya, mencium tangannya adalah sesuatu yang tertunda lama.

Saya biarkan anak-anak saya larut dalam impiannya.Ada yang bermimpi untuk pergi ke Las Vegas. Mencoba-coba menjadi game maker atau hacker. Perayu ulung atau pencinta binatang. Pencinta musik rock sampai hardcore. Trainer junior. Pemain sepakbola kelas dunia. Ahli sejarah sekaligus ahli dinosaurus. Pengkritisi ulung. Penjahit rajutan benang wol. Biarkan mereka menikmati masa remajanya seperti waktu saya duduk di bangku sekolah menengah.
Romantika sejarah itu pasti berulang. Berkembang sesuai zaman dan usianya, menikmati masa muda yang datang hanya sekali, tetapi jangan biarkan masa mudanya hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak yang cemerlang, bantu mereka melewati semua ini dengan menorehkan berbagai kenangan yang penuh senyuman, tanpa banyak kekangan, menumbuhkan nilai-nilai pegangan bagaimana cara menjadi dewasa seharusnya, tanpa salah arti.
Belajar untuk membuat keputusan sendiri, menyelesaikan masalah sendiri, dan mengantarkan mereka untuk memilih dan memilah sesuatu yang terus menerus dalam rona abu-abu di usia mereka, mematangkan konsep benar salah, baik buruk, boleh dan tidak, pada alasan dan ketegasan yang jelas. Selebihnya kita hanya perlu membangun komunikasi yang ringan, memberikan kepercayaan, mencontohkan dengan perilaku, mendukung pikiran brilian mereka yang positif, dan mengawasinya dari jauh. Serta membiasakan mereka untuk selalu mengingat nikmat yang sudah Allah berikan.

Bagaimana ia bisa berkembang, jika ia tidak diperhatikan?
Bagaimana ia bisa berdiri, jika ia tidak dibantu dengan semangat?
Bagaimana ia bisa menunjukkan dirinya, jika ia tidak diberi kepercayaan?

Bagaimana ia bisa berjalan, jika ayah dan bunda tercerabut?
Bagaimana ia bisa tegar, jika setiap hari ia melihat pertikaian?
Bagaimana ia bisa bahagia, jika diselubungi air mata?

Bagaimana ia bisa bebas, jika ia selalu diminta mengikuti keinginan orang lain?
Bagaimana ia bisa terbang, jika sayapnya terikat?
Bagaimana ia bermain, jika dunianya mulai membosankan?

Bagaimana ia terlihat, jika ia kerap disembunyikan karena kekurangannya?
Bagaimana ia bisa percaya diri, jika ia selalu dituding bodoh?
Bagaimana ia bisa bertanya, jika ia tidak didengarkan pada saat berbicara?

Bagaimana ia bisa merenung, jika ia tidak diperkenalkan dengan obat hati?
Bagaimana ia bisa mandiri, jika ia dipertontonkan oleh tumpukan harta?
Bagaimana ia bisa memuji, jika ia selalu disakiti?

Bagaimana ia bisa membedakan benar dan salah, jika ia dituntut sempurna?
Bagaimana ia bisa belajar, jika ia terus diminta mengejar peringkat?
Bagaimana ia bisa menghargai, jika ia dianggap tidak pernah ada?

Pada waktu lainnya saya kerap ikut mengolok-olok guru. Namun kini, saya jadi tahu bagaimana rasanya. Sakit dan kecewa. Sebelumnya saya hanya tertawa bersama teman-teman bermain saya di bangku sekolah. Selanjutnya saya tidak pernah menonton film atau sinetron yang memakai sekolah hanya sebagai sarana popularitas artis ABG dan sarana berpacaran ditambah dengan mengolok-olok sang guru. Kami bukan bahan bualan dan kami tidak ingin direndahkan. Saya juga terperangah ketika ada orang yang mengatakan bahwa guru bukanlah profesi. Sebuah situs forum guru bahkan menegaskan bahwa di dunia ini hanya ada dua profesi: guru dan bukan guru. Bukan pula kami ingin ditinggikan.

Tiga hal yang saya takutkan adalah saat saya harus melepaskan anak-anak saya untuk pergi atau saya yang harus pergi meninggalkan mereka karena sebab tertentu. Kedua, orang tua yang menyerahkan segala sesuatunya kepada guru, apalagi jika cenderung menyalahkan guru. Catatan penting yang harus diluruskan adalah kami dalam posisi sejajar dan memiliki beban serta tanggung jawab yang sama hanya berbeda tempat dan porsi.

Ketiga, bias pendidikan yang terlembagakan dan dipenuhi oleh struktur kadang tidak mementingkan content, hanya kulit luar. Melenceng dari tujuan awalnya. Legitimasi birokrasi mengalahkan sisi edukasi yang diharapkan. Peliknya lagi, orientasi itu kabur dan berlari mengejar kualitas semu, semua dipersiapkan karena tuntutan ekonomi dalam tuntunan bisnis pendidikan yang kian menjamur. Sebuah komodifikasi pendidikan, sekolah hampir mirip seperti restoran atau perumahan. Menyediakan menu, pilihan rasa, paket, tipe bahkan servis yang lama kelamaan hanya bisa diakses sesuai strata sosial ekonomi konsumennya. Mengadaptasi metode-metode mutakhir untuk mendongkrak generasi platinum yang siap menghadapi persaingan global. Kemudian muncul standarisasi yang tidak dapat menggambarkan keberagaman sekaligus ketidakseimbangan yang dapat mengilhami lahirnya kecemburuan sosial baru dalam ranah pendidikan. Mereka yang di atas akan semakin di atas, dan mereka yang di bawah akan tetap berada di bawah. Sulit untuk menembus stratifikasi sosial vertikal. Semoga pikiran skeptis bahwa itu bagian dari hukum alam dapat kita kesampingkan. Ini terkait dengan kompleksitas dunia pendidikan Indonesia yang membutuhkan banyak evaluasi lanjutan, kebijakan revolusioner pengambil keputusan yang menekankan keadilan serta persamaan dan bukan pernyataan dalam bentuk janji seperti selama ini.

Saya seperti sedang berdialog kosong dengan para pejabat. Hingga hari ini, yang dapat saya pahami adalah diluar sana banyak teman-teman guru yang pengabdiannya tidak terukur. Ibarat Ninja Hattori, mereka mendaki gunung, menyeberangi sungai, melintasi hutan, bermodalkan kecintaan yang maha dahsyat. Kehebatan mereka bukan ala kadarnya. Saya lebih sering mengeluh daripada bapak ibu guru yang sudah sepuh berpeluh . Padahal saya baru saja mulai melangkahkan kaki…